Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Rumah Gratis untuk Sriyatun, Janda di Pati

· 5 menit baca · Diperbarui

Rumah Gratis untuk Sriyatun, Janda di Pati

PATI – Sriyatun (45) hidup dalam keterbatasan ekonomi bersama kedua anaknya. Kondisi kesehatannya yang kerap terganggu membuatnya kesulitan bekerja, sementara usaha berjualan jajanan ringan yang pernah dirintisnya terhenti karena tidak memiliki modal. Sejak lulus SMP tiga tahun lalu, anak sulungnya, Firza Maulani Sari (18), telah bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Suaminya telah meninggal empat bulan lalu, keadaan keluarga semakin berat. Sriyatun masih harus merawat Fanza Maulina Sari (4), anak bungsunya, sekaligus bertahan bersama kedua anaknya di rumah yang belum layak huni.

Jauh sebelum suaminya meninggal, kehidupan keluarga Sriyatun telah diwarnai kesulitan ekonomi. Suaminya bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) nelayan dan pergi melaut selama tiga hingga tujuh bulan. Penghasilannya bergantung pada hasil tangkapan, sedangkan kebutuhan keluarga selama ditinggal melaut harus dipenuhi dengan berutang di warung.

Persoalan ekonomi keluarga juga dipengaruhi penggunaan penghasilan suami saat masih hidup, yang tidak sepenuhnya untuk kebutuhan rumah tangga. Menurut penuturan Sriyatun, Suaminya juga menggunakan sebagian penghasilan untuk kesenangan pribadi seperti berjudi. Akibatnya, kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak-anak kerap tidak terpenuhi.

“Sebetulnya suami saya pintar kalau menabung penghasilan selama melaut. Tapi kalau sudah sampai rumah, uangnya pasti habis. Pertama untuk membayar utang kebutuhan sehari-hari di warung, sisanya untuk senang-senang sendiri,” tutur Sriyatun.

Keadaan itu turut memengaruhi perjalanan pendidikan Firza. Sekitar tiga tahun lalu, ketika usianya masih 15 tahun, ia memutuskan berhenti sekolah setelah lulus SMP dan mulai bekerja. Firza mengambil keputusan tersebut atas kemauannya sendiri di tengah kesulitan ekonomi keluarga.

Kini, Firza bekerja di sebuah toko di pasar yang menjual aneka jajanan. Penghasilannya sekitar Rp50.000 per hari. Penghasilan Firza menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, Sriyatun tidak bisa bekerja lantgangguan kesehatan di antaranya asam lambung, vertigo, dan kekurangan kalium yang membuat kondisi tubuhnya mudah lemas.

Kesulitan keluarga semakin berat ketika kondisi kesehatan suami Sriyatun memburuk hingga tak lagi mampu bekerja dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dalam keadaan itu, suaminya sempat berpikir untuk menyerahkan Fanza, anak kedua mereka yang saat itu berusia 2 tahun kepada orang lain agar beban kehidupan keluarga berkurang.

Namun, Sriyatun menolak pemikiran tersebut. Baginya, Fanza tetaplah anak yang harus dirawat dan dibesarkan sendiri, sesulit apa pun keadaan yang mereka hadapi.

Penulis:

Editor: Nuraida