ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak
12 Agustus 2026 19:12
DIBANGUNKAN RUMAH GRATIS UNTUK DUA KELUARGA
Hingga kemudian, kabar tentang pembangunan rumah datang melalui tim survei Dhilaal Berkat Rochmat Alloh Shiddiqiyyah. Bagi Riyandoko, kedatangan mereka membawa harapan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Keinginan memiliki tempat tinggal yang lebih baik sebenarnya ada, tetapi kondisi ekonomi membuatnya tidak mungkin mewujudkannya sendiri.
“Alhamdulillah senang dibantu, sebab secara akal kita ingin, tapi sudah nggak mungkin bisa kalau buat sendiri, memang tidak punya penghasilan.” ungkap Riyandoko.
Pembangunan rumah tersebut menjadi bagian dari program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah. Sebelum pembangunan dilakukan, tim DHIBRA terlebih dahulu melakukan survei untuk melihat kondisi rumah dan keadaan penerima.
Dalam prosesnya, kondisi kepemilikan tanah menjadi salah satu pertimbangan. Tanah yang ditempati merupakan milik bersama keluarga. Di atas tanah tersebut, Riyandoko tinggal bersama kakaknya, Pak Pi’i, sementara Pak Pi’i menempati bagian lain bersama anak, menantu, dan dua cucunya.
Karena berada dalam satu bidang tanah dan sebelumnya masih berada dalam satu bangunan dengan atap serta plafon yang sama, pembangunan kemudian dilakukan dalam satu kesatuan rumah yang dibagi menjadi dua bagian tempat tinggal untuk dua penerima, yakni Riyandoko dan Pak Pi’i.
Keadaan ekonomi kedua keluarga yang sama-sama terbatas membuat pembangunan tidak hanya menyasar satu keluarga, tetapi sekaligus memberikan ruang yang lebih baik bagi keduanya. Kabar pembangunan rumah itu pun disambut baik oleh warga sekitar bahwa mereka memang layak mendapatkan rumah gratis.
Rumah tersebut dibangun dengan ukuran 6,8m x 12,3 meter dengan konsep mirror atau cermin. Bangunan dibagi menjadi dua sisi dengan tata ruang yang serupa, masing-masing terdiri atas ruang tamu, dua kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Saat ini, pembangunan telah memasuki tahap pemasangan keramik dan ditargetkan selesai pada 16 Agustus.

Riyandoko berharap rumah tersebut tidak lagi membuatnya khawatir ketika hujan turun. Ia bersyukur rumah yang kini ditempatinya tidak lagi mudah tergenang maupun mengalami kebocoran seperti sebelumnya.
“Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Kyai, Gusti Alloh yang membalas. Kalau saya balas bagaimana lagi, jelas nggak bisa, jadi ya doa saja. Semuanya, termasuk relawan yang membantu mulai bongkar pertama sampai akhir, saya serahkan Gusti Alloh kebaikan-kebaikan itu,” ucapnya.
Riyandoko menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu. Ia menyadari tidak mampu membalas kebaikan tersebut secara langsung, sehingga doa menjadi satu-satunya cara yang dapat ia berikan untuk Shiddiqiyyah. Setelah bertahun-tahun bertahan dengan kondisi fisik dan ekonomi yang terbatas, semoga Riyandoko dan Pi’i dapat menjalani kehidupan yang lebih nyaman di rumah barunya. (OPSHID Media)
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak
- Mengejar Bola, Menemukan Diri: Membaca Tashawuf dari Lapangan Hijau
- Ditinggal Suami, Suwarsi Banting Tulang Hidupi Ketiga Anaknya
- Sehat Tentrem Mahal Tapi Laku!
- Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah
- Yatim Piatu di Bogor Menanti Masa Depan di Rumah yang Hampir Roboh
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem