ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
24 Agustus 2026 07:00
AMALAN KHUSUS AGAR DIBERI KEMUDAHAN DALAM MENUNTUT ILMU
Perjalanan hubungan itu kemudian sampai pada sebuah peristiwa penting. Meski tak sampai satu tahun Syekh Mukhtar menuntut ilmu di Pesantren Bahrul Ulum, ia dapat dengan mudah memahami ilmu-ilmu yang diajarkan.
Ketika masih menjadi santri di Tambakberas, Syekh Mukhtar merasa dirinya masih banyak belum mengetahui ilmu dan kehidupan. Karena itu ia memberanikan diri untuk matur kepada Hadrotusy Syekh Hamid Chasbullah Qodashalloh Sirrohu dan meminta ijazah serta amalan. Peristiwa tersebut berlangsung pada bulan suci Ramadlon. Sehingga Kyai Hamid memberikan amalan khusus kepada muridnya.
Menurut kesaksian Syekh Mukhtar, ia mendapatkan amalan Surat Al 'Alaq dari ayat 1 sampai 5, yang disebut pula sebagai Surat Iqra', ayat pengangkatan Nabi Muchammad SAW. Secara berulang, amalan tersebut dilaksanakan hingga malam ke 26 bulan Ramadlon.
Amalan tersebut, sebagaimana disampaikan dalam tutur kisah dimaksudkan sebagai jalan untuk membuka hikmah ilmu: dari gelap menuju terang, dari berat menuju ringan, dan dari belum mengetahui menuju pemahaman.
Syekh Mukhtar kemudian menceritakan pengalaman batinnya setelah mengamalkan amalan tersebut. Ia merasakan pikiran dan hatinya menjadi lebih terbuka sehingga sedikit demi sedikit mampu memahami, menjabarkan dan memberi tafsir terhadap ayat-ayat di dalam Al Qur-anul Kariim.
Kisah tersebut merupakan perjalanan spiritual seorang santri. Karena itu, perlu dipahami dalam konteks pengalaman keagamaan seorang murid terhadap amalan yang diterima dari gurunya. Bahkan amalan khusus yang diberikan kepada Syekh Mukhtar tidak diajarkan sembarangan, baikpun pada anak cucunya.
Tidak berhenti pada amalan dalam Surat Al 'Alaq, Kyai Hamid juga memberikan ijazah amalan lain, yang ada dalam surat Al Fatichah, bacaannya adalah:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.
Artinya : “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Kyai Hamid memberikan petunjuk agar bacaan tersebut diamalkan sampai bebrapa kali bacaan. Bacaan boleh dilakukan ketika sujud ataupun di luar sujud. Dengan benar-benar pasrah dan memohon pertolongan kepada Alloh SWT.
Di sinilah tampak kedalaman pesan spiritual yang ingin disampaikan gurunya. Kalimat tersebut bukan sekadar bacaan. Juga mengandung dua pengakuan besar seorang hamba kepada Tuhan Semesta Alam:
- “Iyyaka na’budu” — hanya kepada-Mu kami beribadah.
- “Wa Iyyaka nasta’in” — hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Seorang murid diajarkan untuk menempatkan dirinya sebagai hamba. Ilmu tidak menjadikan seseorang merasa paling mengetahui. Justru ilmu semestinya mengantarkan manusia kepada pengakuan akan kelemahan dirinya di hadapan Alloh Ta’ala.
Dan posisi sujud menjadi penutup hitungan yang terakhir: posisi paling rendah seorang hamba secara lahiriah, tetapi justru menjadi tempat kedekatan spiritual kepada Alloh.
Syekh Mukhtar tidak hanya menerima ilmu kitab. Ia menerima pengalaman bagaimana ilmu harus ditempatkan dalam kehidupan. Ia menyimak bacaan Al Qur-an gurunya, mengikuti pengajian Tafsir Jalalain, belajar Taqrib, Nahwu dan Sharaf. Dan kemudian ia membawa pengalaman tersebut dalam perjalanan hidupnya.
Dalam kisah yang dituturkan, Syekh Mukhtar menyatakan bahwa amalan khusus yang diberikan Kyai Hamid tetap diamalkannya bahkan diajarkan pada murid-muridnya. Karena itu, Tambakberas bukan sekadar tempat yang pernah disinggahi Kyai Mukhtar ketika menjadi santri.
Walaupun kemudian perjalanan Kyai Mukhtar berkembang jauh hingga menjadi tokoh utama dalam perkembangan Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, hubungan batin dengan Hadrotusy Syekh Hamid Chasbullah tidak terputus.
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak
- Mengejar Bola, Menemukan Diri: Membaca Tashawuf dari Lapangan Hijau