Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Sanusi: Menahan Sakit Sembari Menjahit di Bawah Atap Rapuh Hampir Runtuh

08 Oktober 2025 10:00

Sanusi: Menahan Sakit Sembari Menjahit di Bawah Atap Rapuh Hampir Runtuh

 

Di sebuah rumah tak layak huni, Sanusi (59) duduk di depan mesin jahit tua yang  menjadi saksi perjuangannya. Dengan tangan yang sesekali bergetar karena menahan nyeri di pinggang, ia menjahit bukan hanya pakaian, tapi juga harapanuntuk dua anak yang ia rawat dengan penuh cinta, meski satu di antaranya bukan darah dagingnya sendiri.

MENJAHIT ASA DI TENGAH NYERI

Di rumah warisan yang berada di Cidodol Jakarta Selatan, tinggallah Sanusi bersama istri dan kedua anaknya. Sanusi memiliki dua anak kandung; anak pertama sudah menikah dan ikut suaminya, sedang anak keduanya bernama Nur Alvia, satu lagi anak titipan—anak yatim yang sudah dirawat sejak bayi bernama Azza Ubaydillah kini berusia 12 tahun dan duduk di bangku MTs kelas 1.

Rumah itu tampak tua, atapnya bocor sana-sini, instalasi listrik bermasalah, pun tidak memiliki cukup materi untuk memperbaiki kerusakan yang hampir ada di tiap sudut rumah. Keterbatasan itu yang kemudian membuat Sanusi sesekali meminta material bekas pembongkaran rumah atau gedung seperti potongan kayu atau asbes. 

Rumah tua itu menjadi saksi sekaligus tempat ia menyambung hidup dengan benang dan jarum, perjuangan Sanusi melawan sakit saraf kejepit yang dialaminya akibat pengeboran sumber air di waktu lampau. Meski dalam kondisi sakit, hati Sanusi tetap hangat dan bahagia, sebab satu anak yatim yang diasuh beliau menjadi obat atas keinginannya memiliki anak laki-laki.

“Saya waktu sehat dulu memang pingin punya anak laki-laki,” tutur Sanusi pelan, “Orang tuanya anak ini kayak kurang suka gitu sama dia, jadi daripada dikasih ke saudara yang lain, mending saya yang rawat. Alchamdulillah anak saya yang paling tua udah kerja saat itu, dia yang jamin susunya atau apanya. Alchamdulillah saya sekarang ini juga masih bisa ngurusin dia", ungkapnya kembali mengenang pertemuannya dengan si bungsu.

Sanusi bekerja sebagai penjahit di rumah, dalam sepekan ia mengambil hari Ahad untuk istirahat bekerja. Pekerjaan datang tidak tentu, namun ia tak putus asa. “Paling seminggu dapet 200 ribu, kadang Senin sampe Sabtu bisa jahit 65 potong, itu pun kalo badan lagi kuat. Kalo enggak, paling cuman permak 3 potong, ya.. 60 ribu udah syukur,” ujarnya.

Tubuhnya sering alami nyeri. Sakit pinggang yang dulu membuatnya tak bisa berjalan kini masih meninggalkan sisa-sisa sakit di tulang belakang. “Dulu pernah dirawat jalan di Rumah Sakit besar, sepuluh bulan lebih, tapi nggak ada perubahan, cuma disetrum-setrum aja", kenangnya. “Akhirnya saya berobat ke Bandung, di Buahbatu. Alchamdulillah bisa jalan lagi, tapi masih tahap kontrol. Cuma pas mau balik kesana ada covid, jadi nggak bisa balik lagi.”

Kini, rasa nyeri yang sering kali kambuh sudah menjadi teman karib di hidupnya. “Kalau saya kondisi kesehatannya lagi enak, ya enak. Kalau lagi berasa (kambuhred) semua nyeri, jadi konsumsi obat itu tidak ketinggalan kalau saya lagi berasa. Kalau makan yang kayak indomie, kacang, atau toge, bisa pengaruh ke badan saya,” katanya sambil tersenyum tipis.

KETABAHAN DI TENGAH KETERBATASAN

Anak pertamanya yang dulu bisa membantu mengantar berobat atau kontrol dan membiayai adiknya, kini sudah berkeluarga dan belum bisa membantu Sang Ayah lagi lantaran terkena PHK tahun 2021 karena pandemi. “Usahanya sepi, jadi kena PHK. Sekarang ya cuma ngandelin penghasilan suaminya dari gojek,” ujarnya pelan.

Penghasilan kecil dari jahitan ayah dan permak ibu menjadi napas utama keluarga. “Istri bantu permak, kalo penghasilan (istri) sebulan 50 ribu, itu pun kalo masih ada. Kalo saya kan ketahuan ya 200 ribu, kalo istri kan kagak ketara, dapet 2 potong paling berapa,” katanya lirih.

Namun, di tengah serba keterbatasan itu, keduanya tak berhenti bersyukur. “Alchamdulillah rezeki anak sekolah masih ada aja. Kadang nggak keluar dari kantong saya, nggak dari istri, ya istilahnya begitu,” ucap Sanusi dengan senyumnya.

Nur Alvia, putrinya penyandang tunarungu, sempat mengenyam pendidikan di SLB. Kepala sekolahnya sempat menawarkan untuk melanjutkan ke SMA, namun keinginan itu tertahan. “Dia nggak mau, maunya sekolah negeri di Lebak Bulus, katanya cakep. Tapi waktu itu saya sakit, kakaknya udah nikah, nggak ada yang bisa nganter, jadi ya nggak lanjut.”

Penulis: Baqiyat Aliansyah Siregar

Editor: Nuraida