ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
· 5 menit baca · Diperbarui
Di tengah dunia yang dibayangi berbagai ketidakpastian, terdapat secercah harapan yang tumbuh dari sudut-sudut negeri. Konflik geopolitik yang berkepanjangan berdampak pada fluktuasi harga energi dunia, biaya hidup yang terus meningkat, hingga perlambatan ekonomi yang dirasakan hampir seluruh negara.
Di Indonesia sendiri, masyarakat masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari naik turunnya harga kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif, hingga persoalan korupsi yang belum terselesaikan.
Namun di tengah situasi tersebut, ada satu hal yang tidak boleh hilang dari hati manusia, yaitu rasa syukur kepada Alloh SWT atas semua nikmat yang telah diberikan kepada kita. Sebagaimana firman-Nya:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)
Janji Alloh inilah yang terus dipegang teguh oleh warga Thoriqoh Shiddiqiyyah. Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah sering mengingatkan, bahwa bangsa Indonesia memperoleh dua nikmat yang sangat besar, yaitu nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia dan nikmat berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh sebab itu dua nikmat besar tersebut wajib disyukuri.
"Terkait rasa syukur, kita diberi nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia oleh Alloh dan berdirinya NKRI pada 18 Agustus 1945. Dua nikmat tersebut, kalau kita selalu bersyukur, nikmatnya akan ditambah. Itu janji Alloh." Dawuh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.
Rasa syukur tersebut dibuktikan oleh Warga Shiddiqiyyah melalui berbagai aksi nyata yang langsung dirasakan oleh masyarakat luas. Salah satu contohnya adalah pembangunan Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah yang dipersembahkan secara gratis 100% untuk masyarakat yang membutuhkan.
SYUKUR YANG DIWUJUDKAN MENJADI RUMAH
Setiap menjelang momen kemerdekaan warga Shiddiqiyyah selalu mengadakan tasyakkuran kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tasyakkuran itu duwujudkan dengan cara mempersembahan rumah gratis untuk masyarakat yang membutuhkan.
Di tahun 2026 ini, warga Shiddiqiyyah kembali melaksanakan Program Nasional Santunan Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS), sebanyak 135 unit rumah dibangun di berbagai daerah di Indonesia.
Salah satu penerima Rumah Syukur tersebut beralamat di Kabupaten Pasuruan, tepatnya di kaki Gunung Arjuno, Dusun Geneng Barat, RT 08 RW 03, Desa Ledug, Kecamatan Prigen.
Di lokasi inilah harapan baru mulai dibangun, bukan hanya berupa tembok dan atap, tetapi juga masa depan sebuah keluarga.
BERTAHUN-TAHUN TINGGAL DI RUMAH YANG NYARIS ROBOH
Suliyastiningsih (35), seorang ibu rumah tangga sederhana yang sejak lahir mengalami keterbatasan fisik karena kondisi kaki yang agak pincang. Selama bertahun-tahun, ia bersama keluarganya tinggal di rumah yang tidak layak huni, dengan luas kurang lebih 36 meter persegi dan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Dinding rumah retak dan berlubang, atap bocor di berbagai sisi, dan plafon yang nyaris roboh. Setiap hujan turun, air masuk ke dalam rumah, membanjiri area dapur, sehingga aktivitas sehari-hari harus dilakukan dengan penuh keterbatasan.
Rumah tua tersebut dihuni oleh 2 keluarga, yakni keluarga Suliyastiningsih dan keluarga kakaknya. Total penghuni ada enam orang, yaitu Suliyastiningsih, suaminya, ayahnya, kakak laki-lakinya, istri kakaknya, dan buah hati kakaknya. Rumah itu hanya memiliki dua kamar tidur, sehingga kakak beserta istri dan anaknya setiap malam terpaksa tidur di ruang tamu.
Sehari-hari suami Suliyastiningsih bekerja serabutan dengan penghasilan yang sangat pas-pasan. Pendapatan itu hanya cukup untuk makan, tak jarang kebutuhan harian tidak tercukupi. Dari situ harapan memiliki hunian yang layak sudah dikubur dalam-dalam.
Meski begitu, Suliyastiningsih tidak pernah berputus asa. Di setiap doa yang dipanjatkan, ia selalu menyelipkan satu doa sederhana: memiliki rumah yang layak untuk keluarganya.
- OPSHID Serahkan 7 Rumah Gratis Siap Ditempati
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945