ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak
12 Agustus 2026 19:12
RUMAH YANG TAK MAMPU IA PERBAIKI
Dengan segala keterbatasan yang dijalani, Riyandoko tetap bertahan di rumah yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil. Rumah tersebut merupakan peninggalan orang tuanya yang berstatus sebagai rumah warisan keluarga untuk bersama. Ruangan di dalamnya hanya disekat untuk menjadi bagian tempat tinggal anggota keluarga yang lain. Di salah satu bagian rumah yang disekat tersebut, tinggal Pak Pi’i (68), saudara kandung Riyandoko yang sudah berkeluarga.
Kondisi rumah Riyandoko tampak berbeda dibandingkan bangunan di sekitarnya. Rumah-rumah tetangga lebih layak, seiring pekerjaan dan penghasilan pemiliknya yang relatif lebih mencukupi. Sementara itu, Riyandoko masih bertahan di rumah yang telah ditempatinya sejak puluhan tahun lalu, dengan kondisi bangunan yang jauh dari kata kokoh.
Namun, keadaan tersebut tidak membuatnya merasa rendah diri. Riyandoko menyadari bahwa perjalanan hidupnya memang berbeda. “Saya biasa saja, tidak minder. Keadaan memang nggak ada, pasrah saja kepada Alloh. Kanan kiri kan pegawai semua, yang nggak itu cuma rumah saya. Dulu bapak saya di sini kan buruh tani saja”.
“Ya nyaman saja karena sudah dari kecil terbiasa. Meskipun tempatnya jelek, kalau rumah sendiri ya senang saja,” lanjutnya.
Rumah lama tampak depan
Namun, kondisi rumah tersebut juga menyisakan persoalan. Genteng yang sudah lama membuat beberapa bagian rumah bocor ketika hujan di beberapa bagian rumah. Riyandoko sebenarnya ingin memperbaikinya, tetapi keinginan itu terbentur kemampuan ekonomi.
“Bocor kalau hujan di ruang tamu, ruang tengah, dapur. Ada genteng yang sudah lama. Punya keinginan buat perbaiki, tapi kan kemampuan. Kalau tidak punya kemampuan, apalagi. Ya sudah. Pemasukan nggak ada,” ujarnya.
Lebih dari sepuluh tahun lalu, keluarga Riyandoko pernah mendapat bantuan dari Pemerintah Kota sekitar Rp20 juta untuk memperbaiki rumah. Namun, bantuan itu hanya cukup untuk sebagian perbaikan saja. Selebihnya, kondisi rumah tetap dibiarkan seperti semula karena tidak ada biaya untuk memperbaikinya secara keseluruhan.
“Dulu pernah dari Pemkot, tapi itu cuma Rp20 juta. Itu untuk meninggikan sedikit supaya tidak banjir, terus bikin keramik kamar mandi. Untuk perbaikan saja, kalau semua nggak cukup. Saya cukup-cukupkan buat keramik, uangnya habis ya sudah”, kenang Riyandoko tentang bantuan yang pernah diterimanya.
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak
- Mengejar Bola, Menemukan Diri: Membaca Tashawuf dari Lapangan Hijau
- Ditinggal Suami, Suwarsi Banting Tulang Hidupi Ketiga Anaknya
- Sehat Tentrem Mahal Tapi Laku!
- Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah
- Yatim Piatu di Bogor Menanti Masa Depan di Rumah yang Hampir Roboh
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem