Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kariman: Rumah Kayu Rawan Terdampak Banjir, Shiddiqiyyah Bangunkan Rumah Panggung

06 Agustus 2024 20:35

Kariman: Rumah Kayu Rawan Terdampak Banjir, Shiddiqiyyah Bangunkan Rumah Panggung

Palembang - Di antara 128 unit Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) tahun ini, terdapat satu rumah di Palembang dengan design dan konstruksi yang berbeda, yang justru memunculkan tantangan tersendiri bagi warga Shiddiqiyyah ketika proses pembangunan. Rumah ini ditujukan untuk keluarga Pak Kariman, pemilik hunian yang rentan terdampak bencana. Selain itu, kurangnya ekonomi juga mempengaruhi kehidupan sehari-harinya.

Terletak di Ds. 20 Ilir II, Kec. Kemuning, Kab. Palembang, tinggalah Pak Kariman (75) bersama istrinya, Supawati dan anaknya, Ridwan (40). Beliau memiliki 3 anak, namun 2 diantaranya, Ribowo dan Ruhani telah berkeluarga. Ridwan menjadi tulang punggung keluarga, menghidupi orang tuanya, karena ia adalah satu-satunya anak yang masih lajang.

Selain faktor usia, Pak Kariman dan istri mengalamai kesulitan berjalan karena masalah kesehatan. Pak Kariman menderita asam urat salama tiga bulan terakhir, sementara istrinya mengalami pengapuran tulang kaki sejak lima tahun lamanya, "Saya sudah pernah pengobatan. Istri saya juga sudah periksa ke dokter. Gak tau penyebab awalnya, tiba-tiba sudah begitu. Hanya bisa berjalan pelan-pelan", terang Pak Kariman.

Saat kakinya masih sehat, Pak Kariman bekerja sebagai buruh bangunan harian. Kini, pekerjaan itu dilakukan oleh Ridwan sebagai sumber utama pendapatan untuk kehidupan orang tuanya. Penghasilan yang pas-pas an, membuat mereka harus membatasi pengeluarannya, "Kerjanya di bangunan, kadang ada, kadang nggak ada. Ya buruh harian, gajinya mingguan. Kalo pas nggak kerja ya masih ada dikit-dikit, jadi uangnya tidak langsung dihabiskan", ucap Pak Kariman penuh ketabahan.

Karena pekerjaan yang tidak tetap, ketika uang menipis, Ridwan harus mencari pekerjaan serabutan lainnya, "Pas golek ya pas entek (saat mencari, ya saat habis)", ujar Ridwan.

Sejak dulu, rumah yang ditinggali Pak Kariman hanya berbahan dasar papan kayu, yang kini sudah mulai keropos. "Rumah terbuat dari papan lama, sudah keropos, lapuk semuanya. Hujan dikit, bagian depan rumah langsung banjir", ujar Pak Kariman.

before Rumah Syukur Palembang.webp (725 KB)

Sampai suatu ketika, beliau dipertemukan dengan organisasi di lingkungan Shiddiqiyyah yaitu DHIBRA dan OPSHID FKYME dibantu oleh warga Shiddiqiyyah setempat, "Kami awalnya melakukan survei secara diam-diam, bertanya tempat memancing kepada Pak Kariman, serta membawa alat pancing. Dan melihat rumahnya secara langsung, serta bertanya lebih dalam tentang kodisi beliau," jelas Ahmad Nurcahyono dari OPSHID Palembang.

Sebuah cara untuk menemukan penerima agar tepat sasaran, "Kami survey untuk memastikan, agar tidak ketahuan kalau akan dibangunkan rumah. Takutnya, warga yang disurvey terlalu berharap. Sedangkan biasanya kita survey di 2-3 titik rumah, cari mana yang benar membutuhkan", jelas Nurcahyono.

Setelah musyawarah dan menghasilkan kesepakatan, kembali dari OPSHID mendatangi rumah Pak Kariman untuk menyampaikan haknya sebagai penerima Rumah Syukur tahun ini. Dengan penuh rasa syukur dan tidak ada dalam bayangannya bahwa akan dibangunkan rumah tanpa dipungut uang sepeserpun adalah rezeqi agung yang pak Kariman sekeluarga dapatkan, "Tau-tau didatangi lagi, ternyata mau dibangunin rumah. Senang sekali, bersyukur dikasih rumah. Karena sudah tua, agak jauhlah punya cita-cita gitu, pekerjaannya juga tidak layak, Nah ini dibangunkan Rumah Syukur, Alchamdulillah sekali", ucap bahagia Pak Kariman.

"Rasanya seperti mimpi, gak nyangka, di luar harapan sekali, sangat bersyukur", tambah  Ridwan mengungkapkan rasa syukurnya. 

Penulis: Jauharotun Naaja

Editor: Nuraida