ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Suherman: Hidup dari Barang Bekas, Impikan Rumah Yang Layak
30 Juni 2025 17:00
Di sudut kampung bernama Kampung Sukatani, Desa Wangun Sari, Kecamatan Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, hidup seorang pria paruh baya bernama Suherman (53), bersama istrinya, Ela, dan kedua orang anaknya. Suherman dan keluarga bertahun-tahun bertahan hidup dalam kondisi yang bagi banyak orang mungkin tak sanggup dibayangkan.
Rumah berdinding bata hanya setinggi pinggang, selebihnya ditambal dengan triplek reyot yang ringkih diterpa angin dan hujan. Lantai tanah yang lembap dan atap bocor adalah bagian dari keseharian mereka. Meski dengan kondisi rumah hampir roboh, tapi kondisi keuangan tidak mumpuni bagi mereka untuk melakukan renovasi.
“Rumahnya emang hampir roboh” ucap Ela, matanya menerawang mengingat kembali rumah lamanya.
HIDUP DARI RONGSOKAN
Setiap hari, Suherman menyusuri kampung demi kampung. Ia mengais rezeki dari barang-barang yang dianggap sampah oleh orang lain—botol plastik, besi tua, barang elektronik rusak, kabel-kabel bekas. Semua dikumpulkan, dan ia jual lagi kiloan. Untuk 1 kg besi bekas pakai, dipatok dengan harga sekitar Rp4.000.
Usaha yang ia jalankan ini memang tidak pasti penghasilannya. Kalau jualannya laku lumayan banyak maka Suherman tidak perlu khawatir bagaimana memberi makan keluarganya hari itu. Tapi tak jarang juga jualannya tak laku, hingga pernah dalam sebulan ia hanya mengantongi Rp70.000. Dengan uang segitu, bagaimana ia bisa menghidupi istri dan anaknya?
"Kalau nggak ada pemasukan, ya utang beras dulu di warung. Nanti dibayar kalau ada uang," ucapnya lirih, sembari tertawa getir.
Anak-anaknya pun ikut menelan pahitnya kehidupan. Anak yang harusnya duduk di bangku sekolah, kini harus bekerja untuk membantu menopang ekonomi keluarga. Mereka terpaksa harus tamat sekolah karena Suherman tak sanggup membiayai hingga tuntas. Bukan karena tak pintar, tapi karena hidup tak memberi mereka pilihan. Beban hidup sudah cukup berat untuk dibagi dengan buku dan ujian.
"Anak-anak sekolah gak lulus, biar kerja saja ikut orang”, terang Pak Suherman.
Dalam suaranya, tak ada harapan lain selain bekerja; menghasilkan uang; memenuhi kebutuhan sehari-hari; bisa memberi makan istri dan anaknya hari ini.
Ya, hidup keluarga ini berada di bawah garis kemiskinan.
HARAPAN YANG SELALU DIGANTUNG
Sudah berkali-kali orang datang ke rumahnya, mengaku dari program bantuan hendak merenovasi rumah reyotnya. Tapi, rumah hanya sebatas difoto sebagai bahan promosi, lalu hilang tanpa kabar. Ia sempat berharap, lalu kecewa. Sempat percaya, lalu pasrah.
“Rumah sering difoto-foto orang, berkali-kali. Tapi tidak ada kabar lagi. Jadi yasudah...", cerita Ela mengingat masa itu. Pasrah.
- Peletakan Batu Pertama Perpustakaan Tashawwuf: Tanda Shiddiqiyyah Semakin Berkembang
- Santunan Nasional ke-22 Capai Miliaran Rupiah, Mursyid Shiddiqiyyah Berpesan: Jangan Terlena Tipu Daya Dunia
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus