ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Beras Uwi: Keseriusan Membangun Sistem dari Budidaya hingga Badan Usaha
12 Juni 2026 20:57
Dunia tengah menghadapi perubahan besar dalam tata kelola pangan global. Pangan tidak lagi sekadar kebutuhan dasar manusia, tetapi menjadi bagian dari strategi geopolitik berbagai negara. Ketika konflik terjadi, jalur distribusi terganggu, atau negara produsen membatasi ekspor komoditas tertentu, maka negara-negara yang bergantung pada pasokan luar akan menjadi pihak yang paling terdampak.
Ketergantungan terhadap impor pangan maupun sarana produksi pertanian menyimpan kerentanan yang tidak kecil. Bangsa yang kebutuhan pangannya bergantung pada pihak lain akan selalu berada dalam posisi yang rentan terhadap perubahan situasi global. Karena itulah, kedaulatan pangan menjadi kebutuhan yang semakin mendesak untuk diwujudkan.
Membangun kedaulatan pangan tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Diperlukan strategi yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis komoditas sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian yang dimiliki. Di sinilah diversifikasi pangan dan hilirisasi pangan memiliki peran penting.
Diversifikasi pangan merupakan langkah untuk mengembangkan berbagai sumber pangan yang tersedia sehingga kebutuhan masyarakat tidak hanya bergantung pada satu komoditas tertentu. Sementara itu, hilirisasi pangan bertujuan mengolah hasil pertanian menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan lokal yang sangat beragam. Namun, sebagian besar potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, berbagai tanaman lokal memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Pada tahun 2024, Ketua Umum OPSHID FKYME, Sang Maulana Moch. Subchi Azal Tsani mengeluarkan seruan penanaman Uwi. Arahan tersebut menjadi titik awal gerakan penanaman Uwi di berbagai daerah.
Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) mendirikan Program Ketahanan Pangan Uwi sebagai ikhtiar nyata untuk memperkuat kemandirian pangan bangsa dan sosial ekonomi secara nyata. Uwi tidak hanya dipandang sebagai tanaman pangan, tetapi sebagai komoditas strategis yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif dan sumber penguatan ekonomi organisasi.
Upaya ini juga menjadi bagian dari kontribusi OPSHID dalam memperkuat ketahanan pangan nasional menuju cita-cita kemerdekaan Indonesia, yaitu kesejahteraan rakyat. Melalui perluasan pemanfaatan pangan lokal, penguatan diversifikasi sumber pangan, serta revitalisasi potensi pangan Nusantara yang mulai ditinggalkan. Pendekatan ini menegaskan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun melalui partisipasi dan kemandirian masyarakat.
Uwi dipilih karena memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan bangsa dalam menghadapi ketidakpastian global. Sebagai tanaman asli Nusantara, Uwi memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan. Tanaman ini relatif tahan terhadap gangguan hama, tidak memerlukan kebutuhan air sebesar padi, serta mampu tumbuh pada berbagai karakteristik lahan. Uwi dapat bertahan lama di dalam tanah setelah matang sehingga dapat dipanen sesuai kebutuhan. Karakteristik ini menjadikan Uwi berpotensi sebagai cadangan pangan alami yang dapat dimanfaatkan ketika terjadi gangguan pasokan maupun kondisi darurat.
- Ditinggal Suami, Suwarsi Banting Tulang Hidupi Ketiga Anaknya
- Sehat Tentrem Mahal Tapi Laku!
- Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah
- Yatim Piatu di Bogor Menanti Masa Depan di Rumah yang Hampir Roboh
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem