ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Mbah Slamet: Shiddiqiyyah Wujudkan Cita-Cita Almarhumah Istriku
12 Juli 2024 14:26

GUNUNG KIDUL - 79 tahun Bangsa Indonesia merdeka namun banyak rakyatnya yang masih bergulat dengan berbagai kekhawatiran akan nasib hidup keluarganya. Seperti yang dialami Mbah Slamet, salah satu penerima Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) di Gunung Kidul.
Slamet Setiyoko, kerap disapa Mbah Slamet, seorang kakek berusia 86 tahun. Tinggal di Sambirejo, Watusigar, Kec. Ngawen, Kab. Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di usia senjanya, beliau harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Bahkan, hunian yang beliau tempati sangat jauh dari kata layak untuk ditinggali.

Rumah kayu itu dihuni oleh tujuh anggota keluarga, terdiri dari Mbah Slamet, anak kedua; Sulistiani (39), anak ketiga; Wisnu Asmoro (30) beserta istrinya, dan ketiga cucunya; Marlina (15), Abi (11), serta Dewi (5). Anak pertama Mbah Slamet, Sumiati (40) baru saja menikah dan tinggal di Cirebon. Sedangkan Mbah Lasmi, istri mbah Slamet belum lama ini menghembuskan napas terakhir akibat kanker payudara yang dideritanya 3 tahun belakangan ini. “Disuruh operasi tidak mau, tidak berani. Akhirnya saya merawatnya sendiri,” terang Mbah Slamet, kembali mengingat masa itu.
Sulistiani, anak kedua Mbah Slamer berstatus janda setelah kematian suaminya sebab penyakit komplikasi. Akibatnya, Sulistiani terbatas untuk beraktivitas di luar rumah, ia fokus merawat ketiga anaknya, sekaligus mengurus tugas rumah tangga. Sementara Mbah Slamet berusaha menjadi penopang utama dalam keluarga. ”Sebenarnya saya ingin bekerja, tapi nanti tidak ada yang merawat mereka (anak-anak)”, ucap cemas Sulistiani.
Begitupun dengan anak ketiga Mbah Slamet, Wisnu Asmoro sampai saat ini belum mendapatkan pekerjaan tetap, sehingga penghasilannya sangat terbatas. Sulistiani menjelaskan situasi pekerjaan yang dijalani adiknya, "Pekerjaan adik itu serabutan, kadang di bengkel, jasa kirim paket, juga ikut orang lain di kandang ayam. Kalau sedang tidak ada pekerjaan, dia hanya di rumah saja”.
Melihat keadaan tersebut, Mbah Slamet berupaya menjalankan berbagai pekerjaan agar pemasukan sehari-hari dapat tercukupi. Sejak tahun 2017, Mbah Slamet bekerja sebagai juru kunci makam. Menurut cerita beliau, hal ini bermula ketika Mbah Slamet ditawari oleh Pamong Desa bagian keamanan untuk mengurus makam, sebab tidak ada warga lain yang mau melakukannya. Meski kerutan wajahnya tak bisa memungkiri usia dan perjuangan panjang beliau selama ini, mbah Selamat tetap semangat bekerja, “Saya yang bertanggung jawab mencari nafkah untuk keluarga", tegasnya.
Sebagai juru kunci makam, Mbah Slamet memperoleh pendapatan sekitar 4 juta per-tahun. Ketika menjelang hari raya Idul Fitri tiba, beliau seringkali mendapatkan upah dari warga yang tengah berziarah.
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan