Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Didik: Pedagang Es Tebu di Sidoarjo Rawat Dua Anak Seorang Diri

27 Oktober 2025 12:00

Didik: Pedagang Es Tebu di Sidoarjo Rawat Dua Anak Seorang Diri

Sidoarjo - Kisah ini tentang seorang ayah yang membesarkan buah hatinya tanpa didampingi sang istri. Ia bernama Didik Sugianto, seorang pedagang es tebu dan pekerja serabutan untuk menghidupi kedua anaknya. Bagi Didik, setiap hari adalah perjuangan baru. Tiap kali meninggalkan rumah untuk mencari rezeki, ia teringat akan anak-anaknya yang harus dipenuhi kebutuhannya. 

Didik berusia 41 tahun. Sehari-hari, ia tak hanya menjual es tebu — terkadang juga kerja serabutan. Bila ada pesanan ngelas besi, ia berangkat pagi dan baru pulang sekitar pukul setengah lima sore. Di rumah, tangannya masih sibuk lagi: menambal ban, memperbaiki apa saja yang bisa menghasilkan rupiah untuk kebutuhan anak-anaknya.

Setahun berlalu ia menjalani hari tanpa istri. “Ibunya anak-anak sudah meninggal,” ucapnya lirih. Duka belum lama berlalu. Ia mengingat akan masa di mana dalam satu bulan, lima orang dari keluarganya meninggal dunia — mulai dari mertua, istri, bapak kandung, hingga kerabat dekat lainnya. “Satu keluarga, satu bulan, lima orang meninggal,” katanya, menunduk.

Memang, sebagian besar orang bilang memenuhi kebutuhan keluarga adalah tugas ayah. Tapi, Didik mengambil dua peran sekaligus; sebagai ayah, juga Ibu.

Tanggung jawab penuh berada di pundaknya untuk membesarkan kedua anaknya: Ahmad Bagus Saputra (17), kelas 3 SMA, dan Angelina Ruhi Aurora (7), masih duduk di bangku kelas 1 SD. “Kalau dibilang cukup ya cukup, kalau dibilang nggak cukup ya, nggak cukup. Dicukup-cukupkan,” katanya sambil tersenyum tipis.

PHOTO-2025-10-24-12-37-56.jpeg (181 KB)

Rumah Lama Milik Didik

Didik sendiri memiliki rumah yang tidak layak huni, sehingga membuatnya ikut sang istri - tinggal di rumah milik mertua. Sepeninggal sang istri dan mertuanya, Didik masih menumpang di rumah itu, seatap dengan keluarga adik iparnya. “Kata keluarga istri nggak papa tinggal di sana, tapi saya yang gak nyaman,” ujarnya lirih. “Rasanya kayak orang luar: Istri nggak ada, mertua nggak ada", lanjutnya. 

Di tengah ketidaknyamanan Didik yang harus hidup bersama keluarga adik ipar dari mendiang sang istri. Suatu hari, Didik dihubungi oleh seseorang bernama Mas Inur. “Saya di rumah, ada orang datang, bilang jangan takut ya Dik, ada begini-begini…", cerita Didik mengingat awal pertemuannya dengan OPSHID.

Didik ditanya soal tanah, dan setelah difoto, Mas Inur berjanji akan memberi kabar lagi. Tak lama kemudian, kabar itu datang: rumahnya akan dibangun kembali. “Saya ya alhamdulillah, mas Inur bilang ‘terima kasih ya’, loh, kok malah berterima kasih ke saya, saya kan nggak ikut apa-apa,” perasaan senang dan bingung kala itu menyelimuti hati Didik.

IMG_1158.jpeg (160 KB)
Progres Pembangunan Rumah Didik oleh OPSHID Sidoarjo 

Bagai mimpi di siang bolong, rezeki yang tak pernah terlintas dalam benak Didik bahwa ia akan dibangunkan rumah gratis oleh Pemuda Shiddiqiyyah. Tidak saling kenal, tapi mau membangunkan rumah untuknya, bahkan yang membangunkan rumah justru yang berterima kasih. 

Kini, di balik lelah dan rasa tidak nyaman yang Didik rasakan, ia bersyukur bisa mendapatkan tempat tinggal yang sangat layak untuknya dan keluarga. “Terima kasih, saya belum bisa balas apa-apa,” senyumnya. “Semoga panjang umur, rezekinya banyak", doanya. Dalam sorot mata Didik tampak jelas ada keteguhan hati seorang ayah yang terus berjuang, tanpa keluh, demi dua anak yang menjadi alasan ia tetap berdiri tegak. (OPSHID Media)

Penulis: Baqiyat Aliansyah Siregar

Editor: Nuraida