ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
08 Maret 2026 17:00

ISTIQOMAH LAWAN ZIONIS
“By Allah's favor and grace, nothing called the "Zionist regime" will exist by 25 years from now.”
“Atas kehendak dan rochmat dari Alloh, tak akan ada yang namanya “rezim Zionis” pada 25 tahun dari sekarang.”
Itu adalah pernyataan Ayatollah Ali Khamenei pada 1 Juli 2016. Dari 1 pernyataan itu saja, kita sudah bisa menilai seberapa besar beliau mengutuk rezim Zionis yang ada di muka bumi. Sudah menjadi hal yang diakui banyak pihak, bahwa Iran di bawah kepemimpinan Khamenei adalah satu-satunya negara Muslim di Timur Tengah yang secara terbuka menunjukkan dukungan pada Palestina, meski ada harga yang harus dibayar oleh bangsanya.
Iran membentuk dan memimpin Axis of Resistance (Poros Perlawanan), sebuah aliansi militer dan politik informal di Timur Tengah. Terdiri dari negara dan kelompok militan yang menentang pengaruh AS, Israel, dan Arab Saudi, dan melawan dominasi barat.
Selama empat dekade, Khamenei membangun dan mendanai infrastruktur militer non-negara paling canggih dalam sejarah modern — mempersenjatai Hezbollah dengan rudal yang diarahkan ke kota-kota Israel, membiayai jaringan terowongan Hamas di Gaza, dan mempersenjatai Houthi dengan drone yang menyerang pelayaran internasional. Semua ini dilakukan di bawah sanksi berat dan tekanan dari Barat.
Akibatnya, Iran diisolasi secara ekonomi oleh AS. Sanksi ekonomi berat berupa inflasi tinggi, pembatasan perdagangan minyak, dan pelemahan mata uang. Rial jatuh lebih dari 90% nilainya, harga pangan hampir dua kali lipat berkali-kali, hingga daging pun menjadi barang mewah. Sekitar 57% warga mengalami kekurangan gizi, jutaan orang terlempar dari kelas menengah, dan antara 22–50% hidup di bawah garis kemiskinan. Iran duduk di atas salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, namun justru mengalami krisis listrik parah pada 2024–2025.
Namun meski demikian, Iran membuktikan bahwa sebuah negara berkembang mampu bertahan—bahkan tetap berdiri tegak dalam ideologinya—di bawah tekanan sanksi paling ketat dalam sejarah modern. Meski diisolasi dari sistem keuangan global, Iran berhasil membangun industri pertahanan mandiri, mengembangkan program nuklir sipil, dan mempertahankan kedaulatan kebijakannya tanpa tunduk pada tekanan superpower manapun. Harga yang dibayar rakyat memang nyata dan berat, namun bagi pendukung revolusi, itu adalah bukti ketangguhan sebuah bangsa yang memilih harga diri di atas kenyamanan—menolak menjadi negara klien Barat seperti banyak tetangganya di kawasan.
“The Americans should know that the Iranian nation is not one to surrender”
(Amerika seharusnya tahu bahwa Bangsa Iran bukanlah yang akan menyerah pada mereka)
Pernyataan Khamenei pada tahun 2025, di masa konflik Amerika dan Israel – Iran, sebagaimana dikutip dari akun X resminya @khamenei_ir.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur