Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kyai Achmad Syuhada’ dan Jaringan Thoriqoh Penjaga Spirit Perlawanan Kolonialisme

10 September 2024 11:30

Kyai Achmad Syuhada’ dan Jaringan Thoriqoh Penjaga Spirit Perlawanan Kolonialisme

Dalam masa persembunyian tersebut tersiarlah kabar adanya sayembara, yang di mana daerah Karesidenan Surabaya sedang banyak terjadi kerusuhan dan perampokan yang sangat meresahkan masyarakat, baik di kalangan bangsawan maupun rakyat jelata. Kyai Syuhada’ dan saudaranya berfikir panjang untuk mengikutinya karena yang mengadakannya dari kalangan Belanda. Namun karena perampok itu telah meresahkan rakyat yang sedang dalam keadaan lemah akhirnya Kyai Achmad Syuhada’ dan saudara-saudaranya datang ke Surabaya untuk menumpas kejahatan perampok.

Keberhasilan yang di dapat Kyai Syuhada’ bersaudara membuat Belanda curiga, bukan hadiah sayembara yang didapatkan justru mereka menjadi target pengejaran serdadu Belanda. Dalam keadaan genting Kyai Syuhada’ dan saudara-saudaranya memutuskan untuk berpencar. Nyai Amudah tetep berada di desa Trosobo; Kyai Achmad Mujarot berpindah ke desa Ngepoh, Rang Agung Jedong (masih di Sidoarjo); Hasan Roji berpindah ke desa Mejoyo, Gudo – Jombang; Kyai Achmad Syuhada’ dan Abdulloh berpindah menuju ke barat di desa Losari, Ploso – Jombang.

Di daerah utara sungai brantas, beliau memilih tempat dengan kondisi tanah yang berawa-rawa. Sebidang tanah berawa tersebut secara telaten diuruk (ditimbun dengan tanah—red)  bersama adiknya. Selama berminggu-minggu sampai berganti bulan, proses pengurukan tanah rawa-rawa itu akhirnya membuahkan hasil. Lalu dibangunlah rumah tempat tinggal dan surau (langar). Setelah membangun rumah sebagai tempat tinggal dan surau, kakak beradik ini pergi ke Kadilangu, Demak untuk menjenguk dan menjemput keluarganya.

Hingga kemudian Kyai Ahmad Syuhada’ tinggal di desa Losari bersama istri dan putra-putrinya. Pernikahan Kyai Syuhada’ dengan Nyai Musyrifah mempunyai lima keturunan, yaitu; Murthosiyah, Mu’alim, Muchammad Dera’is, Kyai Abdul Mu’thi dan Rowati.

Asalnya puluhan hektar tanah rawa yang cukup dalam, disulap menjadi tanah subur yang ditumbuhi pohon turi yang berderet-deret. Untuk kebutuhan sehari-hari, Nyai Masyrifah menjual kembang turi pada warga di sekitar, tak jarang harus berjalan jauh agar terjual. Setelah beberapa waktu Kyai Achmad Syuhada’ mendirikan Pesantren yang dinamakan Kedung Turi.

Tak berselang lama, munculah maklumat pada tahun 1832 yang berisi instruksi bagi Laskar Pasukan Perang Jawa untuk menyebar ke seluruh Nusantara, termasuk Jombang. Terpilihnya Jombang sebagai tempat pelarian, atas dasar wilayahnya yang merupakan bekas imperium Majapahit dan cukup strategis untuk membangun basis baru perlawanan terhadap tentara kolonial.

Mungkinkah Perang Jawa yang dalam kaitannya di sini adalah untuk melawan sifat-sifat kolonialisme telah benar-benar selesai? Untuk itu mari mengambil api semangat perjuangan Jejaring Thoriqoh, yang bertepatan dengan persiapan menuju Tasyakkuran Hari Sumpah Pemuda ke 96 dan Lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.  (OPSHID Media)

--------------

Berumber dari :

  • Ajaran Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.
  • Menyambut Haulnya Kyai Ahmad Syuhada’ ke 91 (1992) oleh Muchammad Mukhtar bin H. Abdul Mu’thi.
  • Islam and the Netherland (1957) oleh G. P. Pijper.
  • Kuasa Ramalan jiid 2 (2016) oleh Peter Carey.
  • Jejaring Ulama’ Diponegoro (2019) oleh Zainul Milal Bizawie.
  • Sejarah Singkat Mbah Kyai Ahmad Syuhada’ Bekas Prajurit Pangeran Diponegoro (1983) oleh Muchamad Munif.
  • Menaklukan Dunia Islam (1968) oleh Prof. O.Hasem.

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.