ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sopiah: Anak-Anakku Harus Sekolah
· 5 menit baca · Diperbarui
Jakarta Utara - Gemerlap Ibu Kota selalu memiliki daya pikat tersendiri, tinggi dan megah gedung-gedungnya mampu membuat setiap orang memiliki harapan. Tak sedikit orang memegang harapan baik itu dengan penuh keyakinan. Begitupun Sopiah, gadis desa yang asalnya dari Pemalang. Desa kecil yang asri, sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai seorang petani.
Sopiah lahir pada tahun 1965, di mana gejolak politik di pusat Ibu Kota amat terasa hingga ke desa-desa. Kehidupan Sopiah kecil jauh dari gemerlap, tiap hari ia hanya ditemani temaram ublik dengan pantulan cahaya yang selalu bergetar getir.
Sejak kecil, Shopia dan keempat saudaranya telah menjadi yatim piatu. Bekerja sebagai seorang petani yang menggarap sawah milik orang lain dengan bayaran yang tak menentu, membuat mereka harus menikah dan berpencar. Sopiah remaja ikut tinggal bersama kakak-kakaknya bergantian, begitupun adiknya.
Gambaran kehidupan masyarakat desa di tahun 80an yang menginginkan adanya perubahan. Sehingga banyak makelar pekerjaan pergi ke desa, “kulo awalnya pergi ke Jakarta karena ada yang bawa terus dilebetaken ndamel, jadi pembantu.”
MENJEMPUT HARAPAN
Usia 17 tahun, Sopiah yang asalnya dari Pemalang pergi ke Ibu Kota Jakarta dengan harapan untuk memulai hidup barunya. Dibawa bersama dengan dua orang temannya menggunakan kendaraan umum. Di sini, mereka diperkerjakan sebagai asisten rumah tangga atau buruh cuci baju.
Dari pekerjaannya, Sopiah mampu membeli sepeda yang digunakannya bekerja hingga saat ini.
Beberapa tahun kemudian ia bertemu sosok lelaki yang kemudian menjadi suaminya, “Bapak dulunya tukang bangunan. Ketemu bapak dulu di Mangga Besar, kemudian menikah di kampung.” Hanya beberapa bulan di kempung, keduanya memutuskan kembali ke Jakarta.
“Upah saat itu 300 ribu, sebagian untuk menyicil beli tanah. Pindah kesini ketika terjadi krisis moneter.” Ujarnya.
Butuh belasan tahun bagi Sopiah untuk membeli tanah yang berukuran luas 2,5x5 meter. Sebidang tanah yang dinding rumahnya masih ikut tetangga itu dibangun secara bertahap, seadanya.
"Tetangga ngizinin. Udah naik aja, masang asbes kanan-kiri gak usah dibangun dinding permanen.” Tirunya.
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari