Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Ahmad Yani: Dulu Rumah Saya Jelek Sendiri, Sekarang Kelihatan Bagus Sendiri

18 Oktober 2024 10:00

Ahmad Yani: Dulu Rumah Saya Jelek Sendiri, Sekarang Kelihatan Bagus Sendiri

BANYUWANGI – Dengan kondisi rumah yang semakin rapuh dan tak punya cukup dana untuk memperbaiki, Ahmad Yani (48) berjuang memperbaikinya meski dengan bahan seadanya; bata bekas, tanah liat dan pasir yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Meski demikian, paling tidak rumah tersebut lebih bagus dari sebelumnya.

Ahmad tidak memiliki pekerjaan tetap, penghasilan dari kerja serabutan itu pun tak seberapa, menjadi ujian tersendiri baginya untuk mencukupi kebutuhan istri dan kelima anaknya. Ahmad tinggal di Desa Blambangan, Kec. Muncar, Kab. Banyuwangi. 

BERBEKAL TEKAD UNTUK RUMAH YANG LAYAK

Ahmad mulai memperbaiki rumahnya sedikit demi sedikit sejak tahun 2007, ketika ia dapati rumahnya tidak lagi kokoh dan tampak akan roboh. Merasa akan segera ambruk, beliau putuskan untuk membenahinya dengan semampu yang ia bisa. Dengan sisa-sisa bata dari bekas bangunan, lalu menggunakan tanah liat sebagai ganti dari semen, juga pasir dari sungai yang dia ambil sendiri.

“Bahannya itu cuma-cuma, semennya dari tanah campur pasir. Batanya dari bekas-bekas bangunan orang yang dibongkar. Kalau pasir cari di sungai,” Ucap Ahmad Yani.

Perharinya beliau hanya mampu menghasilkan Rp85.000, itupun jika ada pekerjaan yang datang. Keterbatasan dana yang menghimpit, memaksanya menggunakan material sederhana pada perbaikan rumahnya. Ditemani istrinya Indriyana (45), perlahan rumah yang mereka tinggali bisa sedikit lebih baik dan lebih kokoh. Walaupun nyatanya tempat yang mereka tinggali belum sepenuhnya layak untuk dihuni.

photo_2024-10-16_18-54-04.webp (187 KB)

Tampak Rumah Ahmad Yani 

Pada suatu hari, keluarga Ahmad Yani menerima tawaran bantuan dari pemerintah daerah, cukup besar dengan nominal 10 juta rupiah. Namun sayangnya, bantuan yang harusnya bisa diterima dengan baik itu, harus terpotong biaya pajak sebesar 10% dan sudah dalam bentuk material.

Mengetahui hal itu, Ahmad Yani memutuskan untuk menolak bantuan tersebut. Disamping pemotongan pajak yang terjadi, beliau juga tidak mempunyai biaya tambahan jikalau harus membayar para pekerja bangunan.

Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, rumah tersebut tidak lagi memiliki listrik untuk membantu dalam penerangan atau hal lainnya. Sempat membayar Rp1.000.000 ke pihak PLN, tetapi tak kunjung mendapat pasokan listrik dari pihak sana. “Dulu pernah DP satu juta– sudah lama 10 tahun, tetapi hangus,” ujar Ahmad Yani dan Indriyana.

Hingga akhirnya salah satu dari tetangganya, membantu dengan menyediakan listrik di rumah pak Yani. Meskiun begitu, bantuan tersebut hanya cukup untuk menerangi kamar tidur serta ruang tamu saja. ”Dikasih meteran sama cino (panggilan untuk tetangganya),” lanjut Ahmad Yani.

Tak hanya kurang penerangan di kala malam datang, saat membersihkan diri pun keluarga Ahmad harus pergi ke sungai, sebab tidak adanya kamar mandi di dalam rumah. Bila waktu musim hujan tiba, bertambahlah kesulitan yang dialami keluarga Ahmad.

Penulis: Mohamad Subiantoro

Editor: Nuraida