Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Hari Peletakan Batu Syukur Berdasarkan Munculnya Kekuatan De Facto Bangsa Indonesia

28 Juni 2024 19:00

Hari Peletakan Batu Syukur Berdasarkan Munculnya Kekuatan De Facto Bangsa Indonesia

Program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah dimulai pembangunannya pada tanggal 22 Juni dan ditargetkan untuk selesai sebelum 17 Agustus. Pemilihan tanggal 22 Juni sebagai hari peletakan batu syukur bukan tanpa sebab, penentuan tanggalnya pun tak sembarangan, yang memiliki dasar landasan JASMERAH; Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah! Karena sejarah telah meninggalkan niai-niai luhur nasional yang wajib dilanjutkan oleh generasi sekarang dan akan datang.

Menurut keterangan Bapak Nurhadi selaku bendahara DHIBRA Pusat, pemilihan tanggal tersebut merupakan pengingat akan terjadinya Piagam Jakarta. “Sudah beberapa tahun yang lalu dari Sang Maha Guru menyampaikan bahwa pembangunan Rumah Syukur ini dimulai pada 22 Juni. Karena 22 Juni ini disepakati lahirnya Piagam Jakarta yang menjadi kitab suci negara yang di dalamnya ada dasar Pancasila. Jadi untuk mensyukuri lahirnya kitab suci negara Indonesia dan kalau dihitung jaraknya 56 hari sampai terjadinya Proklamasi Kemerdekaan“.

 

APA ITU PIAGAM JAKARTA?

Piagam Jakarta adalah rumusan sidang yang kemudian menjadi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang disusun 9 orang yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. A. A. Maramis, Abikusno Tjokrosuyoso, Abdul Kahar Muzakir, H. Agus Salim, Mr. Achmad Subardjo, Wachid Hasyim dan Mr. Muhammad Yamin. Sidang panitia sembilan ini menghasilkan dokumen bersejarah mengenai dasar negara Indonesia.

Nama Piagam Jakarta dipakai karena dokumen ini ditandatangani panitia sembilan di hari jadi Kota Jakarta pada Jumat Kliwon, 22 Juni 1945 M. / 12 Rojab 1364 H. Awalnya nama Piagam Jakarta diusulkan oleh Prof. Muhammad Yamin.

Dalam buku Proklamasi dan Konstitusi karangan Mr. Muhammad Yamin disebutkan: Piagam Jakarta ini berisi garis-garis pemberontakan melawan faham-faham imperialisme dan kapitalisme yang berkembang pada abad 18 serta di dalamnya juga memuat dasar pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika diperhatikan Piagam Jakarta ini juga lebih tua umurnya dari Piagam Perdamaian San Franscisco (26 Juni 1945) dan Kapitulasi Tokio (15 Agustus 1945).

Dari adanya kesepakatan Piagam Jakarta inilah kemudian menjadi sumber daulat yang memancarkan sinar emas Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi Republik Indonesia. Dengan adanya jembatan emas proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia itu berkembanglah kekuatan de facto Bangsa Indonesia untuk dapat melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

APA SEBAB PIAGAM JAKARTA MENJADI KEKUATAN DE FACTO BANGSA INDONESIA?

Kekuatan de facto itu ada dalam tiap-tiap alenia yang tersusun dalam isi Piagam Jakarta yang dicetuskan 9 tokoh Nasional.

Alenia pertama: Bahwa sesoenggoehnja kemerdekaan itoe jalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itoe maka pendjadjahan diatas doenia haroes dihapoeskan, karena tidak sesoeai dengan peri-kemanoesiaan dan peri-keadilan.

Hak setiap bangsa adalah merdeka, dan segala bentuk penjajahan diatas dunia harus dihapuskan dengan memakai dasar kemanusiaan dan keadilan. Dihapus maksudnya adalah sifat-sifat penjajahan, yang di dalamnya telah terjangkit faham-faham kapitalisme, imperialisme dan materialisme. Bukan manusianya yang dihapus namun sifat-sifat penjajahan, yang sifat tersebut bertentangan dengan nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia.

Alenia ke dua : Dan perdjoeangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat jang berbahagia dengan selamat-sentaoesa mengantarkan rakjat Indonesia kedepan pintoe gerbang Negara Indonesia jang merdeka, bersatoe, berdaoelat, adil dan makmoer.

Menunjukkan cita-cita perjuangan pergerakan ini telah sampai di depan pintu gerbang kemerdekaan hakiki; yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Pada alenia kedua ini juga merupakan kalimat penegasan bahwa sebelum adanya proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia ini belum berdiri, masih menjadi rancangan belum sah dan masih berada di pintu gerbangnya.

Alenia ke tiga : Atas berkat Rahmat Allah Jang Maha Koeasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, soepaja berkehidupan kebangsaan jang bebas, maka rakjat Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaanja.

Hal ini menunjukkan kesadaran keimanan bangsa Indonesi, yang kemerdekaan ini tak mungkin tercapai tanpa berkat dan rochmat dari Alloh SWT. Adanya kesadaran keimanan bertemu dengan rasa kemanusiaan yang menimbulkan dorongan ikhtiar perjuangan melawan penjajahan agar tercapai kemerdekaan.

Dan jika ditarik mundur kalimat “Atas Berkat Rochmat Alloh Yang Maha Kuasa” adalah pesan 4 tokoh tashawwuf yang inkisyaf, yang disampaikan pada Soekarno tiga bulan sebelum rumusan Piagam Jakarta dibuat. Saat itu Soekarno sedang mencari petunjuk kapan saat yang tepat untuk memproklamirkan kemerdekaan. 4 tokoh tashawwuf tersebut adalah: Syekh Musa dari Cianjur, KH. Abdul Mu’thi dari Madiun, Drs. Raden Mas Panji Sosrokartono dari Bandung dan Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari dari Jombang.

Alenia ke empat : Kemoedian dari pada itu untuk membentoek soeatu Pemerintah Negara Indonesia jang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seloeroeh toempah-dara Indonesia, dan oentoek memadjoekan kesedjahteraan oemoem, mentjerdaskan kehidoepan bangsa, dan ikoet melaksanakan ketertiban doenia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disoesoenlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itoe dalam soeatu hoekoem dasar Negara Indonesia jang terbentuk dalam soeatu soesoenan negara Republik Indonesia, jang berkedaoelatan rakjat, dengan berdasar kepada: ketoehanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari'at Islam bagi pemeloek-pemeloeknja, menoeroet dasar kemanoesiaan jang adil dan beradab, persatoean Indonesia, dan kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat kebidjaksanaan dalam permoesjawaratan/perwakilan serta dengan mewoedjoedkan soeatu keadilan sosial bagi seloeroeh rakjat Indonesia.

Menunjukkan sikap negara yang melindungi segenap bangsa, tumpah darah dan tanah air dengan memajukan kesejahteraan umum serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan ikut serta dalam melaksanakan ketertiban dunia dengan dasar kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pada alenia ke empat ini secara mendalam menerangkan tentang; 5 tujuan Negara, 5 cita-cita Negara dan 5 dasar Negara yaitu Pancasila.

Keempat alenia yang ada ini dapat mengguncang dunia, yang menurut Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah jika diteliti lebih dalam tiap susunan katanya mengandung daya, mengkajinya perlu menggunakan periksa (pikir), rasa, karsa (kemauan) dan wahyu ilahi (Al-Quran).

Penulis: Kholidah

Editor: Sa’adatush S.