Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Guru Spiritual Bung Karno di Ploso dan Kemunculan Pergerakan Cinta Tanah Air dari Timur

06 Juni 2024 07:00

Guru Spiritual Bung Karno di Ploso dan Kemunculan Pergerakan Cinta Tanah Air dari Timur

DUNG TURI, TEMPAT MENGAJI BUNG KARNO

Seperti pondok pada umumnya, Dung Turi juga ramai dengan masyarakat yang datang. Baik dari sekitar dan luar daerah yang hendak menimba ilmu kepada Kyai sekaligus pengasuh Pesantren Dung Turi, Kyai Hajj Abdul Mu’thi. Kyai Hajj Abdul Mu'thi adalah ayahanda dari Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Kyai Mukhtar Mu'thi.

Selain Sokarno kecil, ada juga kakaknya yang ikut serta merasakan pendidikan Thoriqoh dan Tashawwuf sejak kecil. Ia adalah Raden Soekarmini, lahir di Bali pada 29 Maret 1898, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Bu Wardoyo.

Dengan jarak rumah Bung Karno yang terletak di Ngelo, Rejoagung tak heran jika Soekarno kecil sering main ke Pesantren Dung Turi milik Kyai Abdul Mu’thi. Kedekatan Soekarno kecil dengan guru spiritualnya menimbulkan kedekatan antara Nyai Siti Nasikhah (istri Kyai Abdul Mu'thi, ibu Kyai Mukhtar—red) dengan Ibu Ida Ayu Nyoman Rai Srimben. Dari kedekatan tersebut muncul beberapa kegiatan sosial dan perdagangan yang dilakukan beliau berdua.

Dasar nilai agama Islam telah diterimanya sejak usia muda dengan mengaji/menjadi murid di Pesantren Dung Turi. Selain Pesantren Dung Turi Bung Karno juga belajar pada Kyai Muntoho yang berada di Sambong, Jombang. Kyai Muntoho masih merupakan keturunan dari Syeikhona Kholil Bangkalan.

Pesantren Dung Turi adalah cikal bakal Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah yang diteruskan oleh Kyai Moch. Mukhtar Mu'thi. Yang mana pada awalnya Pesantren Dung Turi didirikan oleh Kyai Achmad Syuhada’ (ayah Kyai Abdul Mu'thi) pada tahun 1830, lalu diteruskan oleh Kyai Hajj Abdul Mu'thi, dan kini diteruskan lagi oleh putranya, Kyai Moch. Mukhtar Mu'thi.

 

ORGANISASI GURU-GURU BUNG KARNO

Kyai Hajj Abdul Mu’thi dulu adalah Ketua Organisasi Sarekat Islam kawedanan Ploso. Sedangkan Kyai Muntoho juga menjadi Ketua Sarekat Islam Jombang. Ketika itu Pimpinan Sarekat Islam seluruh Indonesia (dulu disebut Hindia Belanda) adalah HOS Tjokroaminoto dan Kyai Agus Salim.

Kawedanan Ploso sendiri ketika tahun 1900an masih masuk karesidenan Surabaya. Kedekatan HOS Tjokroaminoto dengan Kyai Abdul Mu’thi dan Kyai Muntoho selain karena berada di organisasi yang sama juga ada kesamaan cita-cita serta visi-misi untuk kemaslahatan rakyat dan kemerdekaan Bangsanya. Ketika itu Ploso menjadi tempat yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah karena adanya moda transportasi kereta uap, yang saat itu rel keretanya berada di depan Pesantren Dung Turi. Saat ini, area tersebut telah menjadi jalur utama antar provinsi.

 

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.