ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sebuah Panggilan Untuk Beriman: Surat Ruhulloh Khomeini Kepada Mikhail Gorbachev (Terjemahan Bahasa Indonesia)
01 Januari 2025 07:00

Al Qur-an mengutuk dasar-dasar faham materialistik, dan barang siapa yang mengucap:
“Kami tak akan pernah beriman kepadamu sebelum sebelum kami melihat Alloh dengan jelas” (QS. Al Baqoroh ayat 55)
Al Qur-an menjawabnya dengan:
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan, dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. Al An’am ayat 103).
Saya tidak berkehendak untuk menyajikan argumen Al Qur-an tentang wahyu ilahiah, kenabian, maupun Hari Kebangkitan (kiamat—red) yang menurut pandangan anda tentu bisa dibantah. Nyatanya, saya tidak berharap untuk membuat anda terbelit dalam lika-liku argumen filosofi, khususnya filsuf Islam. Saya akan cukupkan diri saya dengan satu atau dua contoh yang sederhana dan intuitif, yang baik para politisi pun bisa mengambil manfaatnya.
Merupakan hal yang jelas bahwa materi bagaimanapun bentuknya, tak memiliki kesadaran diri. Contohnya adalah patung dari batu: satu sisi tidak mengetahui keberadaan dari sisi lainnya. Sedangkan manusia dan juga hayawan dapat mengobservasi dan juga sadar akan sekelilingnya. Mereka tahu berada di mana, dan apa yang terjadi di sekitar mereka. Maka dari itu sudah pasti ada sebuah elemen dalam manusia dan juga hayawan yang melampaui materi dan terpisah darinya, hidup di luar jangkauan dunia materi.
Pada hakekatnya, manusia cenderung mencari kesempurnaan mutlak. Anda juga pasti faham, manusia akan berusaha meraih kekuasaan mutlak akan dunia ini; manusia tak tertarik sama sekali pada kekuasaan yang bersifat cacat. Bahkan jika ia telah memiliki dunia dan seisinya dalam genggaman tangannya, begitu ia tahu keberadaan dunia lain, maka secara alami dia akan merasa berhasrat memegang kekuasaan dunia itu. Tak peduli seberapa terpelajar seseorang, apabila ia mempelajari cabang-cabang ilmu baru, maka dia akan secara alami berkeinginan untuk menguasai cabang ilmu tersebut.
Maka dari itu, tentu ada suatu Kekuasaan Mutlak dan Pengetahuan Mutlak, yang mana manusia terikat padanya. Kita semua selalu mencari-cari keberedaan Tuhan, meski kita tidak menyadarinya. Manusia terus berusaha mencari Kebenaran Mutlak, dan bahkan hingga ia sendiri binasa di dalam-Nya. Pada dasarnya, gairah akan hidup abadi, yang melekat pada setiap menusia, adalah tanda adanya Dunia yang Kekal di mana kehancuran tak akan bisa menghampirinya.
Apabila Yang Mulia menghendaki informasi lebih lanjut tentang perkara ini, anda dapat memerintahkan para cendekiawan anda yang berpengalaman dalam bidang ini, sebagai referensi tambahan dari karya-karya filsuf Barat, untuk mempelajari tulisan dari para Filsuf Peripatetik Islam, seperti Al Farabi dan Ibnu Sinna, semoga Alloh melimpahkan kedamaian atas mereka. Maka akan menjadi jelas, bahwa hukum sebab akibat yang menjadi tumpuan semua ilmu pengetahuan, adalah hukum yang bersifat rasional dan bisa difahami akal fikir, bukannya hukum yang hanya bisa difahami oleh nalar. Demikian juga, persepsi akan hukum pada umumnya serta konsep yang menjadi pijakan semua pemikiran, dapat diraih bukan dengan pengalaman nalar tapi melalui argumentasi yang rasional. Para ahli-ahli anda dapat menelaah lebih jauh Ishraqi dan teosofi Suhrawardi, sehingga dapat menjelaskan pada anda bahwa darah daging, sama seperti hal-hal material lainnya, memerlukan ‘Cahaya Murni’ yang tak memiliki entitas materi, bahwa kesaksian seorang manusia akan hakikat dirinya sendiri melampaui batas-batas organ inderawi. Silahkan anda juga mengutus para ahli tersebut untuk mengakrabkan diri dengan filosofi Transendental (Hikmah Muta’aliyyah) dari Mulla Sadra atau Sadr Al Muta’aliyyin (semoga Alloh melimpahkan berkat rochmat-Nya dan membangkitkannya bersama para Nabi dan orang-orang sholeh), supaya menjadi jelas bahwa sifat alami pengetahuan berbeda dengan sifat alami dari materi dan pikiran, terpisah jauh dari materi, serta tak bisa diikat oleh hukum-hukum peraturan materi.
