ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Politik Ummat Islam : Istilah Yang Muncul Akibat Firqoh Khowarij
28 Juli 2025 17:00

KHULAFA’UR ROSYIDIN SELANJUTNYA: AL CHASAN BIN ALI
Orang pertama yang maju membaiat Sayyidina Chasan untuk menjadi Kholifah selanjutnya adalah Sa’ad bin Ubadah. Ia berkata kepadanya “Ulurkanlah tanganmu, aku akan membaiatmu atas dasar Kitabulloh dan Sunnah Nabi Muchammad SAW”. Sayyidina Chasan hanya diam, Qais membaiatnya lalu diikuti oleh orang banyak sesudahnya. Peristiwa itu terjadi pada hari wafatnya Sayyidina Ali bin Abi Tholib pada bulan Romadhon tahun 40 H.
Saat itu Qais bin Sa’ad adalah amir wilayah Azerbaijan, ia membawahi 40.000 tentara. Mereka semua telah berbai’at untuk membela Ali sampai titik darah penghabisan. Lalu, Kholifah Chasan menarik Qais dan menggantinya dengan Ubaidulloh bin Abbas.
Setelah Sayyidina Ali Abi bin Tholib wafat ialah yang mendorong Sayyidina Chasan agar berangkat memerangi Muawiyyah di Syam. Namun dalam niat Kholifah Chasan, beliau tidak ingin memerangi seorangpun. Akan tetapi mereka berhasil memaksakan pendapatnya kepada Kholifah Chasan. Lalu berkumpullah pasukan dalam jumlah yang sangat besar, yang sebelumnya belum pernah terkumpul sebanyak itu. Kholifah Chasan kemudian menunjuk Qais bin Sa’ad sebagai panglima detasemen yang dikirim ke depan bersama 12.000 personil.
Ketika melewati wilayah al-Maidain Kholifah Chasan mengirimkan pasukan detasemen ke depan. Tiba-tiba ada seorang yang berteriak ditengah kerumunan manusia, “Celaka, Qais bin Sa’ad bin Ubadah telah terbunuh!”. Pasukan menjadi kocar-kacir, mereka saling serang satu sama lain. Hingga mereka menyerbu kemah Kholifah Chasan, menarik secara paksa permadani yang dipakai duduk dan sebagian dari mereka menikam beliau hingga cedera.
Dengan melihat pasukan yang tercerai berai Kholifah Chasan merenung dan berfikir apa yang baiknya dilakukan untuk kemaslahatan ummat Islam. Kemudian ia menulis surat kepada Mu’awiyyah—yang waktu itu sudah berangkat bersama pasukan Syam dan singgah di tempat bernama Maskin, Iraq dekat sungai Dujail. Isi dari surat tersebut Kholifah Chasan dengan ikhlas ingin mengajak Mu’awiyyah berdamai agar tidak ada lagi pertempuran di antara umat muslim.
Isi persyaratan yang diajukan Mu’awiyyah adalah agar diperbolehkan mengambil lima juta dirham dari baitul mal di Kufah serta pajak wilayah Darabjard diserahkan kepadanya. Sedangkan Kholifah Chasan meminta agar tidak boleh seorangpun mencela Ali bin Abi Tholib. Mereka menyepakati persyaratan tersebut dan menyerahkan keputusan pada umat Islam dengan musyawaroh mana yang akan dipilih menjadi kepala negara.
Tahun 41 H adalah tanda Kholifah Chasan telah tercapai kesepakatan dan ijma’. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Rosululloh SAW bersabdah di atas mimbar sambil sesekali menoleh pada Sayyidina Chasan “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya cucuku ini adalah Sayyid. Alloh akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin melalui tangannya”.
Kemudian Sayyidina Chasan dan saudaranya yaitu Sayyidina Chusain serta saudara-saudara mereka yang lain dan keponakan mereka Abdulloh bin Ja’far meninggalkan tanah Kufah menuju kota Madinah An Nabawiyyah. Meski sebenarnya siasat sayyidina Chasan ini membuat banyak orang kecewa, namun sikap yang benar dalam masalah ini adalah mengikuti sunnah dan kebijakan beliau yang telah menghentikan pertumpahan darah di antara umat muslim. Sebagaimana Rosululloh menyebut beliau sebagai walillahil chamdu wal minnah.
Tapi sekali lagi, kesepakatan yang dilakukan untuk kebaikan umat muslim ini dikhianati. Bahkan rencana pengkhianatan untuk membunuh Kholifah Chasan dilakukan ketika beliau dan rombongan masih dalam perjalanan menuju Madinah. Siasat pembunuhan ini dilakukan oleh Mu’awiyyah dan orang terdekat Kholifah Chasan dengan cara meracuninya.
Setelah Kholifah Chasan wafat, yang diangkat jadi penguasa menggantikan Mu’awiyyah adalah anaknya Yazid bin Mu’awiyyah. Tak lama, adiknya Sayyidina Chasan yaitu Sayyidina Chusain menerima surat dari masyarakat Kufah pendukung Kholifah Ali bin Abi Thalib, memintannya untuk memimpin pasukan melawan Yazid bin Mu’awiyyah. Ajakan penduduk Kufah sejalan dengan Sayyidina Chusain yang tidak mau mengakui Yazid bin Mu’awiyyah sebagai pemimpin baru karena Mu'awiyah telah mengkhianati dua kesepakatan dengan ayahandanya Ali bin Abi Tholib dan kakaknya Chasan.
Akhirnya Sayyidina Chusain berencana bertolak ke Kufah karena hal ini menyangkut masalah kenegaraan, orang-orang Kufah pun telah siap berada di bawah komandonya. Namun, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, dan Abdullah bin Abbas menentang rencana Sayyidina Chusain dan memintanya tetap di Mekkah.
Mengetahui rencana perlawanan atas pemerintahannya, Yazid kemudian memerintahkan Ubaidillah bin Ziyad menundukkan muslim Kufah. Ubaidillah berusaha menundukkan upaya perlawanan dengan sangat keras, sehingga seorang utusan kepercayaan Sayyidina Chusain di Kufah, Muslim bin Aqil dibunuh.
Di tengah perjalanan, Sayyidina Chusain menerima kabar terbunuhnya Muslim bin Aqil dan penduduk muslim Kufah yang telah beralih pihak. Meski begitu, Sayyidina Chusain dan saudara dan para pengikutnya yang berjumlah 75 tetap melanjutkan perjalanan. Sedangkan mata-mata Yazid bin Mu’awiyyah, Ubaidillah bin Ziyad yang memimpin setidaknya 4.000 pasukan Umayyah telah bersiap menghadang rombongan dari Mekkah ini.
Di tepi sungai Efrat, sekarang masuk Irak, Sayyidina Chusain dan pengikutnya sampai, kira-kira berjarak 2 mil dari Kufah. Sayyidina Chusain turun dari tunggangannya dan kemudian beliau menggaris di tempat tersebut, sisi kanan beliau menyebut sebagai Kar dan sisi kiri disebut Bala. Di tengah peristiwa tersebut para saudara dan pengikutnya ini kehausan dan berniat untuk mengambil minum dari sungai Efrat. Tapi tentara Yazid bin Mu’awiyyah tidak memperbolehkan dan menghalangi seluruh rombongan ini untuk mengambil air. Dan di situlah Sayyidina Chusain dan seluruh rombongan dibantai, dihujani panah dari segala sisi. Tubuh sayyidina Chusain yang telah wafat ini dipotong, tubuhnya dikubur di Karbala sedangkan kepalanya dibawa ke Syria dan sekarang berada di Kairo, Mesir.
Dari sinilah timbul kelompok yang membela keluarga dan keturunan Nabi Muchammad SAW namanya Firqoh Syi’ah. Satu-satunya keturunan Nabi yang selamat dalam peristiwa Karbala adalah Sayyid Zainal Abidin, beliau tidak ikut ayahandanya dalam perjalanan karena sedang sakit. Peristiwa ini juga menjadi alasan untuk memperkeruh perselisihan dan kesenjangan antara Sunni dan Syiah.
Sehingga dalam runtutan sejarah di atas, dapat dilihat perbedaan antara firqoh Khowarij dan Syi’ah. Dua hal yang berbeda namun di kalangan umat muslim sendiri masih bingung membedakannya. Dan apa yang dilakukan Syi’ah untuk melindungi keluarga Nabi berdasar pada sabda Rosululloh SAW "Wahai manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan pada kamu sesuatu jika kamu memeganginya niscaya kamu tidak akan sesat: Kitabullah dan 'itrah-ku (keturunanku/sanak keluargaku), ahli bait-ku.” (HR at-Tirmidzi, Ahmad dalam Al-Musnad).
Dalam pengajian Taubat Bersama (05/07/2025) Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia menyebut kejadian Karbala ini sebagai peristiwa Fajar-nya umat Muslim, gelap karena peristiwa Karbala namun kemudian cahayanya tidak bisa terbendung.
“Kalau cinta kepada cucu Nabi Muchammad sama dengan cinta kepada nabi muchammad, kalau benci kepada Chasan – Chusein sama dengan benci kepada Nabi Muchammad. Itulah hebatnya! Chasan dan Chusein itulah yang telah membangkitken cahaya Islam, tidak terasa sampai sekarang sinarnya menerangi seluruh dunia ini.”
(OPSHID Media)
Bersumber dari :
- Sejarah Timbulnya Aliran Khowarij (1993) oleh Syekh Moch. Mukhtar bin Alchajj Abdul Mu’thi.
- Diantara Kebejatan Khowarij (2002) disalin oleh Ikhwan Roudlur Riyaahiin minal Maqooshidil Qur-aanil Mubiin.
- Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam
- (Tartib wa Tahdzib Kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir) Al Bidayah wan Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin (2006) Penerjemah oleh Abu Ihsan Al-Atsari
- Sedjarah Al Quran (1956) oleh Aboe Bakar (Meulaboh Atjeh).
- Sunni dan Syiah Mustahil Bersatu (2014) oleh Kholili Hasib.
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon