ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Puji Rohmad: Puja-puji di Ujung Kemelaratan
23 September 2024 07:00

Puluhan kilometer sosok itu mengayuh becak tuanya, tak peduli kakinya bergetar menahan lelah. Yang ada di pikirannya, bagaimana istri dan kelima putranya bisa makan. Seorang bapak yang harus menjaga fisiknya agar tetap kuat, untuk memenuhi sandang dan pangan keluarganya, belum temasuk biaya sekolah kelima putranya. Baginya, tugas sebagai kepala keluarga adalah pekerjaan tanpa tanggal merah.
Puji Rohmad (55), tukang becak yang tinggal di gang perkampungan, Kabupaten Bojonegoro. Ia tinggal bersama istri dan kelima putranya di rumah berukuran 7x7 m berdinding batu bata setengah badan dan ditambal triplek. Rumah sempit itu memiliki 3 kamar dibagi 7 orang. Kamar depan ditempati keempat anaknya, kamar tengah ditempati Puji dan istrinya, kamar belakang untuk anak pertamanya.
“Keadaan rumah sebelum dibongkar OPSHID sangat sempit, untuk lewat saja susah”, ujarnya getir, mengingat masa kelamnya.
PUJI DIUJI
Tahun 1995, Puji merantau ke Jakarta sebagai kuli bangunan. Di kota inilah Puji bertemu istrinya, penjual jamu keliling di kawasan tempat tinggalnya. “Jamu istri dulu laris manis”, kenang Puji.
3 tahun hidup di Ibu Kota dengan kebutuhan yang tercukupi, Puji dan Istri memutuskan untuk pulang ke kampung halaman istri di Wonogiri, Jawa Tengah.
Di Ibu Kota sebagai penjual jamu yang laris manis dan berkecukupan, berganti sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu. Tidak ada yang tahu bahwa keputusannya untuk pindah ke Wonogiri adalah awal mula kehidupan Puji diuji. “Ketika di Wonogiri, tiba-tiba istri sakit”, ucapnya.
Istirnya, Santi (56) menderita sakit gangguan jiwa.
Di Wonogiri, Puji harus tetap waras untuk merawat istri dan ketiga putranya. Pandangannya jauh ke depan, anaknya harus memiliki kehidupan yang jauh lebih baik daripada kedua orangtuanya. Puji memutuskan untuk memboyong istri dan ketiga putranya; Yahya (25), Panji (23), dan Basid (22) ke Bojonegoro, tempat orang tua Puji tinggal. “Ikut bapak, karena masih ada tanah warisan, anak-anak juga harus sekolah”, ungkapnya.

Puji memulai kehidupan barunya di Bojonegoro sebagai tukang becak dan dikaruniai dua buah hati, Azis (20) dan Salim (15). Waktu itu, becak masih banyak diminati sebagai transportasi umum, masih cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebelum akhirnya, pamor becak menurun dengan hadirnya ojek online. “Sejak riyaden (Hari Raya) kemarin sampai sekarang belum dapat penumpang sama sekali, sepi”, tuturnya.
Penghasilan sebagai tukang becak tak bisa lagi jadi pegangan, Puji harus kerja serabutan sebagai tukang bersih-bersih di rumah warga, musholla, dan kantor notaris. Dari jasa bersih-bersih itu, penghasilan Puji per bulan hanya 300ribu. Jumlah yang harus dicukupkan untuk menghidupi tujuh orang.
Pada masa-masa di mana semua anaknya masih dalam usia sekolah, Puji harus berusaha ekstra. Apalagi, tak semua anaknya mendapat bantuan biaya sekolah. Bayangkan saja, untuk membayar SPP bulanan saja, 300ribu pasti habis tak tersisa. Lalu bagaimana untuk makan sehari-hari? Tak jarang, jika sangat mendesak ia memberanikan diri untuk berhutang ke sanak saudaranya.
Dilansir dari CNBC: bila mengacu pada data yang diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa pada September 2022, nilai Garis Kemiskinan (GK) adalah Rp. 535.547 per kapita per bulan, atau Rp. 17.851 per hari. Artinya, di bawah nilai tersebut adalah masuk kategori miskin.
Lalu bagaimana dengan Puji yang berpenghasilan 300ribu per bulan atau 10ribu per hari untuk menghidupi istri dan kelima anaknya? Jika menggunakan matematika manusia, sangat mustahil.
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon