Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kemerdekaan Bangsa Indonesia Bukan Hadiah Bangsa Asing

16 Agustus 2025 07:00

Kemerdekaan Bangsa Indonesia Bukan Hadiah Bangsa Asing

Bulan agustus telah dikenal sebagai bulan kemerdekaan Indonesia tapi esensinya baru sampai pada perayaan, kemeriahan dan perlombaan. Sudahkah kita menjadikan momen kemerdekaan untuk kembali membaca Teks Proklamasi dan Undang-Undang Dasar 1945 secara hikmat?

Sebelumnya, baca juga jurnal edisi kemerdekaan sebelumnya: NKRI Berdasarkan Konstitusi, Bukan Intervensi!

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 alinea ketiga telah disebutkan :

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemerdekaan Indonesia terjadi dengan adanya berkat dan rochmat dari Alloh Yang Maha Kuasa dan dengan dorongan keinginan luhur perjuangan-pergerakan bangsa Indonesia. Sehingga kemerdekaan Indonesia bukanlah pemberian Jepang maupun Blok Sekutu.

 

NAFAS SEGAR DI ANTARA TEKANAN BLOK SEKUTU DAN JEPANG

Menghadapi keadaan geopolitik timbullah suatu prakarsa untuk memecah persoalan dunia ini secara damai. Pada tahun 1941, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dan Presiden Amerika Serikat, Franklin D. Roosevelt mengadakan pembicaraan khusus di atas geladak kapal Augusta di perairan Samudra Atlantik. Tepat pada tanggal 14 Agustus 1941 kedua kepala pemerintah itu menanda tangani rumusan terdiri dari beberapa pasal, yang terkenal dengan nama Atlantic Charter. Dalam salah satu pasalnya berbunyi:

“Segala bangsa berhak untuk menentukan bentuk dan corak pemerintahannya sendiri (Right of Self determination)”.

Pasal tersebut inilah yang kemudian sangat mempengaruhi pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia, khususnya para pelajar dan cendekiawan untuk segera menyusun dan memperoleh kemerdekaan. Isi pernyataan dalam Atlantic Chanter itu ibarat udara segar bagi bangsa yang terjajah tetapi bagi Belanda seperti ditaburnya ranjau-ranjau yang akan menghalangi mereka untuk dapat tetap bercokol di daerah jajahannya.

Di Indonesia, pihak Belanda juga mulai merasakan adanya semacam kekhawatiran. Semakin hari semakin resah, sebab Jepang sebagai Blok Sentral, telah berhasil menduduki daerah-daerah di Asia, dan sekaligus mengancam kedudukan Belanda di Indonesia. Keterlibatan Jepang dalam kancah Perang Dunia II, didorong oleh keinginan mereka untuk merebut negara-negara di Asia yang pada saat itu kebanyakan berada dalam penjajahan bangsa Eropa. Setelah Jepang berhasil menjadi negara industri yang modern, Jepang membutuhkan negara-negara penghasil sumber energi (minyak, batu bara dan mineral) seperti Indonesia. Selain itu, negara jajahan adalah juga merupakan pasar bagi Jepang untuk menjual hasil industrinya. Jadi Jepang menjadikan negara jajahannya untuk dikeruk sumber daya alamnya dan sebagai pembeli dari hasil sumber daya alam itu.

Selain itu Jepang bermaksud untuk membangun imperiumnya di Asia, di mana Jepang akan bertindak sebagai pemimpinnya. Sebelum Jepang menaklukkan pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 8 Maret 1942, Jepang terus-menerus melancarkan propagandanya untuk memikat penduduk Indonesia membantu dan menyambut kedatangan bala tentara Dai Nippon.

Radio Tokyo secara terus menerus mempropagandakan apa yang disebut cita-cita "Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya" (Hakko Ichiu) yang siarannya dimulai dan ditutup dengan memperdengarkan lagu Indonesia Raya. Selama agresi dilancarkan, maka siaran-siaran radio makin diintensifkan. Sebelum pendaratan dilakukan, dari udara disebarkan bendera Jepang dan Indonesia, yaitu Hinomaru dan Merah Putih. Di belakang bendera dibubuhi tulisan yang berbunyi : "Satu Warna Satu Bangsa".

Semuanya itu dimaksudkan untuk menarik simpati dari rakyat Indonesia yang merindukan kemerdekaan, sehingga wajarlah ketika Jepang mendarat, mereka disambut dengan gembira dan kemudian mendapatkan bantuan dari orang-orang dalam melawan penjajah Belanda.

Namun kegembiraan dan harapan bangsa Indonesia mulai sirna setelah mengetahui bahwa pemerintah bala tentara pendudukan Jepang ternyata adalah pemerintah yang bersifat fasistis-militer.

Memasuki tahun 1945, kedudukan Jepang di dalam Perang Pasifik makin terdesak oleh tentara Sekutu, pimpinan Douglas Mac Arthur, yang sejak akhir tahun 1944 mulai melancarkan serangan terhadap kubu-kubu pertahanan Jepang. Menyadari akan kedudukan yang semakin sulit itu, dan memang karena sudah terpaksa, Jepang kemudian berusaha untuk mengambil hati rakyat Indonesia dan berjanji akan memberikan kemerdekaan Indonesia "kelak di kemudian hari", yang disampaikan oleh PM Koiso pada tanggal 7 September 1944.

Sehubungan dengan itu, Jepang membentuk sebuah badan yang disebut Chuo Sangiin, yang kemudian pada tanggal 29 April 1945 dibentuklah Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), atau "Dokuritzu Junbi Chosakai". Badan ini terdiri dari 62 orang berasal dari segenap daerah Indonesia, yang diketuai oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

Baca lengkapnya persoalan BPUPKI pada : Pancasila Lahir Bertepatan dengan Berdirinya NKRI

Penulis: Kholidah

Editor: Sa’adatush S.