Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air

02 Juli 2026 07:00

Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air

CINTA TANAH AIR DAN JATI DIRI MANUSIA

Cinta tanah air bukan sekadar retorika semata, meski kerap dimaknai demikian lantaran ‘longsor’ akibat perbuatan manusia yang menjalankannya. Bukan nasionalisme buta yang mengisyaratkan “kalau kamu cinta, jangan kritik negara”, bukan pula bentuk suatu loyalitas pada rezim yang berkuasa. 

Untuk memahami perkara ini, penting bagi kita untuk memisahkan bentuk negara dari manusia-manusianya. Bila kita ibaratkan negara ini adalah rumah, maka kita—bangsa Indonesia—adalah penghuni rumah, dan pemerintah Indonesia adalah kelompok dalam penghuni rumah yang kita percaya untuk menjalankan segala kebutuhan rumah—para pelayan.

Cinta tanah air bukan mencintai para pelayan, melainkan mencintai rumah tempat yang kita tinggali itu.

Tapi rumah yang kita maksud ini bukan bangunan mati. Ia adalah tanah dan air itu sendiri — dan di titik inilah cinta tanah air menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar urusan siapa yang mengurus rumah. Persoalan cinta tanah air, sejatinya adalah tentang memahami siapa diri kita sebagai manusia.

Manusia tercipta dari tanah dan air, hidup dan menua di atas tanah dan air, dan nantinya akan dikubur di tanah dan air.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ

"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah." (QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 12)

Dari tanah dan air itu tumbuh segala tanaman, yang menjelma jadi sayur dan buah. Leluhur dan orang tua kita memakannya—begitu pula daging hewan yang turut hidup dari hasil bumi yang sama—hingga dari sanalah terbentuk saripati yang menjadi cikal bakal tubuh kita. Maka tanah dan air bukan sekadar pijakan tempat kita berdiri; ia menyatu dalam darah dan daging kita sendiri. Dan ke tanah dan air pula jasad kita akan kembali ketika ajal tiba.

قَالَ فِيْهَا تَحْيَوْنَ وَفِيْهَا تَمُوْتُوْنَ وَمِنْهَا تُخْرَجُوْنَ

"(Alloh) berfirman, Di sana kamu hidup, di sana kamu mati, dan dari sana (pula) kamu akan dibangkitkan." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 25)

Tidak cinta tanah air sama saja khianat terhadap jati diri kita saat ini—khianat terhadap asal muasal kita, khianat terhadap tubuh yang kita gunakan, dan khianat terhadap tempat jasad kita akan kembali ketika ajal tiba.

Menurut Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 29 ayat (1): NEGARA BERDASAR ATAS KETUHANAN YANG MAHA ESA.

Alam beserta seluruh isinya adalah ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa. Namun menciptakan alam semesta tanpa manusia tak ubahnya menciptakan alat yang tak berfungsi, rumah megah tanpa penghuni. Manusia lahir, hidup, dan kelak akan mati di alam dunia. Maka, Tanah air Indonesia tempat kita berdiri saat ini adalah salah satu bentuk cinta terbesar dan konkret dari Tuhan kepada makhluknya.

وَسَخَّرَ لَـكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ 

"Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rochmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang-orang yang berpikir." (QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 13)

Cinta Tuhan tersampaikan kepada manusia melalui tanah air. Maka ketika kita cinta kepada tanah air, di situlah terjadinya pertemuan dua cinta—cinta Tuhan kepada kita dan cinta kita kepada Tuhan.

Sebagai insan Indonesia yang mempunyai perasaan jernih, pikiran bening, akal tajam dan jiwa yang hidup, pastilah akan menginsyafi siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi nantinya. Sebuah keinsyafan yang akan melahirkan syukur dan cinta, cinta kepada Tuhan dan cinta kepada makhluknya—baik itu alam semesta maupun sesama manusia.

Karena sesungguhnya, cinta tanah air adalah soal syukur.

Penulis:

Editor: Nuraida