ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sumardi: Dulu Diminta Bayar, Kini Diberi Rumah Tanpa Syarat
17 Juli 2025 15:00
KETULUSAN YANG MEYAKINKAN
Rumah yang dipaksa terus berdiri kokoh menaungi keluarganya bertahun-tahun, kendati setiap cela kontruksinya mulai melemah setiap waktu. Tidak ada bantuan yang benar-benar hadir tanpa syarat, sampai datanglah perwakilan dari OPSHID.
Berkali-kali datang untuk menunjukkan kesungguhan mereka kepada Sumardi dan keluarganya. Memperjelas ketulusan serta bagaimana hal ini merupakan hak bagi keluarga Sumardi. Hingga menumbuhkan keyakinan di hatinya.
"Datangnya itu sering. Dua hari kemudian datang lagi, tanya-tanya soal surat tanah. Saya percaya mau dibangunkan rumah, ya pasrah aja sama Tuhan, moga-moga betul. Ini mah nggak kayak gitu (seperti yang ia alami sebelumnya)", terang Sumardi.
Wajahnya terlihat sumringah saat mengingat peristiwa itu. “Alchamdulillah, gembira kata saya teh. Mudah-mudahan ya... jadi.”

Kepercayaan itu tidak sekadar menjadi penerimaan bagi OPSHID, tapi juga amanah baru untuk menyegerakan rumah ini ditempati. Terbukti kurang dari 20 hari, rumah tersebut telah berdiri, sembari mempertegas keyakinan setiap orang terkait rumah yang dibangun ini dilengkapi fitur rumah pintar, smarthome.
Rumah ini tidak hanya tentang kenyamanan, perlindungan dan identitas tapi juga menuntun untuk mengikuti perkembangan zaman. Bahwa semua orang harus merasakan ini, tidak tertinggal jauh di belakang, untuk menuju hari yang lebih cerah.
Tasyakuran atas selesainya pembangunan Rumah untuk Sumardi telah dilaksanakan pada Senin malam, 7 Juli 2025 lalu. Kini Sumardi dan keluarganya sudah bisa menempati rumah tersebut. Sementara serah terima resmi akan dilangsungkan pada 17 Agustus mendatang.
"Alchamdulillah, sekarang rumahnya sudah bagus, ditempatinnya enak, nyaman, pokoknya gak ada bandingnya lah. Gembira sekali menempati rumah baru ini. Saya terima kasih sebanyak-banyaknya kepada relawan-relawan OPSHID", ungkapnya penuh syukur.

Tak lagi ragu saat hujan turun, dan cucunya yang baru berusia empat tahun bisa tersenyum sambil berkata, “Ini rumah dedek.” Itu adalah bahasa kebahagiaan yang tak bisa diukur angka bantuan.
Kemiskinan tidak selalu soal kesedihan, tapi juga tentang rasa takut. Takut karena kebutuhan yang tak tercukupi—secara fisik, mental, maupun bathin. Rumah bukan sekadar bangunan fisik, meski tidak tampak jelas oleh mata, rumah juga menyentuh sisi psikologis manusia.
Usaha OPSHID tidak hanya berhenti pada bantuan ekonomi, tetapi juga keberanian untuk percaya diri—yakin bahwa pertolongan Alloh datang seiring usaha manusia. Agar Sumardi dan siapa pun yang mengalami hal serupa, tidak perlu takut lagi saat hendak membenahi kehidupannya. Termasuk ketika yang dibenahi adalah rumahnya sendiri. (OPSHID MEDIA)
- Peletakan Batu Pertama Perpustakaan Tashawwuf: Tanda Shiddiqiyyah Semakin Berkembang
- Santunan Nasional ke-22 Capai Miliaran Rupiah, Mursyid Shiddiqiyyah Berpesan: Jangan Terlena Tipu Daya Dunia
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus