ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Peran Sjarikat Islam dalam Perlawanan Terhadap Kolonialisme
10 Februari 2025 17:00

PERAN TASHAWUF DALAM PERLAWANAN TERHADAP KOMUNISME
Ketua Sjarikat Islam, Tjokroaminoto tumbuh dalam lingkungan tashawuf. Kakeknya merupakan ulama’ besar dari Jetis Ponorogo, Kyai Kandjeng Bagoes Hasan Besari, guru besar di pujangga Ronggowasito.
Menurut kisah tutur Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, Tjokroaminoto juga kerap berkunjung ke Ploso yang masih merupakan wilayah Jombang, untuk bertemu Kyai Abdul Mu’thi dan Kyai Muntoho. Kyai Abdul Mu’thi merupakan Mursyid dari Thoriqoh Samaniyyah, dan juga pernah menjabat sebagai ketua Sjarekat Islam kawedanan Ploso. Beliau merupakan ayah dari Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.
Sedangkan Kyai Muntoho dari Sambong - Jombang, masih keturunan dari Syekh Kholil Bangkalan. Beliau juga merupakan ketua Sjarikat Islam di Jombang. Kyai Muntoho ini seorang Mursyid Thoriqoh Naqsabandiyyah.
Keakraban 3 orang ini bisa dibaca lebih lengkap di tuisan berikut: Guru Spiritual Bung Karno di Ploso dan Kemunculan Pergerakan Cinta Tanah Air dari Timur, yang mana setelah Soekarno kecil meyelesaikan pendidikan di kediri, kemudian dititipkan dalam asuhan Tjokroaminoto di Surabaya.
Latar belakang tersebut yang menjadikan Tjokroaminoto dirasa cocok sebagai pemimpin Sjarekat Islam.
Slah satu metode propaganda ideologi komunisme yang berusaha menggerogoti tubuh Sjarekat Islam adalah dengan mengatakan bahwa komunisme tidak bertentangan dengan ajaran Islam, dan apa yang dilakukan orang-orang komunis dengan dalih sosialime adalah 'sejalan dengan pemahaman dalam Islam'. Untuk menjawab propaganda tersebut Tjokroaminoto menulis buku berjudul Islam dan Sosialisme, diterbitkan tahun 1342 H/1924 M.
Menurut Tjokroaminoto, “Seorang muslim sejati dengan sendirinya menjadi sosialis, dan kita kaum Muslimin, jadi kita kaum sosialisten”. Selajutnya, Oemar Said Tjokroaminoto menegaskan hanya Islamlah yang dapat memberikan ajaran sosialisme yang benar. Dan tentunya ajaran Islam jauh lebih sempurna daripada ajaran Komunisme Karl Marx. Juga sebagai penegasan bahwa sosialis Islam berbeda dengan sosialis komunis.
Hal ini kemudian dapat tercermin dari keputusan-keputusan yang diambil dalam beberapa Kongres Sjarikat Islam, yang mampu memberikan dampak luar biasa dan berhasil membangkitkan kesadaran umat muslim di tingkat nasional. Melalui National Congres Centeral Sjarikat Islam pertama yang diadakan di Gedung Concordia, atau Gedung Merdeka di jalan Asia Afrika Bandung, Sjarikat Islam memelopori sosialisasi sebagai istilah nasional, dan dengan berani menuntut Indonesia Merdeka dengan istilah Pemerintahan Sendiri atau Zelf Bestuur pada 17-24 Juni 1916 M/ 15-22 Sya’ban 1334 H.
Pada tahun yang sama dengan berakhirnya pemberlakuan tanam paksa (1830-1919), jumlah anggota Sjarikat Islam semakin berkembang pesat. Ketika diadakan National Congres Centraal Sjarikat Islam di Surabaya tahun 1337 H/1919 M, hadir sebanyak 2,5 juta anggota. Tentulah jumlah ini cukup besar dan sangat mengkhawatirkan bagi pemerintah kolonial.
Dengan melihat tahun di kedua peristiwa tersebut, mungkinkan berakhirnya tanam paksa di Indonesia, terdapat kontribusi dari Sjarekat Islam?
Masih menurut Tjokroaminoto, hanya dengan berlandaskan ajaran Islam yang tetap dalam tauhidnya, rakyat Indonesia akan terbebas dari penindasan perekonomian dan penjajahan dengan politik kristenisasinya.
Artinya metode penggeseran paham dengan dimunculkannya komunisme terbukti tidak bisa membendung gerak Sjarikat Islam. Hal ini tidak bisa lepas dari sifat dasar SI sebagai organisasi yang berlandaskan pada ajaran Tashawuf yang mendalam.
Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa thoriqoh menjadi benteng Bangsa Indonesia dari dulu hingga sekarang. Merujuk pada Abu Hanifah dalam bukunya Tjita-Tjita Perjoangan halaman 126:
“Dari dulu benteng-benteng agama Islam diperdapat dalam golongan-golongan tarikah-tarikah, biar namanya Naksabandijaah, Kadarijah, Satrijah, atau lain-lain. Dan pesantren-pesantren serta langgar-langgar jang dikepalai oleh alim-ulama jang tinggi ilmunja dalam keagamaan manjdjadi pertahanan agama Islam terhadap Banjir fikiran Barat dan fikiran modern jang anti-agama.”
(OPSHID Media)
——————
Bersumber dari:
- Ajaran Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Muchammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi.
- Buku Api Sejarah jilid 1 (2010), oleh Ahmad Mansur Suryanegara, diterbitkan oleh: Suryadinasti Bandung.
- Buku Menaklukkan Dunia Islam, oleh O. Hashem (1968), diterbitkan oleh: JAPI – Surabaya.
- Buku Agama Marxis: Asal-Usul Ateisme dan Penolakan Kapitalisme (2018), oleh O. Hashem, diterbitkan oleh Nuansa Cendekia.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur