Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Mbah Slamet: Shiddiqiyyah Wujudkan Cita-Cita Almarhumah Istriku

12 Juli 2024 14:26

Mbah Slamet: Shiddiqiyyah Wujudkan Cita-Cita Almarhumah Istriku

Tidak hanya sebagai juru kunci makam, Mbah Slamet juga mengkais rupiah sebagai pengrajin lambang negara Burung Garuda, keahlian ini telah beliau miliki sejak dulu. Di usianya sekarang, butuh waktu 1 minggu untuk pembuatannya, “Sampai sekarang masih ada yang pesan. Harganya sekitar 250 hingga 400. Tapi kalau pemesannya saya kenal, ndue duek piro gowo kene, gae tuku cat wae (punya uang berapapun dibawa saja, hanya untuk beli cat)”. Bagaimanapun kondisinya, selagi mampu, pasti akan Mbah Slamet maksimalkan untuk bekerja. Tak jarang Beliau menerima tawaran sebagai tukang kayu apabila dibutuhkan. 

Mbah Slamet tinggal di bangunan hanya berbahan dasar kayu dan anyaman bambu. Saat beristirahat, keluarga mereka hanya menggunakan ruangan seadanya. ”Nggeh biasa omah deso, omah kayu ngoten niku (Iya biasa rumah desa jaman dulu, rumah kayu begitu). Di sini tempatnya morotuo, saya menempati ingkang mertua saya itu sejak 1991. (Saya menempati tinggalan mertua). Kamarnya ya disekat-sekat. Kalau saya yang sudah tua, tidur semaunya (di mana) saja," ucap simbah.

Rumah Kayu yang sudah berdiri puluhan tahun tersebut, kini mulai rapuh dan kurang berfungsi dengan baik sebagai tempat perlindungan yang aman. Bahkan nyaris roboh. Beruntung warga sekitar berbaik hati untuk membantu perbaikan, namun perbaikan tersebut hanya sebatas rehabilitasi sementara. Menurut Bapak Asmana, selaku Ketua DHIBRA Gunung Kidul, “Rumah ini memang sudah reyot, tapi tidak ada dana untuk memperbaiki”.

survey pak slamet.webp (1.17 MB)

Atas Berkat Rochmat Alloh Yang Maha Kuasa, pada Jum’at (10/05/2024), bersama jiwa-jiwa OPSHID FKYME dan warga Shiddiqiyyah setempat serta tim survey mendatangi rumah Mbah Slamet untuk menyampaikan hak beliau sebagai penerima Rumah Syukur dalam rangka mensyukuri nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI ke-79. Kedatangan ini memberikan kebahagiaan yang tak pernah disangka-sangka oleh keluarga Mbah Slamet, “Bersyukur, mboten nyongko ajenge angsal, yo kaget nggean (tidak menyangka kalau akan dapat, kaget juga)”, ungkap Sulistiani.

“Mboten kenyono-nyono. Kulo nggeh pokoke nderek, manut, terserah, monggo ajeng e pripun mawon monggo. Kados wonten pemberitahuanipun, namung kulo kados ngeten nggeh kulo manfaatken (Saya Tidak menyangka. Saya ya pokoknya ikut saja, terserah, silahkan maunya bagaimana, silahkan. Saat ada pemberitahuan kepada saya yang seperti ini, ya saya nikmati saja manfaatnya- Red)", ucap Mbah Slamet dengan mata berbinar dan senyum hangatnya.

Memiliki hunian yang nyaman adalah dambaan bagi Mbah Slamet dan Almh. Mbah Lasmi sejak lama. Namun, faktor ekonomi seakan memupuskan harapan mereka. Hingga waktu kepergiannya tiba, keinginan Almh. Mbah Lasmi belum sempat terwujudkan. “Nggeh pancen ngoten cita-cita kulo. Mbok wedok niku nggeh sanjang "pak, kapan aku nduwe omah koyok tonggo-tonggone" ngantek meninggal niku dereng nganti nduwe omah. Jane wiwit taun 96 lho kulo ditaruh mawon, nanging mboten enten artone. (memang itu cita-cita saya, dulu istri saya itu sering bilang, pak kapan aku punya rumah seperti tetangga yang lain. Sampai meninggalnya belum tercapai keinginannya untuk punya rumah. Sejak tahun 96 bilang gitu, saya ditagih terus, tapi tidak ada uangnya”, cerita Pak Slamet seraya mengenang cita-cita bersama sang istri.  

Kedatangan warga Shiddiqiyyah merupakan rezeki atas jawaban dari mimpi yang dialami Mbah Slamet. Awalnya, mimpi tersebut hanya menandakan bahwa tak lama lagi ada sesuatu yang terjadi dalam hidup Mbah Slamet, ”Sakdurung e kulo nompo kerawuhan poro-poro niki, niku kulo ngimpi mbok kulo ingkang mati, bojo kulo niku: ‘pak ojo kuatir, ora suwe’. 4 dino iku ketekan kerawuhan sedulur ditawari niku, kulo seneng, terus kulo menserahke”, ungkap Mbah Slamet.

(Sebelum saya menerima kedatangan para tamu ini, saya mimpi bertemu istri saya yang sudah wafat, dia bilang, "Pak jangan khawatir, tidak lama lagi". Nah, 4 hari setelah itu ditawarkan rumah ini. Saya senang, kemudian saya mempasrahkan semuanya).

Mbah Slamet merasa tenang, kelak anak serta cucunya bisa menempati rumah yang aman. Setidaknya, kekhawatiran dan kesulitan yang dialaminya selama ini telah teratasi.“Yo marem banget, lego rasane. Keturutan nggoni omah, sok mben ndamel dinggoni anak putu. (Ya puas banget, lega rasanya, keturutan punya rumah, besok dapat ditempati untuk anak cucu)". 

Dengan penuh rasa syukur dan bahagia, keluarga Mbah Slamet turut mendoakan kelestarian program Shiddiqiyyah. “Nggeh mugi-mugi ingkang berkah ya mas, iso lestari. (semoga bisa berkah dan Lestari). Bisa terus bantu dan memberi amal kebaikan bagi yang lain”, ucap Sulistiani.

“Terima kasih yang tanpa umpama, rejeki agung nomplok nok kene (rezeki agung berkumpul di sini). Berduyun-duyun membikinkan rumah saya. Seneng e wes ora madhang paribasane wareg, soko seneng e. Due omah apik, seko sedulur-dulurku kabeh sing podo kagungan partisipasi membangunkan rumah kepada saya sekeluarga, semoga besar manfaatnya (Senangnya itu seperti tidak perlu makan tapi sudah kenyang, karena sangat senangnya. Punya rumah bagus dari saudara semua yang berpartisipasi- Red)”, tutur Mbah Slamet penuh rasa syukur. 

Rumah Syukur yang diterima Mbah Slamet mengandung harapan besar untuk mengalirnya kebahagiaan baru. Kelak, rumah inilah yang bisa beliau wariskan sebagai hunian nyaman bagi anak cucunya. Serta, beliau bisa menikmati masa tuanya dengan penuh kehangatan dan ketenangan bersama keluarga tercintanya. Sesuai doa yang terselip dalam namanya, semoga kehidupan Mbah Slamet senantiasa dalam keselamatan dunia dan akhirat. (OPSHID MEDIA) 

Penulis: Jauharotun Naaja

Editor: Nuraida