ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sumardi: Dulu Diminta Bayar, Kini Diberi Rumah Tanpa Syarat
17 Juli 2025 15:00

Rendahnya ekonomi tidak hanya melahirkan kesedihan tapi juga ketakutan, dan ini mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan atau resiko.
Keluarga Sumardi tinggal dalam rumah warisan, pemberian dari orang tua sang istri sampai kini ditinggali anak cucunya. Meski tampak baik-baik saja, kenyataannya, rumah itu begitu kacau dari dalam.
Kekurangan Menimbulkan Ketakutan
Sumardi (55) menempati rumahnya bersama dengan istrinya, Sopiah, kedua anaknya, menantu dan cucunya. Berlokasi di RT.001 / RW.001, Desa Sukamaju, Kec. Cikakak, Kab. Sukabumi, Jawa Barat
"Dalamnya jelek, rumahnya udah mau roboh," keterangan Sumardi akan tampilan rumahnya.
Berdindingkan anyaman bambu dan kayu untuk menopang atapnya, tentu dapat digambarkan seberapa rapuh ketahanan bangunan itu. Meski berlantaikan keramik dan sedikit pondasi batu bata semen, tak akan cukup untuk membantu mempertahankannya. Terlebih dengan banyak lubang di sana-sini, atap yang tak lagi utuh menambah resiko ketika menghadapi cuaca ekstrim.
"Atapnya bocor kalau hujan, mau dibenerin ke atas takut roboh," ujar Sumardi dengan nada cemas saat menceritakan kondisi rumah yang ia tempati.
Ketakutan Sumardi untuk sekedar membenahi bagian atap rumahnya tak lepas dari kondisi perekonomiannya yang sangat lemah.
Pemasukan Sumardi berasal dari pekerjaan sebagai kuli panggilan. Ia biasa mengangkut hasil kebun seperti cengkeh, bambu, dan sejenisnya. Ketika ditanya apakah ada pekerjaan sampingan lain, Sumardi hanya tersenyum kecil.
"Saya kalau ada yang nyuruh kerja ya kerja. Kalau nggak ada panggilan ya nganggur", jelas Sumardi.
Kesulitan mendapatkan pekerjaan bukan hanya dialami Sumardi. Hingga hari ini, lapangan kerja menjadi hal yang sulit didapat, bukan hanya oleh kalangan tua, tetapi juga oleh kaum muda. Menantu Sumardi pun mengalami nasib serupa, hanya menjadi kuli panggilan.
Tak ada pilihan selain bertahan dengan keadaan, meski itu berarti bertumpu pada pekerjaan serabutan yang datang tak menentu. Sementara kebutuhan semakin tinggi, apalagi dengan kondisi Ibu Sopiah yang mengalami stroke ringan.
Untungnya, beberapa waktu lalu Sumardi sempat menerima bantuan dari pemerintah untuk meringankan beban hidupnya. Namun sayangnya, bantuan tersebut disertai persyaratan yang tidak mungkin sekali dipenuhi oleh Sumardi dan keluarganya.
"Dulu ada bantuan dari pemerintah, tapi harus nambahin uang 45 juta, nanti rumahnya baru dirobohin. Kata saya, uang segitu darimana? Buat makan geh susah. Sudah, jangan ah biarin, masih nyenyak-nyenyak tidur", tegas Sumardi menceritakan.
Disamping hidup yang serba terbatas, Sumardi tetap bersedia mengemban tanggung jawab sosial sebagai Ketua RT di lingkungannya, sebuah peran yang tak ia anggap sebagai pekerjaan, melainkan amanah dari warga yang dijalani.
Warga mengenal Sumardi sebagai sosok yang aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka juga senang atas adanya bantuan ini, apalagi melihat kondisi Sumardi yang memang layak dibantu.
Namun tak sedikit pula yang mengira, bantuan tersebut diperoleh karena Sumardi menduduki posisi sebagai Ketua RT, seolah hasil pengajuan.
OPSHID turut membantu merespon dengan menjelaskan secara detail kepada warga setempat. Dengan begitu, masyarakat juga bisa lebih terbuka terhadap kegiatan Rumah Pintar Shiddiqiyyah (RPS).
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon