Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Tanem: Biar Aku Tak Sekolah, Yang Penting Anakku Bisa Sekolah

22 Oktober 2025 17:00

Tanem: Biar Aku Tak Sekolah, Yang Penting  Anakku Bisa Sekolah

Ngawi–Ini kisah hidup tentang seorang Ibu yang harus berjuang untuk dirinya dan buah hatinya. Sejak sang suami wafat 3 tahun silam, ia mengambil alih peran ayah untuk anak-anaknya, juga sebagai tulang punggung satu-satunya tanpa mengeluh. Namun di balik tubuh yang letih dan wajah yang mulai menua itu, tersimpan tekad besar yang harus diwujudkan: anak-anaknya harus tetap sekolah.

Tanem (48) seorang Ibu tangguh untuk ketiga anaknya. Tinggal di Desa Banjaransari, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi. Ia menjalani hari-hari sebagai buruh tani dan juga membuka warung sembako sederhana di dalam rumah. Tak cukup di situ, tiap sore ia sempatkan untuk berjualan gorengan, berharap ada tambahan rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Penghasilan sebagai buruh tani, pedagang sembako dan berjualan gorengan ia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk biaya pendidikan sang anak. Keuletannya ini didorong oleh ketakutan terbesar dalam hidupnya, yaitu jika anak-anaknya seperti dirinya dulu yang tak pernah mengenyam pendidikan formal.

Ketakutan ini bermula ketika Tanem masih kecil, ia sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara. Dari tujuh bersaudara itu, hanya lima anak yang merupakan laki-laki yang disekolahkan. Sedangkan ia dan saudara perempuannya tidak pernah mencicipi bangku sekolah.

Pengalaman ini pantang ia wariskan pada  anak-anaknya. Meski hidup dalam keterbatasan dan tanpa ditemani suami, Tanem akan upayakan pendidikan untuk putra maupun putrinya—setidaknya sampai lulus pendidikan tingkat menengah.

Perjuangannya yang tiada henti itu berbuah manis bagi anak-anaknya. Putra sulungnya; Ali (23) berhasil menamatkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan bekerja sebagai buruh pabrik produksi plastik di Nganjuk. Lalu anak kedua, Eva Putri (12) kelas 6 SD dan Akmal Latif (10) kelas 4 SD.

Meski terus berusaha untuk mewujudkan masa depan dan mimpi anak-anaknya, Tanem tak pernah melupakan mimpinya sendiri. Jauh di lubuk hati terdalam, Tanem ingin memiliki rumah yang lebih layak untuk dihuni bersama anaknyaHal ini juga didambakan oleh anak-anaknya, terutama si bungsu. Seringkali ia berucap, jika kelak ia dewasa, ia akan membangunkan rumah yang bagus untuk sang Ibu.

Yugo kulo sing alit niku ndungo, nopo terkabul nggih, larene sanjang ‘buk sesok tak gaekno omah sing bagus ya buk, sesok tak gaekno omah sing tingkat’ ngoten (Anak saya yang kecil pernah berdoa, apa mungkin do'a itu terkabul ya, anak itu bilang 'bu, suatu saat nanti akan saya bangunkan rumah yang bagus buat Ibu, rumah tingkat' gitu—Red)”, cerita Tanem menirukan harapan sang anak.

IMG_7679.jpeg (798 KB)
Rumah Tanem, tampak depan.

Siapapun yang melihat rumah Tanem, tak akan ragu bahwa rumahnya sudah sangat tidak layak huni. Dengan dinding keliling rumah yang didominasi oleh bahan papan kayu dan kombinasi anyaman bambu yang mulai miring dan keropos dimakan rayap, rumah itu tak cukup kuat menahan beban kayu-kayu penyangga atap. Tak hanya itu, rumah Tanem masih beralas tanah.

Namun apa daya, sekuat apapun ia menabung, ia tetap harus mengutamakan pendidikan anak-anaknya. Tanem memilih mengubur keinginannya memperbaiki rumah, untuk mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anaknya.

 

DO'A ANAK YANG TERKABUL

Buah dari sabar dan ikhlas yang dilakukan Tanem selama bertahun-tahun lamanya, kini mulai tampak manisnya. Mimpi memiliki rumah layak yang harus terkubur, mulai memancarkan secercah harapan. Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah atau OPSHID Ngawi mengabarkan akan membongkar dan membangun total rumah Tanem dari awal. Gratis, mulai material, pembangunan, hingga perabotnya semua ditanggung oleh OPSHID.

Kedatangan OPSHID bagai rezeki nomplok yang tak pernah Tanem duga sebelumnya. Ketika ia memilih fokus untuk pendidikan anak, Alloh mewujudkan mimpinya yang lain melalui tangan-tangan pemuda Shiddiqiyyah. 

Awalnya, terbersit ketidakpercayaan dalam pikiran Tanem jika rumahnya akan dibongkar dan dibangun total oleh OPSHID. Menurutnya informasi yang ia terima terlalu cepat—mulai proses survei hingga mendapat kabar akan dibangunkan rumah, masih ia cerna. ‘Apa mungkin ada yang mau membangunkan rumah gratis?’, tanyanya dalam hati.

Setelah diyakinkan oleh OPSHID bahwa program ini sudah berjalan sejak lama, dan bukan janji palsu serta menunjukkan beberapa bukti rumah yang dibangun OPSHID, barulah Tanem percaya. 

"Saya bersyukur, terima kasih juga kepada njenengan sudah bangunkan saya rumah. Semoga Alloh yang membalas, diberi rezeki dan kesehatan", tutur Tanem penuh syukur.

Ali, putra sulung Tanem di luar kota tak kuasa menahan air mata ketika saudaranya memberi kabar progres pembangun Rumah Syukur OPSHID, “Waktu saudaranya telfon buat ngasih tahu update pembangunan rumah, sampai nangis anak pertamanya bu Tanem”, ungkap Umamah perwakilan DPD OPSHID Ngawi.

IMG_1116.jpeg (325 KB)
Progres pembangunan rumah Tanem

Pembangunan rumah Tanem kini memasuki tahap finishingterhitung sejak peletakan batu syukur (batu pertama—red) pada 20 September 2025. OPSHID berkomitmen akan menyelesaikan pembangunan sebelum hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2025 mendatang

Semoga, Rumah Syukur dari OPSHID untuk Tanem dan anak-anaknya bisa menjadi tempat berlindung, tumbuh bersama dan membawa keberkahan bagi keluarga Tanem. (OPSHID Media)

Penulis: Nuraida

Editor: Sa’adatush S.