Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Peran Sjarikat Islam dalam Perlawanan Terhadap Kolonialisme 

10 Februari 2025 17:00

Peran Sjarikat Islam dalam Perlawanan Terhadap Kolonialisme 

Pembahasan ini  merupakan lanjutan dari “KOMUNISME DI INDONESIA: HANTU MASA LALU, MASIHKAH JADI ANCAMAN?”.  

Umat Islam, sebagai mayoritas di Indonesia, memainkan peran penting sebagai pelopor dalam gerakan kebangkitan nasional. Namun, narasi sejarah seringkali mendiskreditkan kisah sebenarnya.  

Sejak era modern, wilayah Indonesia telah menarik perhatian dunia. Di antaranya Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Jepang telah melakukan praktik imperialis dan kolonialis terhadap wilayah ini. Dan umat muslim sebagai mayoritas tidak lepas dari ancaman bagi mereka. 

Bagi bangsa imperialis, umat muslim adalah penghalang terbesar dalam usaha kaum kolonial untuk memperluas dan mempertahankan pengaruhnya di tanah jajahan, karenanya penjajahan tidak akan berhenti hingga mendapat kekuasaan secara kaffah di tanah Indonesia. 

O.Hashem (2018:117) menulis dalam bukunya ungkapan dari Walter Z. Laqueur, seorang Ilmuwan ahli Soviet dan Islam: 

“Islam bukan saja merupakan agama, tetapi juga setidak-tidaknya merupakan tata hidup. Memberantas Islam bukan hanya dengan menutup rumah-rumah ibadat, tetapi harus disertai dengan melenyapkan seluruh sistem sosial dengan segala adat istiadat maupun tata hidupnya yang khas.”

Faham komunis yang masuk ke Indonesia merupakan bagian upaya untuk melemahkan pengaruh umat muslim dalam perjuangan membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan. Untuk itu perlu kita ketahui bersama, pengaruh dari faham komunisme pada umat muslim di Indonesia, khususnya yang tergabung dalam Sjarikat Islam yang dipimpin oleh Oemar Said Tjokroaminoto. 

SJARIKAT ISLAM DI BAWAH PIMPINAN TJOKROAMINOTO

Sejak awal masuknya Islam ke Indonesia, umat Muslim telah mengenal perdagangan sebagai salah satu sarana untuk menyebarkan da’wah Islamiyah. Hingga pada tahun 1830, pemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem tanam paksa yang bertujuan untuk memonopoli perdagangan serta mengurangi pengaruh umat Muslim terhadap kebangkitan kesadaran nasional Indonesia.  

Meskipun adanya upaya pembatasan tersebut, umat Muslim tidak tinggal diam. Mereka berusaha untuk menghadapi tantangan ini dengan membangun kekuatan ekonomi melalui organisasi yang dapat memperjuangkan kepentingan bangsa. Salah satunya adalah pembentukan Sjarikat Dagang Islam (SDI) oleh Hadji Samanhoedi di Surakarta pada 16 Sya’ban 1323 H/16 Oktober 1905. SDI dibentuk sebagai respons terhadap upaya pemerintah Belanda yang ingin menjadikan Indonesia sebagai sumber bahan mentah untuk industri perdagangan Belanda. 

Selain itu, tujuan lain dari pembentukan SDI adalah untuk mengumpulkan modal guna membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan kapitalis. Pada tahun 1323 H/1906 M, Hadji Samanhoedi juga mendirikan Sjarikat Islam (SI), yang awalnya beranggotakan sekitar 50 orang. Baik SDI maupun SI mendapat sambutan positif dari rakyat, dan pengaruhnya dengan cepat meluas, tidak hanya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tetapi juga ke seluruh wilayah di mana umat Muslim berada. 

Seiring waktu, pada Mei 1912, tiga tokoh dari Sjarikat Islam mengunjungi rumah Tjokroaminoto di Surabaya. Dari diskusi tersebut, beberapa hari setelahnya Tjokroaminoto bersedia untuk memimpin Sjarikat Islam dan dilantik pada 13 Mei 1912 di Solo. Tjokroaminoto sebagai seorang ulama, diplomat, dan tokoh dengan pemahaman politik yang mendalam, menjadi pemimpin yang tepat untuk mengarahkan Sjarikat Islam menuju tujuan perjuangan yang lebih luas. 

Mengacu pada risalah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, Oemar Said Tjokroaminoto berjuang untuk membangkitkan kesadaran nasional umat Islam, agar mereka siap untuk merebut kembali hak-haknya dan bangkit sebagai bangsa yang merdeka. Penyerahan kepemimpinan Sjarikat Islam dari Hadji Samanhoedi kepada Tjokroaminoto terjadi pada 1332 H/1912 M, yang dilanjutkan dengan Rapat Akbar Sjarikat Islam di Surabaya pada 1331 H/1913 M. Rapat ini memutuskan bahwa Sjarikat Islam bukan lagi sekadar organisasi lokal Surakarta, melainkan harus bergerak lebih luas dengan mendirikan cabang-cabang di Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung. 

Keputusan-keputusan yang diambil oleh Sjarikat Islam (SI) tentu menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah kolonial Belanda. Pengaruh besar yang dimiliki SI tidak hanya berasal dari kekuatan organisasi, tetapi juga dari dasar iman yang kuat yang dimiliki oleh anggotanya. Oleh karena itu, untuk melemahkan gerakan ini, pemerintah kolonial berusaha menghancurkannya dengan menerapkan paham-paham yang bertentangan dengan semangat perjuangan SI, salah satunya melalui pengaruh yang dibawa oleh Hendricus Josephus Fraciscus Marie Sneevliet seorang Belanda yang berfaham Komunisme.

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Sa’adatush S.