Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Erwan dan Surip: Kami Ingin Mereka Punya Tempat Untuk Pulang

28 September 2024 19:00

Erwan dan Surip: Kami Ingin Mereka Punya Tempat Untuk Pulang

Jakarta Pusat—Apakah memiliki anak adalah sebuah tindakan yang egois?

Anak adalah rezeki dari Alloh SWT. Namun bagaimana bila rezeki itu tidak mampu kita rawat dengan baik?

“Kalau anak-anak saya tetap di rumah, saya takut ntar gizi buruk”, itulah yang diungkapkan oleh Surip (49) dan suaminya Erwan (47). Mereka adalah orang tua dari 3 anak yang semuanya dititipkan ke panti asuhan.

 

HIDUP DENGAN SAMPAH

Erwan mencari nafkah dengan menjadi pemulung sampah di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Bersama Surip, mereka tinggal di rumah sempit berukuran 3mx6m yang berdempetan dengan rumah di samping kanan, kiri, dan juga belakang.

Sehari-harinya, Erwan dan Surip berjalan dan mengumpulkan sampah selama 2 hingga 3 jam. Di hari biasa, mereka berangkat pada sore hari. Tak jarang juga mereka berangkat pkl 11 malam hingga dini hari. Erwan bisa mengumpulkan sekitar 1kg sampah per hari, yang laku dijual 5 ribu hingga 7 ribu rupiah. Tetapi sebelum dijual, sampah-sampah itu akan dipilah dan disimpan di dalam rumah. Maka tak mengherankan, apabila mereka harus rela tinggal bersama tumpukan sampah di rumah itu.

"Sekali jalan biasanya dapat 1kg. Biasanya yang mahal itu botol bekas. Kadang-kadang juga ada tetangga yang ngasih botol-botol bekas", tutur Erwan.

IMG_5715.webp (721 KB)
Keadaan rumah Erwan dan Surip sebelum dibongkar

Dengan upah 5 ribu hingga 7 ribu rupiah per hari, bisa diasumsikan keluarga ini memiliki penghasilan sebesar 150 ribu hingga 200 ribu per bulan. Jumlah yang tidak cukup untuk membesarkan anak, khususnya di kota dengan biaya hidup yang tinggi seperti ibukota Jakarta.

Inilah yang mendorong mereka untuk menitipkan ketiga anak mereka ke panti asuhan. Panti asuhan tempat mereka menitipkan anak dikelola oleh Dinas Sosial Pemprov DKI Jakarta.

Anak mereka, Suryaningsih Agustin (16), Nur Hasanah (13), dan Muhammad Hidayat (11) dititipkan ke panti asuhan saat usia mereka masih 7, 4, dan 2 tahun. Tepatnya, 9 tahun lalu. Dan hingga saat ini, mereka masih dirawat dengan baik oleh Dinas Sosial.

Erwan dan Surip hanya bisa menjemput dan membawa pulang anak mereka setahun sekali yaitu pada saat Hari Raya Idul Fitri. Selebihnya, jangankan untuk merawat anak mereka di rumah, untuk membayar angkutan bajaj sebagai tranportasi menuju panti asuhan pun mereka kesulitan.

“Jemput anak-anak setahun sekali, pas lebaran. Kalau ketemu bisa kapan aja, tapi nunggu duit banyak dulu, baru ke sana naik bajaj”, kata Erwan.

Apa pak Erwan tidak kepikiran untuk mencari pekerjaan lain selain memulung sampah? Menanggapi pertanyaan itu, Erwan menjawab dengan singkat dan sedikit enggan, “ya sebenarnya udah banyak yang nawarin, tapi…”

Rupanya Erwan kesulitan karena Surip selalu mengikuti Erwan pada saat bekerja. Hal ini membuat Erwan kesulitan untuk mendapat pekerjaan selain memulung sampah. “Si ibunya ngintilin terus”, kata ibu RT setempat.

Surip adalah orang sederhana, tapi mudah gelisah. Apalagi dengan keadaan harus berpisah dari anak-anaknya, Surip merasa tidak nyaman apabila harus di rumah sendirian. Surip juga gelisah dengan keadaan rumah mereka yang sempit dan tidak nyaman dihuni. Mulai dari faktor atap bocor, banjir, banyaknya tikus dan kecoa yang bersarang di sampah-sampah yang disimpan, hingga kurangnya kebutuhan dasar seperti air bersih.

“Engga ada airnya, kalau mau mandi atau buang air harus minta air ke tetangga”, jelas Reza, penanggung jawab pembangunan Rumah Syukur Jakarta Pusat.

Sebagai orang tua, tak ada yang lebih menyedihkan daripada harus berpisah dengan  anaknya. Tetapi bagaimana lagi, keadaan berkata lain. Meski begitu, tak pernah sekalipun mereka menganggap anak-anak mereka sebagai beban.

Bahkan Erwan dan Surip bercita-cita, “nanti kalau rumahnya udah bagus, anak-anak mau dibawa pulang”.

Penulis: Sa’adatush S.

Editor: Nuraida