Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Politik Ummat Islam : Istilah Yang Muncul Akibat Firqoh Khowarij

28 Juli 2025 17:00

Politik Ummat Islam : Istilah Yang Muncul Akibat Firqoh Khowarij

PERANG PERTAMA DI ANTARA UMAT MUSLIM DAN SIASAT KEJI KHOWARIJ

Mendengar hal itu urunglah niat Sayyidina Ali untuk menuju Syam dan berangkatlah ia dan pasukannya ke Kuffah menuju Bashrah. Dan terjadilah perang saudara pertama yang dinamakan Perang Waqi’atul Jamal, karena waktu itu Siti Aisyah memimpin tentara dengan mengendarai unta.

Dalam pertempuran ini sahabat Zubair dan sahabat Tholhah terbunuh, mereka tidak dapat mendampingi Siti Aisyah hingga akhir. Wafatnya dua sahabat Rosul ini tak menyurutkan keberanian Aisyah RA, ia tetap maju mengendarai unta. Ia memberi mushaf kepada Ka’ab bin Sur Qadhi Bashrah dan berkata “Ajaklah mereka kepada Kitabulloh!”. Ketika mereka melihat Ka’ab bin Sur mengangkat mushaf mereka menghujaninya dengan anak panah hingga tewas.

Kemudian anak panah mulai menghujani sekedup Ummul Mukminin Aisyah, ia pun berteriak ”Alloh! Alloh! Yaa bunayya ingatlah hari hisab!”. Sayyidina Aisyah kemudian mengangkat tangannya dan melaknat para pembunuh Sayyidina Utsman bin Affan. Orang-orangpun bergemuruh bersamanya dalam doa, hingga gemuruh tersebut sampai telinga Kholifah Ali kemudian berkata, “Suara apa itu?” mereka menjawab “Ummul Mukminin melaknat para pembunuh Utsman dan pendukungnya!” Sayyidina Ali kemudian menimpali, “Yaa Alloh laknatlah para pembunuh sahabatku Utsman!”.

Namun, pasukan Aisyah kalah dalam peperangan. Ketika Unta yang dinaiki Aisyah roboh ke tanah, orang-orang yang berada di dekatnya mundur. Kholifah Ali bin Abi Thalib bermalam di Bashrah selama tiga hari. Beliau mensholatkan korban yang gugur dari kedua belah pihak dan juga memerintahkan untuk mengumpulkan barang-barang yang dirampas dari pasukan Aisyah agar dibawa ke masjid Bashrah. Bagi yang mengenali barangnya ia boleh mengambilnya kembali kecuali senjata yang berlambang Khalifah.

Dalam Tarikh Ath Thabbari disebutkan setelah peperangan, Sayyidina Ali dan Siti Aisyah bertemu dan membahas apa yang terjadi, setelah pertemuan Siti Aisyah pun meninggalkan Bashrah dan kembali menuju Madinah.

Sebelum kepergian Siti Aisyah berkata “Wahai Bunayya, janganlah saling mencela di antara kalian. Demi Alloh sesungguhnya apa yang terjadi antara aku dan Ali hanyalah masalah yang biasa terjadi antara seorang Ibu dan anaknya. Sesungguhnya meski aku dahulu mencelanya namun sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang terpilih.” Kemudian Sayyidina Ali juga berkata “Ia benar, demi Alloh tidak ada masalah yang terjadi antara kami berdua kecuali seperti yang telah disebutkan. Sesungguhnya ia adalah Istri Nabi Muchammad SAW di dunia dan di akhirat”.

Setelah Kholifah Ali bin Abi Tholib mendapatkan kemenangan di Perang Waqi’atul Jamal, ia kemudian mendapat kabar bahwa Mu’awiyyah mempersiapkan tantara besar untuk memeranginya. Akhirnya Kholifah Ali bin Abi Tholib berangkat dengan tentaranya. Bertemulah dua Angkatan besar di tempat yang bernama Shiffin, sebelah barat sungai Efrat. Pecah perang saudara kedua antar umat muslim. Dimana pihak tentara Sayyidina Ali terbunuh 25.000 orang sedangkan tentara Mu’awiyyah terbunuh 45.000 orang. Hampir menuju kemenangan sedang Mu’awiyyah bersiap-siap akan melarikan diri, akan tetapi ia dinasehati Umar bin Ash tidak usah melarikan diri, ia pun mengatur siasat perdamaian.

Dilakukanlah perundingan di tempat yang dinamakan Dumatul Jandal; pihak Sayyidina Ali mengirimkan 100 orang yang dikepalai oleh Musa Al Asy’ari dan pihak Mu’awiyyah mengirimkan delegasi 100 orang yang dikepalai oleh Umar bin Ash. Isi perundingan tersebut adalah untuk menurunkan Sayyidina Ali bin Abi Tholib dan Mu’awiyyah dari jabatannya, kemudian jabatan Kholifah diserahkan kepada seluruh umat Islam, terserahlah siapa yang akan dipilih untuk menduduki jabatan sebagai Kholifah. Namun perjanjian itu dikhianati oleh pihak Mu’awiyyah yaitu Umar bin Ash dan pecah lagi pertempuran dari kedua pihak.

Pasukan Sayyidina Ali yang lelah dalam pertempuran mendesak untuk mau menerima ‘ajakan’ damai dan mengalah atas dasar Al Quran, namun Sayyidina Ali tidak setuju. Setelah hasilnya tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan maka 12.000 tentaranya Sayyidina Ali keluar dan membentuk firqoh sendiri. Mereka itulah yang dinamakan Al Khowaarij, kemudian berkumpul di sebuah tempat yang namanya Charuro’ yaitu sebuah desa dari wilayah Kufah. Adapun nama-nama kepala Khowarij waktu itu ialah: Abdulloh bin Alkawa’, ‘Ataba bin Al A’war, Abdulloh bin Wahab Ar Rosi, ‘Urwah bin Jarir, Yazid bin Abi ‘Ashim Al Maharibi dan Harqush bin Zahir Albajili.

Setelah itu mereka mengadakan perundingan di Mekkah, menurutnya yang menyebabkan ummat muslim bertempur sampai melakukan pertumpahan darah adalah tiga orang yaitu Sayyidina Ali, Mu’awiyyah dan Amru bin Ash. Hasil dari perundingannya yaitu:

  • Abdur Rohman bin Muljam sanggup pergi ke Kufah, Iroq untuk membunuh Sayyidina Ali.
  • Barok ibnu Abdulloh Tamimi pergi ke Negeri Syria, Damaskus tugasnya untuk membunuh Mu’awiyyah
  • Dan Amar bin Bakar Tamimi pergi ke Mesir untuk membunuh Amru bin Ash.

Dan guna melaksanakan tugas tersebut mereka melakukan penyamaran, namun dari rencana tersebut hanya Sayyidina Ali yang terbunuh karena tidak ada yang menjaga dan dilakukan ketika sedang melaksanakan sholat subuh. Ketika Muljam laknatulloh menikam Sayyidina Ali bin Thalib, ia berkata “Tunjuklah Khalifah sepeninggalmu wahai Amirul Mukminin”. Khalifah Ali masih sempat berkata “Tidak! Aku akan meninggalkan kalian sebagaimana Rosululloh meninggalkan kalian (yakni tanpa menunjuk Kholifah). Apabila Alloh Ta'ala menghendaki kebaikan atas kalian maka Alloh akan menyatukan kalian di bawah kepemimpinan orang yang terbaik dari kalian sepeninggal Rosululloh SAW”. Setelah Sayyidina Ali bin Abi Tholib wafat, putra beliau yakni Sayyidina Chasan mensholati jenazah dan menguburnya.

Penulis: Kholidah

Editor: Sa’adatush S.