ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Rasminah: Menunggu Daun Kelapa Mengering dan Gugur Untuk Bisa Makan
18 Oktober 2025 17:00

Serang—Daun kelapa yang jatuh dan mengering dinamakan blarak. Blarak sering digunakan dalam berbagai kebutuhan rumah tangga seperti bahan bakar tungku, bungkus makanan, anyaman tikar dan topi, hingga atap rumah. Selain itu, blarak juga umum digunakan sebagai bahan utama sapu lidi. Para pengrajin sapu lidi, menunggu pelepah daun kelapa untuk mengering dan jatuh sebelum mengolahnya jadi lidi.
Rasminah, seorang wanita paruh baya yang tinggal di Kampung Gunung Kepuh, Desa Winong, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, menunggu pohon-pohon kelapa yang ada di belakang rumahnya menjatuhkan pelepah daunnya yang kering. Setelah mendapatkan blarak, ia kemudian mengumpulkannya dan memisahkan daun dari batangnya. Bersama suaminya Muhimin, daun-daun itu kemudian dipisahkannya lagi dengan pisau, untuk diambil bagian tulangnya. Bagian itulah yang menjadi lidi.
Setelah jadi banyak lidi, kemudian dijemur di bawah sinar matahari agar kering, makin kuat dan tidak mudah patah. Setelah kering, satukan dalam jumlah banyak, lalu ikat bagian pangkalnya. Jadilah satu buah sapu lidi.
Sehari, Rasminah dan Muhimin bisa menghasilkan paling banyak 15 biji sapu lidi, tapi jumlah itu tidak pasti. Di hari biasa, mungkin hanya sekitar 10 sapu lidi yang dibuat. Ketika keadaan mereka sedang tidak sehat, hanya 5 sapu lidi yang dihasilkan. Setelah jadi banyak sapu lidi, seorang pengepul akan datang ke rumah Rasminah dan membelinya. Sapu lidi dijual oleh Rasminah seharga 3.500 rupiah per biji.
Rasminah dan Muhimin hidup dari blarak, hanya berdua tanpa keturunan. Rasminah telah mengolah blarak dan menjual sapu lidi sejak harganya masih 100 rupiah hingga 500 rupiah per biji. Rasminah lupa sejak kapan tepatnya ia mulai membuat sapu lidi, tapi melihat faktor inflasi, bisa jadi Rasminah memulainya sejak berdekade-dekade lalu.
Maklum, sudah tua. Bahkan usianya sendiripun, ia tak ingat. Rasminah berkata, ia sudah tak pernah menghitung usianya lagi sejak orang tuanya meninggal saat ia masih kecil.
“Yang biasanya hitung umur saya ya ibu saya. Sejak ibu meninggal pas saya masih kecil, saya udah nggak tahu usia saya,” tutur Rasminah dalam bahasa Jawa-Serang yang kental.
Apabila sedang kehabisan blarak untuk dijual sebagai sapu lidi, Rasminah dan Muhimin hanya bisa mengandalkan belas kasih dari tetangganya untuk memberinya makan. Tak jarang, para tetangga yang bersimpati mengulurkan tangan untuk membantu Rasminah dan Muhimin di saat mereka terhimpit keadaan ekonomi. Khususnya pak Amak, tetangga sebelah Rasminah yang sering memperhatikan kondisi Rasminah dan Muhimin.
Beginilah kegiatan dan kelangsungan hidup pasangan suami istri ini selama puluhan tahun terakhir. Hanya terus berusaha menyambung hidup, hari demi hari, di rumah kecil nan tua mereka yang sudah lapuk dan ringkih. Menunggu keajaiban, kendati sama sekali tak dilirik oleh pemerintah.
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon