Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon

06 Maret 2026 07:54

Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon

JOMBANG – Bulan suci Romadlon memiliki makna penting bagi umat Islam. Selain menjadi waktu menjalankan ibadah puasa, di dalamnya juga tercatat berbagai peristiwa besar dalam sejarah Islam. Dalam tradisi Thoriqoh Shiddiqiyyah, terdapat satu malam yang diyakini penuh barokah, yakni malam ke-17 di bulan Romadlon yang diperingati melalui Tasyakkuran Lailatul Mubarokah.

Pada tahun ini, kegiatan tersebut digelar pada Kamis malam Jum’at (05/03/2025) dan dihadiri jamaah dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan sebagian datang dari luar negeri. Para jama'ah berkumpul di Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah Pusat Jombang, untuk mengikuti rangkaian tasyakkuran sekaligus ngalap barokah di bulan Romadlon.

Dalam kitab Al-Mufrodat Alfadz Al-Qur’an bab huruf Ba’ halaman 41 disebutkan bahwa barokah adalah tetapnya kebaikan ketuhanan dalam sesuatu. Dengan kata lain, barokah dipahami sebagai kebaikan yang berasal dari Tuhan dan menetap dalam sesuatu.

Romadlon sendiri dikenal sebagai bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Pada bulan inilah berbagai kitab suci diturunkan kepada para nabi. Selain itu, wahyu pertama Al Qur-an yang terdapat dalam Surat Al-‘Alaq ayat 1–5 juga diturunkan pada bulan Romadlon, yang menandai pengangkatan Muhammad sebagai Nabi Rochmatan Lil ‘Alamin.

Pada malam tersebut, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah dalam mauidhotul chasanah juga menyampaikan dua peristiwa besar yang memiliki kesamaan momentum, yaitu sama-sama terjadi pada tanggal 17 dan bertepatan dengan hari Jum’at. Dua peristiwa itu adalah Perang Badar Kubro dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Perang Badar Kubro terjadi pada tanggal 17 Ramadan, ketika pasukan kaum Muslimin yang dipimpin Rosululloh berhadapan dengan pasukan musyrikin yang dipimpin Abu Jahal. Dalam peristiwa tersebut, jumlah pasukan Muslimin sekitar 470 orang, sementara pasukan musyrikin sekitar 1.500 orang. Dalam peperangan itu, Abu Jahal yang dikenal sebagai tokoh yang sangat memusuhi Rosululloh akhirnya terbunuh oleh Abdullah bin Mas’ud.

Sementara itu, dalam sejarah Indonesia, proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Syahru Romadlon 1364 Hijriyah. Dalam penuturan pada acara tersebut disebutkan bahwa sebelum menetapkan tanggal proklamasi, Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, terlebih dahulu meminta pertimbangan dari sejumlah ulama.

Empat tokoh yang dimintai pendapat antara lain Kyai Hasyim Asy’ari dari Tebuireng Jombang, Kyai Abdul Mu’thi dari Madiun, Kyai Achmad Basyari Sukonegoro yang juga dikenal sebagai Syech Musa Sukanegara, serta Raden Sosrokartono. Mereka dikenal sebagai ulama Dzawil Bashoir, yaitu ulama yang diyakini memiliki kejernihan pandangan batin atau kemampuan mengetahui suatu peristiwa sebelum terjadi, yang dalam istilah Jawa disebut weruh sak durunge winarah.

Melalui berbagai pertimbangan tersebut, Bung Karno kemudian memutuskan proklamasi kemerdekaan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945.

8faff835-e43e-4f30-97a2-d265ca505396.jpeg (269 KB)

Susasana di Pesantren

Rangkaian kegiatan Tasyakkuran Lailatul Mubarokah tahun ini juga diisi dengan buka puasa bersama. Panitia menyiapkan sekitar 1.500 porsi makanan yang dibagikan kepada para jamaah yang hadir. Dan masih dalam moment yang sama, terkumpul shodaqoh spontanitas dari jama'ah dengan jumlah mencapai Rp247.000.000.- yang diperuntukan untuk menunjang perjuangan di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah.

Dengan wasilah lailatul mubarokah, jama’ah Shiddiqiyyah mempunyai tiga permohonan atau do’a kepada Alloh Ta’ala, yaitu memohon agar iman senantiasa ditetapkan, memohon diberikan usia panjang yang penuh keberkahan, serta memohon diluaskan rezeki yang barokah. Momentum ini diharapkan menjadi pengingat bagi umat untuk terus mensyukuri keberkahan bulan Romadlon serta meneladani nilai-nilai perjuangan dan keimanan yang terkandung dalam berbagai peristiwa sejarah tersebut. (OPSHID MEDIA)

 

 

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Nuraida