Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis

19 Juli 2026 07:00

Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis

Bagi keluarga Martono, rumah bukan sekadar perlindungan dari hujan, melainkan saksi bisu dari keterbatasan yang menyesakkan. Dengan luas lahan yang hanya 28 meter persegi—bahkan menyempit menjadi 3,5 meter di bagian belakang—hunian itu tak memiliki sekat permanen. Ruang tamu, kamar tidur, hingga dapur lebur dalam satu fungsi. Sebuah teras darurat seluas 2 x 4 meter yang tertutup seng kusam menjadi satu-satunya area untuk menerima tamu, meski Martono sendiri sadar kondisi itu jauh dari kata layak.

"Keadaannya cukup memprihatinkan. Atapnya seng, belum ada kamar mandi, kamar tidurnya jadi satu, dan tidak ada ruang tamu," ujar Ratno, Sekretaris Organisasi Dhilaal Berkat Rohmat Alloh (DHIBRA) Shiddiqiyyah Yogyakarta, saat mengenang kunjungan pertamanya ke lokasi tersebut.

Kondisi ini kian pelik mengingat kedua anak Martono, Sabrila Adiva Marta (14) yang duduk di bangku SMP dan Ibrahim Pranandika Marta (10) di bangku SD, mulai membutuhkan ruang pribadi untuk tumbuh. Sebenarnya Martono pernah masuk dalam radar survei bantuan pemerintah, namun harapan itu pupus setelah mengetahui bahwa pembangunan rumah layak huni dari pemerintah ternyata mempunyai persyaratan yang menurutnya cukup berat. Yakni harus ada tambahan dana mandiri dari penerima. Bagi seorang buruh sampah, menyisihkan uang untuk pendamping bantuan renovasi adalah kemustahilan. Itulah sebabnya Martono memilih untuk tidak menerima bantuan tersebut.

Titik balik muncul saat organisasi Dhilal Berkat Rochmat Alloh (DHIBRA) Shiddiqiyyah Yogyakarta melakukan survey penduduk di Kecamatan Umbulharjo untuk mencari kandidat calon penerima Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS), dalam rangka mensyukuri nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui koordinasi dengan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan Sorosutan, nama Martono ternyata masuk sebagai kandidat prioritas.

Berbeda dengan skema bantuan yang pernah ia temui, program Rumah Syukur dari organisasi DHIBRA ini benar-benar dibangunkan dari awal sampai akhir, 100% gratis tanpa ada biaya tambahan bagi penerima. Atas Berkat Rochmat Alloh, Martono terpilih sebagai penerima rumah syukur Yogyakarta.

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.