ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Guru Spiritual Bung Karno di Ploso dan Kemunculan Pergerakan Cinta Tanah Air dari Timur
06 Juni 2024 07:00

PERGERAKAN CINTA TANAH AIR
Masyarakat daerah Lor Brantas (utara sungai Brantas) Jombang memiliki karakteristik mandiri, unik, memiliki daya juang dan nilai spiritualitas yang tinggi, dan khususnya dikenal kuat. Hal ini berdasarkan pada masa pemerintahan Belanda, yang pada saat itu kesulitan menaklukkan arek Ploso. Kawideran Ploso dan daerah sekitarnya seperti Kabuh, Plandaan, Tapen dan Kudu menjadi simbol perlawanan karena masyarakatnya yang gigih.
Semangat ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka yang tidak mudah menyerah dan selalu berusaha mandiri dalam berbagai hal. Masyarakat Lor Brantas Jombang sangat menjaga nilai-nilai spiritualitas yang mereka anut dan menjadikannya sebagai pegangan hidup yang kuat. Inilah yang membuat Belanda dan sekutunya kesulitan untuk menguasai daerah ini karena tidak hanya menghadapi perlawanan fisik tetapi juga perlawanan spiritual yang sangat kuat.
Dengan adanya moda transportasi kereta uap, Surabaya dan Ploso menjadi daerah yang mudah untuk dikunjungi. Pertemuan tokoh-tokoh Organisasi Sarekat Islam juga beberapa kali dilakukan di Ploso. Tak heran jika ajaran thoriqoh dan tashawwuf tersebar hingga ke seluruh lapisan masyarakat, hingga ke organisasi-organisasi pergerakan yang ketika itu banyak dimasuki oleh pemuda.
Ajaran tashawwuf yang kental dengan Cinta Tanah Air yang dibawa masyarakat Ploso merasuk ke dalam sanubari pemuda-pemuda pergerakan kemerdekaan bangsa. Dengan adanya ilmu, kebencian pemuda pada penjajah memiliki dasar. Dasar kebencian itu karena adanya sifat materialis, kapitalis dan imperialis dalam diri penjajah. Sifat-sifat yang harus dihapus dari jiwa bangsa, sifat-sifat yang tidak boleh ada dalam diri Bangsa Indonesia, sifat-sifat yang menggerogoti nilai-nilai luhur bangsa.
Pergerakan pemuda muncul guna untuk menghapus semboyan GOLD, GLORY, GOSPEL yang telah dibawa sekutu sejak 1512. Semboyan yang digunakan penjajah untuk mengeruk kekayaan Indonesia untuk kemakmuran negaranya, menjajah bangsa dan tanah air kita untuk menyiarkan Agama Kristen di Indonesia.
Kesadaran Cinta Tanah Air tersebut membuat pergerakan pemuda timur tak dapat dibendung. Pertemuan demi pertemuan banyak dilakukan untuk menyebarkan ajaran cinta tanah air yang menjadi embrio perlawanan pada penjajah demi Kemerdekaan bangsa Indonesia.
Embrio tersebut akhirnya menimbulkan pergerakan di bidang politik, ekonomi, sosial dan pendidikan. Berbagai ikhtiar inilah yang digunakan bangsa Indonesia untuk lepas dari belenggu penjajahan.
Pergerakan yang bermula dari timur ini memunculkan ketakutan pada penjajah. Hingga akhirnya, moda transportasi kereta uap yang menjadi penghubung mobilitas masyarakat ini dihilangkan. Masyarakat Ploso dan sekitar pun seolah dijauhkan dari Karesidenan. Hingga akhirnya Karesidenan Surabaya dipecah menjadi beberapa daerah yang awalnya menjadi satu. Dari pecahan daerah tersebut penjajah membuat peraturan baru untuk menempatkan orang-orangnya untuk dapat mengendalikan daerah-daerah timur khususnya Ploso.
Tapi hal itu tetap tidak menghapus fakta bahwa Ploso Jombang ini adalah 'rumah' yang memupuk ajaran cinta tanah air, yang menjadi embrio kemunculan pergerakan hingga menuju kemerdekaan. Termasuk Bung Karno, yang di kemudian hari menjadi Bapak Proklamator Penyambung Lidah Rakyat Indonesia dan Presiden pertama RI, adalah asli arek Ploso yang lahir di Ploso dan ditanamkan ajaran cinta tanah air di Ploso. (OPSHID Media)
Bersumber dari :
Rangkuman Pitutur Luhur Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi.
Tutur cerita Moch. Subchi Azal Tsani.
Ida Ayu Nyoman Rai Ibu Bangsa, (2012), oleh Dr. Nurinwa Ki S Hendrowinoto.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur