ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kemerdekaan Bangsa Indonesia Bukan Hadiah Bangsa Asing
16 Agustus 2025 07:00

KLAIM KEMENANGAN BLOK SEKUTU MENJADI CELAH KEMERDEKAAN BANGSA
Blok sekutu mengklaim Perang Dunia II selesai setelah dijatuhkannya bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Selesainya Perang Dunia II ini kemudian dijadikan tanda bahwa kemenangan telah berada di tangan blok sekutu yang terdiri dari Amerika Serikat, Belanda, Uni Soviet, Inggris, dan Prancis.
Kemenangan Perang Dunia II secara resmi dianggap sebagai kemenangan kolektif Blok Sekutu. Sehingga setelah perang, negara-negara blok sekutu ini kemudian membentuk badan naungan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang diresmikan pada 24 Oktober 1945.
Setelah bom atom Amerika Serikat dijatuhkan di kota Hiroshima, keadaan Jepang tentu tidaklah baik-baik saja. Tanpa memberitahu keadaan Jepang yang sebenarnya pada pasukannya di Indonesia, Panglima Angkatan Perang Jepang untuk Asia Tenggara, Marsekal Terauchi, yang berkedudukan di Dalat (Vietnam), pada tanggal 8 Agustus 1945 memerintahkan Ir Soekarno dan Drs. Moh. Hatta untuk datang menemui Marsekal Terauchi di Dalat, kira-kira 300 Km dari Saigon, dan mereka bertolak memakai pesawat khusus pada hari itu juga.
Sementara itu pada tanggal 8 Agustus 1945, Rusia menyatakan perang terhadap Jepang. Pada tanggal 9 Agustus 1945 sebuah lagi bom atom Amerika Serikat dijatuhkan di atas kota Nagasaki, sehingga Jepang boleh dikatakan patah semangatnya tengah menghadapi hari-hari yang menentukan untuk menyerah. Dalam menghadapi keadaan yang demikian gentingnya itu, Jepang sebenarnya sudah tidak ada kesempatan dan tidak punya kekuasaan lagi untuk menentukan dan memikirkan nasib bangsa lain.
Pertemuan ketiga tokoh Indonesia dengan Marsekal Terauchi di Dalat berlangsung sampai dengan tanggal 12 Agustus 1945, dan rombongan tersebut tiba kembali di Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1945.
Setibanya di Jakarta, Sutan Syahrir langsung menghubungi Bung Hatta dan kemudian bersama-sama pergi menemui Bung Karno. Kepada kedua tokoh itu Sutan Syahrir menyampaikan kabar dari sumber gerakan bawah tanah, bahwa Jepang akan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu resminya tanggal 15 Agustus 1945. Untuk mendapatkan kepastian berita itu maka pada tanggal itu juga Soekarno-Hatta disertai Mr. Ahmad Soebardjo pada sore hari pergi menemui Laksamana Muda Tadashi Maeda (Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jepang di Jakarta) guna menanyakan apakah benar Jepang telah menyerah kepada Sekutu.
Atas pertanyaan itu Maeda tidak bersedia untuk membenarkan ataupun membantahnya, karena ia sendiri belum menerima berita resmi mengenai hal itu. Para pemuda, mahasiswa, barisan-barisan rakyat serta PETA di seluruh Indonesia sejak 6 Agustus (jatuhnya Bom Atom di Jepang) telah siap dan bergerak guna meraih kemerdekaannya.
Berita kekalahan Jepang dari Sekutu kemudian tersebar dari mulut ke mulut di kalangan tertentu, secara berbisik-bisik. Maka seketika itu derap perjuangan mereka menjadi gerakan revolusioner, untuk dapat merubah seluruh tatanan di Indonesia dari jajahan menjadi merdeka.
Sebagai akibat telah menyerahnya Jepang kepada Sekutu, banyak kalangan memperkirakan bahwa Sekutu di bawah pimpinan Mac Arthur sebagai komandan South West Pacific Area akan datang ke Indonesia. Ternyata kemudian Inggrislah yang diserahi tugas mengurus wilayah-wilayah di bawah garis khatulistiwa, termasuk Indonesia. Timbullah kekhawatiran, akan kemungkinan Indonesia dijadikan seperti barang inventaris yang diserahkan oleh Inggris kepada Belanda; mengingat pada jaman Raffles, di mana Inggris menyerahkan kembali wilayah Hindia Belanda kepada Kerajaan Belanda berdasarkan Konvensi London 1814.
Resah oleh belum adanya tanda-tanda bahwa para pemimpin kita menyatakan proklamasi kemerdekaan, satu kesempatan dan saat yang ada hanya satu kali ini, dirasakan dengan gelisah di seluruh Indonesia. Padahal telah terdengar berita resmi bahwa Jepang telah menyerah. Keresahan itu timbul karena waktu, antara tanggal 15 sampai 17 Agustus 1945, telah terjadi apa yang disebut "Masa Kekosongan Kekuasaan".
Namun ada kekhawatiran kalau tergesa-gesa bisa saja proklamasi Kemerdekaan akan dianggap sebagai hadiah dari Jepang atau proklamasi kemerdekaan buatan Jepang. Maka para mahasiswa, pemuda, pelajar, dan anggota-anggota PETA, di Jakarta dan di seluruh Indonesia serentak mengadakan aksi-aksi yang sungguh berani dan amat berbahaya, yang kemudian dikenal sebagai antara lain ‘peristiwa Rengasdengklok’.
Penculikan yang dilakukan kalangan mahasiswa dan pemuda ternyata tak mampu membuat Bung Karno maupun Bung Hatta mengikuti keinginan mereka; agar proklamasi dilakukan segera pada tanggal 15 dan 16.
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan