ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Katanya Belanda Tidak Menjajah Indonesia. Apa Benar?
12 Agustus 2024 07:00
79 tahun setelah kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945, penulis banyak mendapati berbagai pertanyaan ataupun keraguan yang berseliweran di jejaring sosial media. Salah satunya dengan maraknya pemikiran bahwa “Belanda tidak pernah benar-benar menjajah Indonesia”.
Sebagai konteks, pemikiran tersebut salah satunya berasal dari beredarnya sejarah pembangunan jalan tol Anyer - Panarukan pada masa kepemimpinan Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke 36, antara tahun 1808 hingga 1811. Pada pembangunan tersebut banyak rakyat Pribumi yang disertakan untuk kerja rodi atau kerja paksa. Dalam berita yang beredar, sebenarnya Daendels telah mengeluarkan sejumlah uang untuk biaya mandor, pekerja, alat dan konsumsi. Uang tersebut diserahkan pada Bupati saat itu (yang tidak diketahui namanya) dan tercatat bukti kwitansinya. Namun, uang tersebut tidak pernah dibayarkan pada para pekerja.
Berita yang beredar tersebut bertentangan dengan apa yang tertulis dalam buku kecil “100 Tahun Wafatnja Pahlawan Diponegoro”, diterbitkan oleh Kementerian Penerangan RI pada tahun 1955, yang menyatakan bahwa Daendels adalah penguasa yang kejam dan rakus. Ia berusaha mempertahankan jajahan Belanda di pulau Jawa dari serangan Inggris, sehingga dengan nekat memperkuat militer Hindia Belanda pada saat itu dengan menjadikan pemuda-pemuda Indonesia menjadi serdadu Belanda dengan gaji yang sangat kurang. Jika ternyata kurang banyak jumlah pemuda yang masuk serdadu, maka mereka dipaksa dengan ancaman kekerasan. Pemimpin yang mengirimkan serdadu paling banyak diberi hadiah dan yang tidak suka dengan kebijakan tersebut dibunuh.
Pembangunan jalan Anyer - Panarukan tersebut juga untuk kepentingan militer. Tercatat, proyek pembangunan ini memakan korban ribuan jiwa dan para pekerjanya tidak dibayar sepeserpun.
Terlepas dari benar atau tidaknya berita yang beredar tersebut, hal ini, beserta beberapa “teori konspirasi” lainnya, menimbulkan suatu pemikiran, yang menurut penulis, adalah cikal bakal robohnya negara, yaitu “ternyata lebih enak dijajah ya”. Tentu didukung dengan berkali-kalinya Rakyat Indonesia dikecewakan oleh kinerja pejabat pemerintah yang masih belum benar-benar menyeluruh menjadi pelayan rakyat.
Di sini penulis akan mencoba sedikit menggeser perspektif anda, untuk melihat Indonesia dari sudut yang berbeda.
- Pesan Cinta Rumi Untuk Dunia, Syekh Mukhtar Mu'thi: Tanda Kebangkitan Tashawwuf
- Tambah Satu Unit, Yatim Piatu di Ngawi Terima Rumah Gratis dari OPSHID
- Pembangunan Rumah Gratis Yang Hadir Membawa Nilai Keimanan dan Kemanusiaan
- Tinggalkan Rumah Kayu, Buruh Tani di Jombang Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Kuli Batu di Pasuruan Tak Menyangka Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Realisasikan Ajaran Al Qur-an, Santri MQ Wujudkan Syukur Menjadi Aksi Bangun Rumah
- Setetes Bakti untuk Bangsa dan Negara: Rumah Baru dari Pemuda Shiddiqiyyah Sidoarjo
- Sambut Sumpah Pemuda ke-98, OPSHID Gotong Royong Bangun Rumah Syukur!
- Serah Terima Rumah Syukur Kemerdekaan Unit ke-136, OPSHID Bangun Dengan Desain Berbeda
- Peletakan Batu Pertama Perpustakaan Tashawwuf: Tanda Shiddiqiyyah Semakin Berkembang