Saya tak akan membuat anda lebih jemu lagi dengan menyebut karya-karya para ahli Sufi lainnya, khususnya Muhyiddin Ibnu Al ‘Arobi. Jika anda menghendaki untuk mengenal lebih jauh mengenai pemikiran dari para Sufi termasyhur tersebut, kirimlah sejumlah para cendekiawan-cendekiawan cerdas anda yang berpengalaman di bidang ini ke Qum (sebuah kota di Iran—red), insya ‘Alloh, beberapa tahun kemudian mereka akan merasakan sepintas dari bertapa dalamnya tahap-tahap menuju Ma’rifat, yang tidak akan mungkin bisa mereka raih tanpa menempuh perjalanan ini.
Tuan Gorbachev,
Setelah menyampaikan perkara-perkara tersebut dan memberikan muqaddimahnya, izinkan saya mengajak anda untuk mempelajari Islam secara dengan sungguh-sungguh, bukan karena agama Islam dan para Muslim membutuhkan anda, tapi karena Islam adalah rohmatan lil ‘alamin, menebarkan nilai-nilai luhur ke seluruh penjuru dunia yang akan membawa ketentraman dan keselamatan bagi seluruh bangsa, dan menghapuskan permasalahan-permasalahan dasar umat manusia. Memahami Islam dengan sebenar-benarnya dapat selamanya membebaskan anda dari masalah-masalah di Afghanistan dan masalah sejenisnya. Kami memperlakukan semua Muslim di dunia selayaknya Muslim dari negara kami sendiri, dan selalu berbagi nasib yang sama dengan mereka.
Dengan mengabulkan kebebasan dari sebagian Republik anda, dalam hal terkait praktek-praktek keagamaan, anda telah menunjukkan bahwa anda tidak lagi menganggap agama sebagai “opium rakyat” (mengacu pada kutipan Lenin: “agama adalah opium bagi rakyat”—red). Benar saja, bagaimana mungkin Islam menjadi opium yang membuat rakyat kecanduan, ketika agama ini telah membuat rakyat Iran teguh seperti gunung dalam menghadapi adikuasa? Apakah agama yang berusaha mewujudkan keadilan di muka bumi dan membebaskan manusia dari belenggu materi dan spiritual, bisa disamakan dengan narkoba? Satu-satunya hal di mana agama bisa diibaratkan sebagai opium adalah ketika agama menyebabkan sumber daya materi dan spiritual negara-negara Islam dan non Islam masuk ke dalam genggaman negara-negara adikuasa atau negara-negara biasa, yang menyeru bahwa agama tak ada hubungannya dengan politik. Agama-agama seperti ini, bagaimanapun, tak dapat disebut sebagai agama sejati; ini yang disebut oleh orang-orang kami sebagai “agama Amerika”.
Kesimpulannya, saya mendeklarasikan secara tegas bahwa Republik Islam Iran sebagai basis Islam dunia terbesar dan terkuat, bisa dengan mudah mengisi kehampaan akan iman terhadap agama di tengah masyarakat anda. Dalam hal apapun, negara kami, sebagaimana telah berlangsung sejak dulu, menghormati negara-negara tetangga yang baik dan juga hubungan antar-negara dengan negara-negara tersebut.
Selamatlah bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk (Wassalamu ‘alaa manittaba’al huda).
Ruhulloh Al Musawi Al Khomeini,
1 Januari 1989
———————
Isi surat diambil di website al-islam.org: A Call to Divine Unity: Letter of Imam Khomeini to President Mikhail Gorbachev
Diterjemahkan oleh Sa’adatush Sho’idah, OPSHID Media Pusat
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon