ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sopiah: Anak-Anakku Harus Sekolah
06 Oktober 2024 07:00

Jakarta Utara - Gemerlap Ibu Kota selalu memiliki daya pikat tersendiri, tinggi dan megah gedung-gedungnya mampu membuat setiap orang memiliki harapan. Tak sedikit orang memegang harapan baik itu dengan penuh keyakinan. Begitupun Sopiah, gadis desa yang asalnya dari Pemalang. Desa kecil yang asri, sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai seorang petani.
Sopiah lahir pada tahun 1965, di mana gejolak politik di pusat Ibu Kota amat terasa hingga ke desa-desa. Kehidupan Sopiah kecil jauh dari gemerlap, tiap hari ia hanya ditemani temaram ublik dengan pantulan cahaya yang selalu bergetar getir.
Sejak kecil, Shopia dan keempat saudaranya telah menjadi yatim piatu. Bekerja sebagai seorang petani yang menggarap sawah milik orang lain dengan bayaran yang tak menentu, membuat mereka harus menikah dan berpencar. Sopiah remaja ikut tinggal bersama kakak-kakaknya bergantian, begitupun adiknya.
Gambaran kehidupan masyarakat desa di tahun 80an yang menginginkan adanya perubahan. Sehingga banyak makelar pekerjaan pergi ke desa, “kulo awalnya pergi ke Jakarta karena ada yang bawa terus dilebetaken ndamel, jadi pembantu.”
MENJEMPUT HARAPAN
Usia 17 tahun, Sopiah yang asalnya dari Pemalang pergi ke Ibu Kota Jakarta dengan harapan untuk memulai hidup barunya. Dibawa bersama dengan dua orang temannya menggunakan kendaraan umum. Di sini, mereka diperkerjakan sebagai asisten rumah tangga atau buruh cuci baju.
Dari pekerjaannya, Sopiah mampu membeli sepeda yang digunakannya bekerja hingga saat ini.
Beberapa tahun kemudian ia bertemu sosok lelaki yang kemudian menjadi suaminya, “Bapak dulunya tukang bangunan. Ketemu bapak dulu di Mangga Besar, kemudian menikah di kampung.” Hanya beberapa bulan di kempung, keduanya memutuskan kembali ke Jakarta.
“Upah saat itu 300 ribu, sebagian untuk menyicil beli tanah. Pindah kesini ketika terjadi krisis moneter.” Ujarnya.
Butuh belasan tahun bagi Sopiah untuk membeli tanah yang berukuran luas 2,5x5 meter. Sebidang tanah yang dinding rumahnya masih ikut tetangga itu dibangun secara bertahap, seadanya.
"Tetangga ngizinin. Udah naik aja, masang asbes kanan-kiri gak usah dibangun dinding permanen.” Tirunya.
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon