Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kyai Achmad Syuhada’ dan Jaringan Thoriqoh Penjaga Spirit Perlawanan Kolonialisme

10 September 2024 11:30

Kyai Achmad Syuhada’ dan Jaringan Thoriqoh Penjaga Spirit Perlawanan Kolonialisme

Kyai Achmad Syuhada’ adalah seorang Mursyid Thoriqoh dan Ulama’ besar yang ikut dalam barisan perlawanan terhadap penjajahan. Kisah beliau bisa dibaca pada jurnal sebelumnya : Kyai Achmad Syuhada’ dan Penguatan Cinta Tanah Air di Jawa (BAGIAN 2)

Perang Jawa atau De Java Oorlog pada tahun 1825-1830 adalah peristiwa perlawanan terstruktur masyarakat Jawa terhadap para penguasa kolonial, dan merupakan perang terusan yang juga terjadi di kepulauan Jawa, dipimpin oleh Sambernyowo (1752-1757) dan Sultan Agung (1628-1629).

Tiga Pangeran Kerajaan yang mampu menggerakan seluruh lapisan masyarakat di Jawa; Raden Mas Jatmika (Sutan Agung), Raden Mas Said (Sambernyowo) dan Raden Mas Ontowiryo (Diponegoro). Ketiganya merupakan Putra Mahkota yang semasa kecilnya menempuh pendidikan di luar keraton. Selain adanya politik internal ternyata juga untuk menempa diri dengan cara memperdalam ilmu kehidupan, kethoriqotan, sosial, budaya serta bela diri yang kemudian menjadikan ketiganya terbiasa hidup di tengah masyarakat. Mereka terkenal dengan sikap yang sangat tidak menyukai kebiasaan, sifat dan sistem pemerintahaan yang dibawa kolonial ke bumi Jawadwipa. Ketidaksukaan inilah yang membuat perlawanan pada penjajah tak pernah surut dan padam.

 

KETERLIBATAN JARINGAN ULAMA’ DAN SANTRI DALAM PERANG JAWA

Sejatinya, Perang Jawa tak bisa dipisahkan dari dukungan kaum spritualis muslim. Dalam buku Peter Carey yang berjudul Kuasa Ramalan jilid II (hal. 738-739) disebutkan : Kelompok kedua yang mendukung Diponegoro di Selarong adalah para santri. - Menghasilkan daftar berisi sekitar dua ratus pria dan perempuan yang memberikan bantuan kepada Diponegoro pada tahap-tahap tertentu dalam peperangan. – Dintara mereka yang gelarnya dapat dikenali 22 orang adalah Hajji, 17 orang tercatat bergelar Syekh/Syarif. Terdapat juga sekitar 18 pejabat agama (penghulu, khatib, modin) laki-laki dan perempuan, sebanyak 121 orang lainnya sebagai kiai, istilah yang secara longgar dipakai di Jawa sebagai gelar kehormatan bagi pemuka desa yang dihormati sebagaimana halnya guru agama dan tokoh kebatinan.

Dalam buku Jejaring Ulama Diponegoro karya Zainul Milal Bizawie (hal. 117-123) menyebutkan kemungkinan adanya hubungan diplomatik yang dilakukan secara rahasia antara Kesultanan Mataram dengan Kesultanan Ottoman Turki sejak masa kekuasaan Sultan Agung. Bahkan Sultan Hamengku Buwono II pernah ke Turki pada tahun 1768-1771 untuk mempelajari Jannisary, yaitu; pasukan infantry dan digdaya pengawal Sultan Ottoman serta merupakan pasukan perang utama Angkatan Darat Turki sejak akhir abad ke 14 sampai abad 19.

Sejak masa pemerintahan Sultan Agung, secara diam-diam juga telah membentuk hubungan anti kolonialisme dengan Kesultanan Utsmani melalui bantuan Kesultanan Aceh. Hasil konspirasi ini dapat ditinjau dari adanya pengadopsian struktur organisasi ketentaraan Kesultanan Utsmaniyah oleh Pangeran Diponegoro tanpa mengabaikan struktur militer Jawa. Hierarki yang meniru pola Turki tercermin dalam nama korps seperti Turkiyo, Bulkiyo dan Borjumuah.

Menariknya, dalam artikel berjudul 21 Ksatria Perang Jawa yang ditulis Ki Salendra Yoga (hal. 3) menyebutkan : Dalam catatan Mayor De Stuers menuliskan seragam prajurit Borjumuah memakai sorban putih dan jaket berwarna biru. Resimen borjumuah ini memiliki prioritas tugas untuk menjaga atau mengawal Pangeran Diponegoro dan juga ikut serta bertempur di medan perang bersamanya.

Sebagai rincian, seorang Ulama’ memiliki 200-300 santri/prajurit, seorang kyai atau Hajji memiliki 100-150 santri/prajurit. Ada kemungkinan jumlah ini lebih banyak dari hasil yang dikumpulkan militer Belanda. Dan jumlah ini belum termasuk prajurit dari golongan Pangeran Keraton dan Priyayi Jawa yang ikut dalam pertempuran.

Sehingga dapat dikatakan Perang Jawa ini adalah momentum yang dapat menyatukan seluruh lapisan masyarakat Jawa dalam garis satu komando yang berada di tangan Ulama’ dan Umaro’ nya. Timbulnya kesatuan dalam tubuh masyarakat ini tentu membuat para penjajah tidak menyukainya. Di pertengahan berlangsungnya perang ini, Belanda mulai membuat siasat devide et impera untuk membuat dua golongan berpengaruh ini saling berselisih.

Penulis: Kholidah

Editor: Sa’adatush S.