ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Margono : Dari Tukang Sampah, Kini Dapat Rumah Mewah
· 5 menit baca · Diperbarui
Tinggal di rumah yang tidak layak bukanlah keinginan Margono maupun anak dan adiknya. Namun karena belum memiliki uang yang cukup untuk memperbaiki, membuat mereka mau tidak mau tetap harus bertahan.
Semakin hari kondisi rumah itu semakin memprihatinkan. Hingga beberapa kali mencuri perhatian beberapa orang dari program bedah rumah. Mereka datang menemui Margono untuk menawarkan bantuan berupa beberapa material, dengan perjanjian Margono harus melanjutkan pembangunan rumahnya sendiri hingga selesai. Bantuan itupun ditolak oleh Margono, lantaran ada rasa takut jika bantuan itu malah memberatkannya.
“Mpun nate ditawari pemerintah ajeng dibangunkan rumah tapi kulo mboten purun, bantuane niku berupa material tapi mboten sepenuhe, terusken melanjutkan dewe sampe selesai dadi kulo mboten purun soale kulo mboten mampu melanjutke dewe (sudah pernah ditawari pemerintah akan dibangunkan rumah tapi saya tidak mau, bantuan berupa material tapi tidak penuh, sisanya harus dilanjutkan sendiri. Saya tolak karena tidak mampu melanjutkan sendiri -Red)”, ungkap Margono.
Hingga pada suatu hari rombongan pemuda mendatangi rumah Margono. Para pemuda tersebut menyampaikan tujuan kedatangannya. Rupanya, rombongan pemuda itu ingi minta izin kepada Margono bahwa rumahnya akan dibangun oleh OPSHID (Organisasi Pemudah Shiddiqiyyah -red).
Mendengar pernyataan tersebut membuat Margono berfikir sejenak, kemudian mengatakan bahwa Margono tidak mau rumahnya dibangun karena tidak mampu jika harus menyelesaikan sisa pembangunan rumahnya. Para pemuda tersebut menyampaikan bahwa program ini sepenuhnya dibiayai oleh OPSHID. Jadi gratis tanpa meminta uang sepeserpun kepada Margono dan berjanji bertanggung jawab penuh hingga selesai pembangunan.
Setelah perbincangan panjang guna meyakinkan bahwa pembangunan ini tidak akan membebankan Margono, barulah Ia bersedia rumahnya dibangun. Para pemuda ini merupakan anggota OPSHID di Purbalingga yang datang secara langsung kepada penerima Rumah Syukur pasca melakukan survei latar belakang penerima.
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari