Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon

16 Maret 2026 08:00

Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon

JOMBANG – Thoriqoh Shiddiqiyyah adakan Pengajian Tasyakkuran Lailatul Qodar pada Malam Isnen, 27 Syahru Romadlon 1447 H, yang bertepatan dengan 15 Maret 2026 M. Kegiatan ini berlangsung di Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah - Losplos Jomja Iroja, dan dihadiri oleh ribuan jama’ah dari berbagai daerah di Indonesia.

Sempat diguyur hujan deras dan banyak genangan air di Kawasan pesantren, para santri gotong royong mengkondisikan tempat agar tetap nyaman. Pun didukung antusias jama’ah untuk mengikuti rangkaian pengajian yang menjadi tradisi warga Shiddiqiyyah Indonesia setiap tanggal 27 Syahru Romadlon.

Acara diawali dengan doa pembuka, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, pelantunan syair Pohon Shiddiqiyyah serta Sumber Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI, dilanjutkan pembacaan Ikrar 8 Kesanggupan Warga Thoriqoh Shiddiqiyyah dan Sumpah Jati Diri Bangsa. Setelah itu sambutan dari perwakilan Yayasan Pendidikan Thoriqoh Shiddiqiyyah Pusat.

Dalam kesempatan ini juga dilaksanakan shodaqoh spontanitas oleh para jama’ah. Dari kegiatan shodaqoh tersebut terkumpul dana sebesar Rp119.500.000 sebagai bentuk rasa syukur para jama’ah atas Lailatul Qodar.

Pada penghujung acara diisi dengan Mau'idhotul Chasanah sekaligus doa yang dipimpin langsung oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Al Mukarrom Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.

Dalam Mau'idhotul Chasanah, beliau terlebih dahulu mengajak seluruh jama’ah untuk mengamalkan dua kalimat syahadat, yakni syahadat tauhid “Laa Ilaaha Illalloh” dan syahadat rosul “Muchammadur Rosululloh”. Pembacaan syahadat tersebut dilakukan secara bergantian dan bersama-sama tidak hanya dengan lisan dan hati, tetapi juga dengan hal atau isyaroh.

Setelahnya, beliau menjelaskan bahwa syahadat tauhid dan syahadat rosul itu juga terkandung dalam Bulan Rojab, Sya’ban serta Bulan Romadlon, termasuk dalam pelaksanaan shodaqoh yang disertai doa “Allohumma bariklana fii rojabin wa sya’bana wa balighna romadlona”,

  1. Rojab Syahrulloh, Bulannya Alloh.
  2. Sya’ban, Bulannya Muchammad
  3. Syahru Romadlon, Bulannya Alloh.

 Sang Maha Guru Lailatul Qodar.png (1.33 MB)

Beliau juga mengungkap makna Lailatul Qodar. Dalam Bahasa Arab, Laila berarti malam. Qodar berarti Ketentuan, Kepastian. Kepastian yang dimaksud ialah tentang nilai waktu atau nilai umur. Nilai waktunya hanya 12 jam dari Maghrib sampai Math La’il Fajr, dan 12 jam itu nilainya lebih baik daripada 1000 Bulan.

Thoriqoh Shiddiqiyyah memiliki pendapat bahwa ketentuan Lailatul Qodar itu pada tanggal 27 Bulan Romadlon. Keyakinan Thoriqoh Shiddiqiyyah ini didasarkan pada dalil Al-Qur’an dan hadits Nabi.

Meski demikian, beliau telah menegaskan bahwa perbedaan pendapat mengenai waktu Lailatul Qodar merupakan hal yang wajar di kalangan ulama dan harus disikapi dengan saling menghormati.

Dalam kesempatan ini beliau juga menyinggung pentingnya mensyukuri nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Menurut penilaian saya, tentang nilainya Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya NKRI itu seperti nilai Al-Qodar khusus bagi bangsa Indonesia. Makanya saya mensyukuri,” dawuh beliau.

Pengajian Tasyakkuran Lailatul Qodar pun diakhiri dengan doa oleh beliau Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia. Dengan berakhirnya rangkaian acara pengajian ini harapannya seluruh jama’ah dapat memperoleh keutamaan malam Lailatul Qodar serta senantiasa diberikan ketetapan iman, islam, serta ichsan dalam kehidupan. (OPSHID Media)

Penulis: Riska Farah Za’idah

Editor: Nuraida