ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah
· 4 menit baca · Diperbarui
Di tengah keterbatasan tersebut, Ahmad mengaku beberapa kali sempat menaruh harapan ketika ada pihak yang datang melakukan pendataan calon penerima bantuan rumah. Ia diminta menyerahkan data diri dan mengizinkan rumahnya didokumentasikan sebagai bagian dari proses survei. Namun, harapan itu selalu berakhir dengan kekecewaan karena bantuan yang dijanjikan tidak pernah sampai kepadanya.
Medy, tim Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS), mengatakan hasil survei yang dilakukan menunjukkan Ahmad telah empat kali mengikuti proses pendataan bantuan rumah. Berdasarkan informasi yang diperoleh tim, data diri dan dokumentasi rumah Ahmad diduga dimanfaatkan dalam pengajuan bantuan bagi penerima lain.
"Dari informasi yang kami peroleh saat survei, Pak Ahmad sudah empat kali dimintai data untuk bantuan rumah. Ada yang mengatasnamakan Muslimat, Koramil, PKH, hingga bantuan dari perorangan. Namun, rumah yang dibangun bukan rumah Pak Ahmad, melainkan rumah orang lain," ujar Medy.
Pengalaman tersebut membuat Ahmad bersikap skeptis setiap kali ada orang yang datang menawarkan bantuan. Ketika tim Rumah Syukur mendatangi kediamannyauntuk melakukan survei, Ahmad sempat menolak.
"Saat tim awal datang, beliau merespons dengan emosional. Beliau mengatakan ingin membangun rumahnya sendiri," tutur Medy.
"Nggak, omahku mau tak bangun sendiri," ucap Ahmad kala itu.
Selain karena pengalaman sebelumnya, Ahmad juga khawatir bantuan yang diberikan nantinya tidak benar-benar gratis. Ia takut suatu saat akan diminta membayar biaya yang tidak sanggup dipenuhinya.
Untuk menghilangkan keraguan itu, Medy bersama tim DHIBRA terus memberikan penjelasan bahwa Rumah Syukur merupakan program kemanusiaan yang digagas oleh Thoriqoh Shiddiqiyyah dan tidak memungut biaya sama sekali dari penerima manfaat. Tim juga menjelaskan bahwa rumah Ahmad akan dibongkar total dan dibangun kembali hingga siap huni.
- OPSHID Serahkan 7 Rumah Gratis Siap Ditempati
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945