Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Sopiah: Anak-Anakku Harus Sekolah

06 Oktober 2024 07:00

Sopiah: Anak-Anakku Harus Sekolah

Awal kami melihat kondisi rumah Shopia sedikit kaget dan tidak percaya jika tempat sesempit itu dapat ditinggali satu keluarga, beranggotakan lima orang. Dapur dan kamar mandipun hanya diberi sekat, yang masing-masing hanya bisa digunakan satu orang dewasa. Tidak ada ruang tamu, hanya ada satu ruang yaitu; ruang keluarga yang digunakan untuk semua kegiatan penghuninya “nggeh uplek-uplek sementen (iya kumpul semua jadi satu begini)". 

photo_2024-10-01_20-00-59.webp (218 KB)
Kondisi lantai dua

Ketika kami bertanya di mana tempat tidurnya, Bu Sopiah menunjuk lantai di atas kami “nggeh niku (ya, itu...) tempat tidur juga tempat baju". Lantai kedua yang hanya terpisah penyangga dari triplek mereka gunakan sebagai tempat tidur utama, yang digunakan oleh seluruh penghuni rumah.

Bu Sopiah menunjukkan kondisi rumahnya dengan semangat, tidak ada nada getir. Soalah ingin menunjukkan pada kami bahwa ia bisa melalui semuanya.

SUAMI PERGI DAN MERAWAT ANAK-ANAKNYA SEORANG DIRI

Dengan kondisi demikian, harapannya tak pernah luntur. Dan ketika kami bertanya di mana Bapak? Nada bicaranya berbeda, sedikit lebih pelan “Mpun dangu mboten kaleh kulo, kulo niku berjuang kiambak nyekolahin-nyekolahin (Sudah lama tidak sama saya, saya berjuang sendiri untuk menyekolahkan anak-anak)". Hingga sekarang Sopiah tidak mengetahui kondisi suaminya, apakah masih hidup atau sudah meninggal.

“Bapak pergi sejak si bontot SD kelas enam". Tuturnya.

Jika kami hitung, sejak tahun 2010 lah Sopiah dan anak-anaknya tidak pernah ketemu dan berkomunikasi lagi.

“Awalnya niku nyambut ndamel terus kecantol, yaudah deh kalau gitu saya sama anak-anak saja. Pertama gak mau tapi lama-lama saya gak mampu menahan (dengan tangan menunjuk hati). Udah dari situ kehilangan kontak langsung.” Sopiah tidak ingin lagi bertemu suaminya yang telah meninggalkannya. Baginya, hidup dengan ketiga buah hatinya lebih menenangkan dan membuatnya bahagia.

Sejak saat itu Sopiah mengurus ketiga anaknya seorang diri, ia merawat Jamaluddin, Hikmatun Nisa’ dan Rochmat Shodiqin dengan baik “Waktu itu anak pertama SMP, kedua SD, yang bontot sampai SMK". Ketiganya dapat mengenyam bangku sekolah meski tak sampai perguruan tinggi.

“Alchamdulillah, saya berjuang, berusaha. Kepingin anak saya sekolah jangan seperti saya gini.”

Sopiah bersyukur, putrinya telah menikah sejak 2014 serta tinggal tidak jauh dari lokasi. Sehingga di rumah syukur yang di bangun oleh OPSHID ia tinggal bersama kedua putranya yang telah bekerja sebagai tukang ojek online.

Jarak dari rumah syukur ke tempat kerja Bu Sopiah kurang lebih 2,5 km, ia pergi dengan mengayuh sepada lamanya. Setiap hari berangkat dari pukul 6 pagi hingga 11 siang. Ia melakukan pekerjaannya sudah 42 tahun lamanya. Dan sekarang, dari hasil pekerjaannya perhari Sopiah mendapatkan bayaran 50.000,-. Karena kerasnya biaya hidup di kota besar, Sopiah harus berjualan minuman sachet di gang depan rumah.

Penulis: Kholidah

Editor: Nuraida