ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Margono : Dari Tukang Sampah, Kini Dapat Rumah Mewah
11 Oktober 2025 10:10
PURBALINGGA - Bergelut dengan sampah dan berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain tidak menjadikan Margono berputus asa. Ia tetap menjalani hidup dengan sabar dan lapang dada. meskipun uang yang didapatnya tidak seberapa namun ia tetap menerima dan tak pernah membuatnya meminta-minta kepada orang lain. Baginya asalkan uang yang ia terima halal dari kerja kerasnya sendiri maka berapapun yang didapat insyaAlloh akan menjadi berkah untuk hidupnya.
Margono (60) seorang duda yang hidup bersama kedua anaknya, Awit Wiratama (23) dan Sukma Jaya (18). Selain bersama anaknya, Ia juga tinggal bersama adik kandungnya bernama Tio (50) yang sampai kini masih melajang. Tio tinggal bersama Margono sejak kecil sampai sekarang lantaran belum mempunyai tempat tinggal sendiri.
Anak pertama Margono; Awit Wiratama, yang sudah menginjak usia dewasa memutuskan bekerja serabutan guna membantu perekonomian sang ayah. Sedangkan adiknya; Sukma Jaya masih duduk dibangku sekolah. Ibu dari Awit dan Sukma bernama Tursiah yang telah meninggal dunia sejak tahun 2016, karena penyakit perut yang tidak bisa diselamatkan. Kepergian Tursiah meninggalkan kedua putranya yang saat itu masih berusia 14 tahun dan 9 tahun.
Setelah kepergian sang istri, Margono memilih untuk tidak menikah lagi dan hanya fokus mengurus kedua putranya. Untuk mencukupi kebutuhan kedua anaknya, Margono bekerja sebagai petugas sampah keliling yang mengambil sampah di tiap-tiap rumah. Dengan gerobak sampah itulah Margono mendapat rezeki untuk menyambung hidupnya.
Setiap hari ia berkeliling mendorong gerobak sampah, menghampiri setiap rumah di desanya dan desa tetangga, mengambil sampah dan dibuang ke tempat pembuangan sampah. Hal itu Margono lakukan selama bertahun-tahun, hingga kini usianya yang makin menua.
Atas ketekunan kerja kerasnya itu setiap bulan ia mendapat upah Rp1.300.000 dari hasil iuran warga di tiap rumah yang dikoordinir oleh ketua RT untuk diberikan kepada Margono. Penghasilan tersebut bisa dibilang sangat minim dari standarisasi panghasilan atau gaji pada umumnya. Sehingga membuat ekonomi Margono sulit berkembang.
Margono bersama anak-anaknya tinggal di rumah yang sudah tidak layak huni. Tepatnya di desa Penambongan Kec. Purbalingga, Kab.Purbalingga Jawa Tengah. Rumah yang dihuni tampak sempit dan penuh dengan barang, dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sangat lusuh dan jebol dibeberapa bagiannya, lantainya dari tanah, atapnya bolong di berbagai sudut sehingga membebaskan sinar matahari masuk disela-selanya. Yang Lebih memprihatinkan lagi ketika hujan tiba, sudah dapat dipastikan rumah itu banjir, bukan karena genangan air yang masuk dari teras rumah, melainkan masuk dari lubang atapnya.
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang