ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Shiddiqiyyah Bangun Ratusan Rumah Gratis Menjelang Kemerdekaan Indonesia ke 81
22 Juni 2026 15:00
Jombang - Di tengah ramainya isu krisis ekonomi, Shiddiqiyyah tetap bangun 126 unit Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS), agenda rutin tiap menjelang bulan Agustus.
Pembangunan tersebut merupakan wujud syukur atas peristiwa bersejarah pada 17 Agustus sebagai hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan 18 Agustus sebagai hari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang pada tahun ini bertepatan Indonesia berusia 81 tahun.
Melalui program ini, warga Thoriqoh Shiddiqiyyah menghadirkan rumah layak huni secara gratis bagi masyarakat. Jumlah pembangunan masih berpotensi bertambah seiring berjalannya pelaksanaan program.
Persiapan pembangunan diawali dengan peletakan Batu Syukur sebagai penanda dimulainya pembangunan RSKILHS. Kegiatan ini dilaksanakan secara serentak pada Senin (22/6/26) di 88 kabupaten/kota di Indonesia.
Pemilihan tanggal 22 Juni bukan tanpa alasan. Tanggal tersebut merupakan petunjuk dari Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah dengan berdasarkan landasan sejarah yang kuat. Pembangunan Rumah Syukur dimulai pada 22 Juni dan ditargetkan selesai untuk diresmikan pada 17 Agustus.
Secara historis, 22 Juni 1945 merupakan tanggal ditandatanganinya Piagam Jakarta, naskah yang kemudian menjadi kitab suci negara Indonesia yakni Pembukaan UUD 1945. Melalui pintu gerbang Piagam Jakarta tersebut, 56 hari kemudian Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Program RSKILHS ini menjadi agenda rutin yang diselenggarakan oleh Organisasi Dhilaal Berkat Rochmat Alloh Shiddiqiyyah (DHIBRA) dibantu oleh seluruh organisasi di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah.
Seluruh pembangunan Rumah Syukur merupakan hasil gotong royong warga Shiddiqiyyah melalui shodaqoh pribadi para anggotanya.
"Penggalian dana berasal dari shodaqoh pribadi anggota, ada yang berupa material dan kebutuhan lainnya. Untuk wilayah Kudu sendiri, anggaran pembangunan satu Rumah Syukur sekitar Rp120 juta," jelas Bagus Harianto, Penanggung Jawab Rumah Syukur wilayah Kudu, Jombang.
DHIBRA menetapkan rumah tipe 36 m² sebagai standar pembangunan. Namun, luas bangunan dapat disesuaikan dengan kondisi penerima, terutama apabila memiliki jumlah anggota keluarga yang lebih banyak.
Di balik setiap Rumah Syukur yang dibangun, DHIBRA terlebih dahulu melakukan peninjauan langsung di lapangan untuk memastikan calon penerima memenuhi kriteria berdasarkan kondisi tempat tinggal, keadaan sosial dan ekonomi keluarga.
Salah satu penerima adalah Ibu Putiah (71), warga Desa Madi, Kecamatan Kudu. Menurut Kepala Desa Madi, Winarsih, Ibu Putiah dinilai layak menerima bantuan karena selama ini menempati rumah yang sudah tidak layak huni, sementara di usianya yang senja ia harus mengasuh cucu-cucunya seorang diri.
Winarsih mengungkapkan rasa terima kasih atas hadirnya Program Rumah Syukur di desanya. Dengan adanya bantuan tersebut memberikan harapan baru bagi Putiah tanpa membebani penerima dengan biaya apa pun.

Di sisi lain, pelaksanaan program Rumah Syukur tahun ini menghadapi tantangan tersendiri. Selain pembangunan rumah, warga Thoriqoh Shiddiqiyyah tengah menjalankan berbagai program lainnya, dan juga beriringan dengan persiapan rangkaian Tasyakkuran Tahun Baru Hijriyyah di Purwodadi mendatang. Kondisi tersebut menuntut pengaturan sumber daya, waktu, dan tenaga secara lebih optimal
Meski demikian, warga Thoriqoh Shiddiqiyyah terus memperkuat kebersamaan agar seluruh program dapat berjalan maksimal tanpa mengurangi kualitas rumah yang dibangun.
Seluruh ikhtiar tersebut semata-mata ditujukan untuk membentuk jati diri bangsa yang Abdan Syakuro (hamba yang bersyukur).
"Keyakinan kami, sebagaimana petunjuk Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Indonesia akan menjadi kunci perdamaian dunia. Untuk mewujudkan itu, kami memulai dari akar rumput dengan terus mensyukuri nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, agar bangsa ini tidak mengingkari nikmat kemerdekaan yang telah diberikan oleh Alloh Ta'ala," pungkas Bagus. (OPSHID MEDIA)
- Ditinggal Suami, Suwarsi Banting Tulang Hidupi Ketiga Anaknya
- Sehat Tentrem Mahal Tapi Laku!
- Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah
- Yatim Piatu di Bogor Menanti Masa Depan di Rumah yang Hampir Roboh
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem