ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sumari: Rumah Diikat Ke Pohon, Karena Takut Roboh Terkena Lindu
20 Oktober 2023 17:00

KEDIRI - Rumah memiliki peran utama sebagai tempat berlindung dari berbagai macam potensi marabahaya. Hal ini menjadi kebutuhan dasar untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera. Tetapi justru, rumah yang seharusnya melindungi, malah dilindungi oleh pemiliknya. Seperti yang dilakukan oleh Pak Sumari.
Sumari (39), seorang kepala keluarga. Anak ke dua dari 5 bersaudara yang rata-rata bekerja sebagai buruh tani. Beliau tinggal bersama istri Ika Darwati (35), dan sudah dikaruniai 2 anak, yakni Davin Maulana (17) dan Siti Aisyah (10).
Sejak menikah di tahun 2005, Pak Sumari dan istrinya belum sempat memiliki rumah. Akhirnya mereka tinggal bersama mertuanya di Dusun Purwodadi, Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar, Kediri. Dengan niat baik supaya keluarga Pak Sumari bisa tinggal secara mandiri dan tertata hidupnya, mertua mereka memberikan dapur tidak terpakai yang terbuat dari gedek.
Diterimanya dapur tersebut, sebagai awalan rumah pribadi Pak Sumari. Dipindahnya dapur tersebut sejauh 15m, lalu ditambahkan beberapa material bambu, untuk dijadikan rumah seadanya dari gedek. Prioritas utamanya saat itu, adanya tempat tinggal untuk keluarga.
Menempati rumah yang kurang layak tersebut serta tanggung jawab menghidupi keluarga, mendorong Pak Sumari untuk bekerja keras. Namun, beliau memiliki keterbatasan dalam mencari pekerjaan. Pak Sumari tidak tamat sekolah dasar, sehingga beliau tidak bisa membaca dan menulis. Meskipun begitu, tidak sedikitpun mematahkan semangat Pak Sumari.
Beliau memiliki tekad yang kuat dalam menafkahi keluarganya, bahkan rela meninggalkan anak dan istrinya untuk merantau ke Sumatra. Disana, beliau menemukan pekerjaan di proyek perkayuan. Selain itu, disana Pak Sumari juga membuka layanan pijat panggilan. Bekerja di kota yang belum pernah dikunjunginya itu, membuat beliau harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Seperti itulah besarnya perjuangan beliau dalam mencari penghasilan.
Namun sayangnya, perjuangan Pak Sumari di proyek perkayuan ini, ternyata tidak membuahkan hasil. Pak Sumari menjadi korban penipuan dan tidak menerima uang sepeserpun. Mandor yang seharusnya memberikan upah gaji kepada para tukangnya, kabur begitu saja.
Hanya bertahan selama 8 bulan Pak Sumari merantau, meski dengan membawa rasa kekecewaan karena hasil yang didapatkan tidak seimbang dengan tenaga yang dikeluarkan. Pak Sumari pulang ke kampung halamannya dengan sisa uang yang dimilikinya. Sesampainya di rumah, Pak Sumari melanjutkan layanan pijat panggilannya. Ditambah dengan penghasilan dari istrinya sebagai buruh tani, mereka mampu untuk membesarkan anaknya.
“Kalau pijat, tidak mesti dalam sehari ada panggilan. Terkadang ada panggilan 3 sampai 4 orang dalam sehari. Tidak menetapkan harga setiap orangnya, terserah mau ngasih berapa. Biasanya 30.000-50.000 perorang, itupun uangnya langsung dipakai belanja kebutuhan. Saya juga kalau mau kerumah pelanggan biasanya pinjam motornya adik”, ujar Pak Sumari.
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon