ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
· 5 menit baca · Diperbarui
DOA YANG AKHIRNYA DIJAWAB
Bertahun-tahun ia memohon dan berdo'a hingga suatu hari doa itu benar-benar terwujud. Berawal dari beberapa pengurus Organisasi Shiddiqiyyah Pasuruan bershilaturochmi ke rumah Ningsih, dari shilaturochmi itu pengurus Organisasi Shiddiqiyyah menyampaikan maksud dan tujuannya bahwa, Ningsih mendapat rumah syukur dari Shiddiqiyyah dan rumahnya akan segera dibangun dari awal sampai selesai 100% gratis tanpa tambahanan biaya sepeser pun.
Mendengar kabar tersebut, Suliyastiningsih tidak mampu membendung air mata. Tangis yang selama ini lahir dar ikesulitan, kini berubah menjadi tangis kebahagiaan.
Baginya, kabar itu bukan sekadar bantuan pembangunan rumah, melainkan jawaban dari Tuhan atas doa yang dipanjatkan selama bertahun-tahun.
Program ini pun tidak dilakukan secara sembarangan. Sebelum menentukan penerima, pengurus organisasi melakukan survei langsung ke lapangan dengan berbagai indikator sehingga bantuan benar-benar diberikan kepada masyarakat yang paling membutuhkan.
Dengan penuh rasa haru Suliyastiningsih mengucapkan rasa syukur kepada Alloh SWT dan menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga Shiddiqiyyah yang telah membantu mewujudkan cita-citanya.
Ia berdoa semoga seluruh pihak yang terlibat diberi kelapangan rezeki, kesehatan, dan senantiasa mendapat rochmat dari Alloh SWT.
- OPSHID Serahkan 7 Rumah Gratis Siap Ditempati
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945