Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Katanya Belanda Tidak Menjajah Indonesia. Apa Benar?

12 Agustus 2024 07:00

Katanya Belanda Tidak Menjajah Indonesia. Apa Benar?

CINTA TANAH AIR ADALAH BENTENG

Syekh Mukhtar sering menyampaikan dalam berbagai kesempatan “Cinta Tanah Air adalah benteng NKRI. Tanpa cinta Tanah Air, robohlah suatu negara”.

Cinta tanah air itu juga merupakan suatu sifat yang dapat menggerus sifat penjajahan dalam hati manusia. Bila manusia itu memiliki sifat cinta tanah air yang kuat, maka tak mungkin ia akan tercemar faham imperialisme, materialisme atau kapitalisme yang bisa memunculkan sifat penjajahan. Bila dikatakan cinta tanah air itu adalah benteng, maka itu benar adanya.

Alangkah lemahnya sifat cinta tanah air dalam hati manusia, apabila muncul dalam pemikirannya “hidup sebagai bangsa jajahan lebih enak”.

Bangsa Indonesia beralih kekuasaan dari Belanda ke Inggris pada sekitar tahun 1811, lalu Belanda lagi pada tahun 1816, lalu diambil alih Jepang pada tahun 1942. Setiap peralihan kekuasaan, menimbulkan penderitaan yang sangat luar biasa bagi rakyat pribumi saat itu. Baik secara sistem birokrasi maupun politik yang mengakibatkan permusuhan dan perpecahan di antara Bangsa Indonesia.

Belum lagi bahwa segala hal buruk yang terjadi pada bangsa Indonesia di zaman sekarang, sedikit banyak adalah warisan dari penjajahan yang dialami bangsa kita selama ratusan tahun. Adanya praktik nepotisme, feodalisme, korupsi mulai pungutan liar hingga suap yang dilakukan oleh pejabat pemerintah baik dari Belanda hingga pemerintah lokal, lahir dari suatu sistem birokrasi yang bercela dan tidak menindak tegas kejahatan tersebut.

Penderitaan itulah yang banyak menimbulkan berbagai pemberontakan dan perlawanan di berbagai wilayah Hindia Belanda.

Untuk meredam pemberontakan serta perlawanan dari rakyat Indonesia, pihak penjajah melakukan berbagai macam cara pembodohan serta perpecahan. Di antaranya adalah dengan mematikan para pentolan-pentolan dan segala macam bibit-bibit perlawanan serta memecah belah gerakan perlawanan itu dari dalam.

Pola tersebut bisa kita lihat pada saat zaman ini. Berbagai macam ideologi politik disusupkan pada kita, terutama anak-anak muda, untuk membangun sebuah kepercayaan bahwa pada masa pemerintahan Belanda tidak ada kekejaman maupun kejahatan. Ini sama saja beranggapan bahwa ikhtiar para pahlawan untuk mengantar Bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan adalah sia-sia dan tidak ada gunanya. Sama saja beranggapan bahwa nasib penderitaan Bangsa Indonesia pada saat itu, yang dijadikan budak dalam negeri sendiri, tidak pernah ada.

Betapa butanya para generasi penikmat yang dengan mudah mengabaikan atau mengebelakangkan nilai-nilai luhur kemerdekaan. Apabila semakin banyak individu-individu generasi penikmat yang beranggapan demikian, maka tidak lama negara ini akan sampai pada kerobohan, kelongsoran, kemerosotan.

Maka dari itu, benteng sejati dari berdirinya negara adalah cinta tanah air. Dengan menanamkan sifat-sifat cinta tanah air dalam diri manusianya, maka terhindarlah manusia itu dari sifat penjajah. Sifat yang berpotensi menimbulkan kerusakan di muka bumi.

Lihatlah sekitar anda. Apabila ada satu gerakan yang dengan getol menyuarakan cinta tanah air, lalu berusaha dihancurkan, dimatikan, atau ditenggelamkan, maka itu adalah salah satu contoh upaya para penjajah untuk mematikan bibit-bibit perlawanan. (OPSHID Media)

 

——————

Bersumber dari:

  • Ajaran Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi
  • 100 tahun wafatnya Pahlawan Diponegoro, (1955), oleh Kementerian Penerangan R.I

Penulis: Sa’adatush S.

Editor: Nuraida