ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kyai Achmad Syuhada’ dan Jaringan Thoriqoh Penjaga Spirit Perlawanan Kolonialisme
10 September 2024 11:30
USAHA PERPECAHAN DUA GOLONGAN : ULAMA’ DAN UMARO’
Tak hanya siasat devide et impera (pecah belah) dilakukan pada kaum bangsawan, tapi juga terjadi di kalangan rakyat yang tujuannya untuk memisahkan orang-orang keraton/bangsawan dan kaum santri. Baca juga di sini: Kyai Achmad Syuhada’ dan Penguatan Cinta Tanah Air di Jawa (BAGIAN 1)
Dalam catatan yang ditulis Belanda Vlekke maupun Ricklefs, menggambarkan kalangan keraton dan santri yang seringkali berselisih. Narasi-narasi yang merujuk pada peristiwa berdarah yang terjadi pada kepemimpinan Amangkurat I berkuasa (1646-1677), ketika ribuan tokoh agama dan kaum kerabatnya dibantai di alun-alun kota Keraton Plered. Terjadi sekitar tahun 1650 dan peristiwa tersebut masih terus diulas para sejarawan barat. Namun narasi yang dibuat Belanda tersebut tak bisa benar-benar membuat rakyat terpecah, karena pada faktanya Sultan Agung, Sumbernyowo maupun Diponegoro hidup di lingkungan orang-orang yang berthoriqoh.
Begitu pula dalam pasukan Perang Jawa. Kyai Syuhada’ seringkali mengingatkan adanya mata-mata yang sengaja dimasukkan oleh Belanda. Namun sayangnya, Pangeran Diponegoro tak mengindahkan wanti-wanti Kyai Syuhada' itu, yang merupakan guru Thoriqoh sekaligus penasehat perangnya. Perdebatan tersebut tak membuat Kyai Syuhada’ pergi dari peperangan, beliau masih ikut dalam medan perang sekaligus memantau gerak-gerik mata-mata yang telah masuk dalam pasukan Perang Jawa pada akhir 1828. Semakin hati-hati pula dalam menjalankan strategi peperangan. Hingga kemudian pada 1829 mulai diketahui benar adanya beberapa nama mata-mata yang masuk dalam tubuh pasukan Pangeran Diponegoro.
Usaha kolonial untuk menjauhkan masyarakat dari nafas Islam tak hanya berakhir ketika perang Jawa dinyatakan selesai. Umat muslim dianggap musuh paling berbahaya oleh kolonial, untuk itu tak terbilang banyaknya siasat devide et impera dilakukan. Tujuannya adalah untuk dapat melanggengkan misi kolonialisme dengan sempurna tanpa ada gangguan perlawanan.
Dalam buku O.Hasem Menaklukan Dunia Islam (hal. 21-22) dengan jelas disebutkan; guna untuk mendapat satu gambaran biarlah kita petik resolusi nomer 5 dari Kongres Kolonial yang diadakan di Berlin pada akhir abad 19 dengan tema “Negara dan Misi dalam masalah Islam” (Staat und Mission in der Islamfrage) :
Karena penyebaran Islam mengancam bahaya besar terhadap perkembangan koloni-koloni kita, maka kongres kolonial ini meneliti dengan seksama dan mengadakan penyelidikan secara mendalam tentang gerakan Islam ini. Dengan dasar agama yang tak berpihak, maka demi peleberan koloni, haruslah dicegah dengan seksama apa yang dapat memajukan perkembangan Islam dan mencegah kerugian, serta memacu pekerjaan kebudayaan misi, terutama dalam lapangan pendidikan sekolah-sekolah misi maupun perawatan kesehatan yang dilakukan oleh misi yang merupakan juga topangan yang kuat terhadap pemerintah kolonial.
HIJRAH KYAI SYUHADA’ DAN SAUDARA-SAUDARANYA
Tertangkapnya Pangeran Diponegoro oleh Jendral De Kock di Magelang pada 28 Maret 1830, tak menyurutkan api perlawanan dan pergerakan kaum Thoriqoh dan kaum santri. Penangkapan Pangeran Diponegoro menjadi hikmah tersendiri dan merupakan titik balik perjuangan. Para laskar dari kalangan Thoriqoh ini merubah strateginya untuk menyebar, berdiaspora, mencari lahan yang jauh dari pusat kekuasaan.
Strategi ini dapat mengacu pada firman Alloh dalam Al Qur-an surat Taubat ayat 122 yang berbunyi : “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya.”
Begitupun Kyai Syuhada’, yang memilih tetap melawan dengan hijrah ke arah timur bersama empat saudaranya, yaitu; Kyai Achmad Mujarot, Nyai Amudah, Abdulloh dan Hasan Rozak atau sering disebut Hasanredjo. Di daerah Sidoarjo beliau menentukan tempat tinggalnya yaitu di desa Trosobo. Dalam perjalanan ini beliau tidak mengajak istrinya Nyai Musyrifah binti Achmad Murodi, beliau diminta untuk tetap tinggal di rumahnya di Kadilangu sampai dirasa aman.
- Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air
- Tantangan Ekonomi Tak Jadi Penghalang Warga Shiddiqiyyah Bangun Rumah Syukur di Lampung Tengah
- Sambut Kemerdekaan Indonesia, 2 Unit Rumah Syukur Dibangun di Semarang
- Mursyid Shiddiqiyyah Indonesia Pimpin Taubat Bersama Ala Tashawwuf
- Work From Future: Jawaban OPSHID Atas Job From Future
- Shiddiqiyyah Bangun Ratusan Rumah Gratis Menjelang Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Sambut Tahun Baru 1448 Hijriyyah, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Makna Organisasi Wali Songo
- Beras Uwi: Keseriusan Membangun Sistem dari Budidaya hingga Badan Usaha
- Warga Ploso Jombang, Lestarikan Fakta Kelahiran Bung Karno!
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?