Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Rumeji: Terlilit Hutang Demi Bertahan Hidup

23 Oktober 2024 19:00

Rumeji: Terlilit Hutang Demi Bertahan Hidup

PATI – Setelah bertahun-tahun berjuang tanpa henti, Rumeji tak pernah menyangka impiannya untuk memiliki rumah yang layak akhirnya terwujud. Seorang ibu berusia 57 tahun yang ditinggalkan suaminya lebih dari dua dekade ini harus bertahan hidup dengan segala keterbatasan.

Kini, berkat bantuan dari OPSHID Pati, harapan baru mulai muncul. Rumah yang selama ini ia dambakan tak lagi hanya ada di angan.

Perjuangan Rumeji dimulai ketika suaminya pamit bekerja ke Kalimantan ketika anak keduanya, Siti Romandona (Dona) berusia tiga bulan. Sejak saat itu, suaminya tak pernah kembali.

BERTAHAN DALAM KONDISI TERBATAS

Hidup Rumeji pun berubah menjadi perjuangan yang keras untuk mencukupi kebutuhan kedua anaknya, Selawati (29) dan Dona (20). Pekerjaan serabutan, dari menjadi pembantu rumah tangga hingga berjualan kerupuk dijalani dengan tabah demi mempertahankan hidup mereka.

Nggeh montang-manting madosi duek, (Ya pontang-panting mencari uang) ” kenang Rumeji dengan nada pasrah.

Sejak setahun terkahir, Rumeji berjualan mie ayam dan pentol bakso tak jauh dari rumahnya, dari jam 10 pagi hingga 7 malam. Namun seringkali hasil yang ia peroleh hanya cukup untuk bertahan agar tidak gulung tikar, tak lebih dari itu. Jika dagangannya ramai, Rumeji bisa meraup hasil 300-400 ribu rupiah, bila sepi maka hanya dapat 35 ribu saja. Disamping itu, Dona juga bekerja di tempat kerajinan kuningan, dengan upah 50 ribu setiap kerja.

“Kalau ada uang ya saya bayar, kalau tidak ada ya ndelek(sembunyi)”, ungkapnya. Untuk menutupi biaya hidup yang tidak mencukupi, terpaksa Rumeji berhutang ke rentenir bank, menjadi faktor makin sulit kehidupannya.

Rumeji tinggal di Ds. Bakaran Kulon, Kec. Juwana, Kab. Pati. Tinggal di dalam rumah yang sudah lebih dari 20 tahun, ukuran rumah 4 m x 9,5 m dengan dinding rumah yang telah rapuh.

Rumeji terkadang merasa malu ketika berkumpul dengan tetangga. Kesenjangan ekonomi mempengaruhi pandangan Rumeji sendiri. Rumahnya bocor, tua, dan jauh dari kata layak, "Nggeh kepikiran bangun rumah, cuma nggeh pakai apa," katanya. Meski begitu, tak pernah ada bantuan pemerintah untuk rumah yang tak lagi layak tersebut, bahkan sekecil bantuan listrik pun tak ada.

Penulis: Mohamad Subiantoro

Editor: Nuraida