ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sumari: Rumah Diikat Ke Pohon, Karena Takut Roboh Terkena Lindu
20 Oktober 2023 17:00

Pada tahun 2015, karena kekurang-harmonisan keluarga Pak Sumari dengan keluarga mertuanya, yang saat itu merupakan tetangganya, Pak Sumari pindah ke rumah orang tuanya.
Orang tua Pak Sumari yaitu Bapak Sumadi dan Ibu Sumarmi, tentu tidak tega melihat putra keduanya itu berpindah-pindah rumah. Sampai pada akhirnya, orang tua Pak Sumari mewaqofkan tanah di belakang rumahnya dengan ukuran 4x9 M, supaya Pak Sumari bisa menetap dan hidup nyaman bersama keluarga kecilnya.
Setelah tanah itu menjadi milik Pak Sumari, Pak Sumari mengumpulkan anyaman bambu untuk menjadikan lahan kosong itu menjadi rumah gedek, dengan ukuran 3x4 M. Yang mana, lokasinya juga berdekatan dengan kandang sapi milik saudara Pak Sumari. Meski belum cukup dana untuk membangun rumah yang layak, tapi seperti itulah kondisi rumah yang harus mereka tinggali.
“Saat itu yang ikut bantu membangun hanya 5 orang saja”, ucap Pak Sumari.
Bernaung di dalam rumah yang tidak ada pondasinya, menyebabkan rumah selalu tergenang air di kala hujan turun. Biaya yang terbatas membuat Pak Sumari hanya menggunakan bahan seadanya yakni memakai spanduk atau kain bekas untuk menutupi anyaman bagian dalam, bahkan tidak tersedia fasilitas listrik dan air, sehingga harus menyambungkan pada rumah milik orang tuanya.
Di tahun 2023, menjelang Romadhon terjadi bencana gempa, atau bisa disebut lindu, menimpa Pacitan, Jawa timur. Bencana itu juga dirasakan oleh warga Kediri, termasuk Pak Sumari. Kondisi rumah yang sudah ditempati 8 tahun itu atapnya sudah keropos, tiap tiang rumahnya dihinggapi sarang tawon, dan gedeknya sudah miring dan hampir roboh karena sudah sangat rapuhnya. Apa jadinya nanti jika rumah itu hancur terkena lindu?
Timbul rasa panik dalam diri Pak Sumari. Beliau bergegas menyelamatkan rumahnya dengan mengikat tiang rumahnya ke pohon menggunakan kawat. ”Malam itu goncangannya kencang sekali, saya langsung mencari kawat untuk mengikat rumah ke pohon. Anak saya sudah tidur, saya belum tidur karena menjaga anak", ujar Pak Sumari.

Setelahnya pun, Pak Sumari terus bertahan dengan keadaan rumah yang memprihatinkan itu karena masih belum memiliki penghasilan yang cukup untuk merenovasi rumahnya. Davin anak pertamanya, kini sudah keluar dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan bekerja di perkayuan di Blitar untuk membantu perekonomian keluarganya. Selain itu istrinya Ibu Ika juga sedang berada di Malaysia untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita, demi memperbaiki ekonomi keluarga. Jadi, hanya tinggal Pak Sumari dan Aisyah, anak keduanya saja yang tinggal di rumah itu.
Anak kedua, Siti Aisyah masih Sekolah Dasar kelas 4. Aisyah ini cukup berprestasi di sekolahnya. “Setelah sholat subuh biasanya langsung belajar. Kemudian bersiap untuk sekolah, dengan jalan kaki jarak tempuh 3 km”, tutur Pak Sumari.
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon